Karya-karya puisinya dideklamasikan di panggung-panggung terbuka sejak tahun 1997 hingga kejatuhan Presiden Soeharto di tahun 1998 lalu. Ia juga berencana merampungkan novel terbarunya dalam beberapa minggu terakhir. Kadang ia menghadiri pameran-pameran lukisan yang digelar Joko Pekik di galeri-galeri budaya dan pusat kesenian. Pemuda asal Rangkasbitung itu bernama Andy Budiman. Usianya baru 23 tahun, dan dibesarkan di suatu perkampungan kumuh dari keluarga yang relatif miskin dan sederhana.
Selera sastranya masih dalam pengembangan, meski saat itu dia sudah membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer yang berkali-kali meraih nominasi nobel di bidang kesusastraan. Andy terbilang pemuda pendiam dan pemalu. Namun, dia percaya pada kekuatan seni, baik seni musik, seni lukis, film, terlebih pada karya puisi dan prosa. Dalam pikirannya, seakan Tuhan telah mengejawantahkan ucapan, tindakan, bahkan keindahan-Nya melalui karya sastra.
Ketika protes dan demonstrasi merebak, berduyun-duyun ribuan pemuda dan mahasiswa menyerbu gedung DPR/MPR di Jakarta, Andy sempat mengisolasi diri dalam kamar. Ia berlindung di kamar sempit rumah keluarganya dan menolak keluar. Selama dua hari ia mengurung diri, menonton siaran teve, mengamati kabar terbaru dari kekisruhan politik yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya.
Selepas hari kedua dia bergerak ke warung ATK, membeli seperangkat spidol dan kertas-kertas karton, lalu menulis dengan huruf-huruf besar: “JATUHKAN REZIM SOEHARTO, TOLAK MILITERISME ORDE BARU!”
Dia menulisnya dalam huruf kapital Roman, kemudian dijepit dengan batang bambu yang dibelah dua, lalu diikat kokoh dengan tali Pramuka. Dalam situasi yang bergelora dimabuk semangat revolusi, Andy menghiasi sisi-sisi karton dengan bunga dan daun-daun Semanggi, dengan siluet wajah Multatuti, seorang sastrawan sekaligus pejuang anti kolonialisme dan imperialisme Belanda.
Keesokan paginya, ia menggulung hasil kreasinya dengan lipatan yang rapi, memasukkannya ke dalam rangsel, dengan setengah bambu terpancang dan mencuat ke atas melebihi tinggi kepalanya. Ia menunggu kereta jurusan Rangkasbitung-Tanah Abang pada jam 05.30 dini hari. Di dalam kereta yang dijejali para pedagang dan gelandangan, ia menyusuri satu gerbong ke gerbong lainnya, berjumpa dengan beberapa pemuda yang sudah naik sejak stasiun Merak, Cilegon hingga Se rang, untuk bersama-sama menuju Jakarta dan bergabung dengan para demonstran lainnya.
Dia menyusup masuk ke tengah kerumunan yang membentur-benturkan panci dan wajan dalam perjalanan menuju Jalan Semanggi, mengambil poster yang terselip di rangsel, mengangkat tinggi-tinggi bersama puluhan pemuda lain yang juga telah mempersiapkan kain maupun karton yang bertuliskan kritik hingga caci-maki terhadap pemerintahan Orde Baru. Andy berjalan di samping seorang aktivis yang mengenakan topi dan jaket kampus perguruan tinggi, sambil membunyikan peluit wasit di sepanjang perjalanan.
Sore harinya dia ambil bagian dalam sebuah gerakan para jurnalis yang menyerukan slogan-slogan anti militerisme Orde Baru, Amerika, juga anti militerisme Israel. Ketika hari mulai gelap, sekitar Pk. 18.00 Andy sempat berkenalan dengan Farida yang memperkenalkan diri sebagai “Rida”, seorang jurnalis muda yang kemudian mengajaknya mampir ke warung untuk makan ketoprak dan minuman juice rasa melon. Rida bekerja sebagai wartawati di suatu koran yang baru didirikan oleh tim wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di daerah Utan Kayu, Jakarta.
Dia lebih muda sekitar dua tahun di bawah Andy. Setelah bincang-bincang selama beberapa menit, gadis itu begitu ramah, bicaranya jujur dan apa adanya.
Bagi Andy, Rida adalah gadis yang menyenangkan dan enak diajak bicara. Wawasannya luas, otaknya cerdas, seakan menguasai segala referensi ilmu pengetahuan, tentang perfilman, sastra, musik, filsafat, bahkan tentang sejarah Islam sekalipun.
Sambil menyantap ketoprak, Andy semakin membaca kecerdasan lawan bicaranya. Rida bukanlah tipikal wanita yang pintar mengeksploitasi sisi kelebihannya untuk memperdaya kaum lelaki. Kata-katanya disampaikan secara tulus, untuk berbagi ilmu dan wawasan di suatu era yang disebutnya “akhir zaman” ini. Pada pertemuan mereka yang pertama, Andy sempat memancing pembicaraan mengenai film “Schindler’s List”, garapan seorang sutradara berdarah Yahudi, Steven Spielberg.
***
Pertemuan berikutnya, mereka berjumpa di komplek Taman Ismail Marzuki (TIM), beberapa hari setelah Soeharto menyatakan pengunduran dirinya dari jabatan presiden selama 32 tahun. Mereka saling jumpa di ruang baca perpustakaan sastra HB Jassin. Andy lebih dulu datang di tempat itu, sedang membaca dua buku kecil karya Elie Wiesel yang berjudul “Malam” dan “Fajar”. Setelah Rida mendekat dan memastikan dia Andy, lalu ia mengambil duduk di sebelahnya, seraya bertanya pelan, “Sendirian?”
Andy agak terkesiap dan menoleh ke arahnya, “Hai, Rida?”
“Ya tepat sekali,” canda Rida, “apakah ada orang lain selain saya?”
Andy tersenyum. Rida melihat-lihat buku satu lagi yang belum sempat dia baca, sambil bergumam menyebut penulisnya, “Elie Wiesel.”
Lalu, kata Rida lagi, “Kalau enggak salah, sastrawan ini berdarah Yahudi, dan dia pernah meraih nobel perdamaian, iya kan?”
“Ya, tepat sekali,” sahut Andy. Tak habis pikir, rupanya sebagai jurnalis, Rida sudah melahap karya-karya Elie Wiesel. Lalu, pancing Andy lagi, “Boleh dong bagi-bagi ilmunya, apa kehebatan karya-karya orang Yahudi, baik dari sisi sastra maupun film. Sepertinya minggu lalu di warung ketoprak, kamu sempat membahas film Schindler’s List. Lalu, secara umum, apa pendapatmu mengenai sifat dan karakteristik bangsa Isreal yang identik dengan kaum Yahudi?”
Rida menggeser duduknya, menutup buku di tangannya, dan jelasnya, “Yahudi itu diciptakan sebagai umat yang cerdas dan pintar memprovokasi. Sepertinya, Tuhan menciptakan mereka sebagai cobaan dan ujian bagi kehidupan umat-umat lainnya.”
“Oya? Maksudnya apa, nih?” sambil meletakkan novel di atas meja, Andy pun terus mengulik pendapat Rida.
“Sejak zaman Firaun di Mesir, orang-orang Yahudi itu identik dengan bangsa Israel yang dilindungi dan diamankan oleh Nabi Musa dan Nabi Harun, untuk mengembara dan melakukan eksodus ke Yerusalem. Mereka terselamatkan dari upaya pemusnahan massal oleh pasukan Firaun. Memasuki pertengahan abad ke-20 lalu, bangsa Israel juga nyaris musnah oleh pemerintahan NAZI Hitler di Jerman. Mereka bangkit, bahkan membangun opini agar masyarakat dunia bersimpati pada mereka, lalu mengesahkan sebagian besar wilayah Palestina sebagai wilayah teritorial Israel. Mereka membangun nasion, dengan memakai bahasa Ibrani sebagai bahasa persatuan nasional mereka. Padahal, bahasa Ibrani sudah berabad-abad vakum, dan nyaris tidak ada penuturnya.”
“Bukankah Elie Wiesel juga menulis novel ini dengan menggunakan bahasa Ibrani?” tanya Andy sambil menunjuk novel “Fajar”.
“Ya, mereka menghidupkan kembali bahasa itu di wilayah sastra, budaya, ekonomi, politik, terus mereka tingkatkan sebagai bahasa yang dipakai di sekolah-sekolah dan kampus perguruan tinggi.”
“Luar biasa,” kata Andy sambil berdecak kagum.
Kemudian, lanjut Rida, “Dengan kecerdasan itu, mereka juga mampu menciptakan efek-efek visual yang canggih melalui pembuatan film, seperti Jurassic Park, Shindler’s List hingga Artificial Intelligence, seolah-olah tayangan fiksi itu nyata, sehingga jutaan orang dibikin kagum oleh gambar-gambar visual yang dipertontonkan. Seluruh dunia seakan terhipnotis oleh daya imajinasi mereka. Di situlah letak kecerdasan mereka, hingga Tuhan menggolongkan mereka sebagai umat-umat terpilih.”
“Berarti mereka layak disebut sebagai umat kekasih Tuhan?” tanya Andy lagi.
Rida menarik nafas panjang, dan sahutnya, “Belum tentu juga. Sebab, perkara kecerdasan intelektual, dengan kecerdasan spiritual adalah dua hal yang berbeda. Buktinya, Nabi Muhammad sebagai nabi akhir zaman justru dipilih bukan dari bangsa Israel, tapi dari bangsa keturunan Arab.”
“Apakah bangsa Israel ini dari keturunan Nabi Ibrahim dengan istrinya Sarah, yang kemudian punya anak bernama Ishak?”
“Ya, Nabi Muhammad juga sebagai bangsa Arab berasal dari keturunan Nabi Ibrahim dengan istri keduanya Hajar, yang kemudian punya anak bernama Ismail.”
Rida mengamit novel dan membuka-buka halamannya, dan lanjutnya lagi, “Banyak peraih nobel dari para ilmuwan maupun sastrawan yang berasal dari umat Yahudi, karena mereka adalah bangsa yang cakap dan cerdas dari sisi akademik dan intelektual. Mereka juga memiliki daya imajinasi tinggi, sebagaimana Einstein mengatakan, bahwa kekuatan imajinasi melampaui kehebatan ilmu pengetahuan.”
“Itulah yang membuat mereka merajai perfilman dunia hingga saat ini?”
“Ya, mereka memang jenius dan brillian. Misalnya, kalau kita membuka sekelumit kisah dalam film Jurassic Park. Sutradara Spielberg seakan membangun imajinasi dunia seolah-olah gerakan Hamas di Palestina diibaratkan para dinosaurus yang akan menyerang orang Yahudi sebagai homo sapiens atau manusia modern. Karena itu, adanya tembok-tembok pembatas yang menyengsarakan warga Palestina seakan menjadi pembenaran. Dia mengilustrasikan T-Rex yang jahat sebagai warga Palestina yang harus dimusnahkan. Kemudian, jauh sebelum itu, Shindler’s List juga telah meraih piala Oscar sebagai film terbaik. Betapa imajinasi dunia sanggup diarahkan agar memiliki simpati berlebih kepada bangsa Israel, bahkan secara tidak fair menyamakan warga Palestina sebagai gerakan-gerakan Nazi baru yang harus dijadikan musuh bersama. Dengan cara seperti itu, upaya perdamaian menjadi sulit diwujudkan, sementara warga Palestina, termasuk yang Kristen dan kepercayaan lainnya, terus-menerus menjadi korban keganasan Zionisme, sebagai militer-militer Israel yang menguasai teknologi dan senjata-senjata canggih.”
“Jadi, bagaimana menurutmu tentang kondisi Jalur Gaza saat ini?”
Rida menghela nafas, dan dengan pandangan menerawang melanjutkan, “Wilayah Jalur Gaza itu seakan diciptakan oleh mereka untuk memicu pertikaian, lebih tepatnya memprovokasi warga Palestina agar melakukan kesalahan kecil, sampai kemudian dibalas oleh kezaliman dan kejahatan kemanusiaan.”
“Artinya, seorang anak yang melempar batu, tidak layak dibalas dengan selongsong peluru dan kekerasan militer?”
“Ya, kurang lebih seperti itu.”
Andy menghela nafas dalam-dalam, dan dengan tatapan menerawang, ia bertanya, “Sebenarnya, sasaran apa yang ingin dicapai oleh mereka selama ini?”
“Bangsa Israel, khususnya kaum Zionisme, ingin meraih hegemoni politik dan ekonomi dunia. Sebenarnya, sejak 1717 mereka telah mendirikan organisasi Freemasonry di Inggris, yang intinya ingin memengaruhi citra dan selera masyarakat dunia pada satu kiblat peradaban. Pergerakan organisasi ini di Hindia Belanda sudah bercokol sejak tahun 1764. Setelah dua abad bertahan di tanah Nusantara, organisasi Freemasonry baru dibubarkan di masa Presiden Soekarno pada tahun 1962 lalu.”
“Apakah jejak-jejak pengaruh ajaran itu masih bertahan hingga saat ini?” pancing Andy lagi.
“Jejak-jejaknya sudah diteliti dan ditelusuri secara ilmiah, juga tempat dan lokasinya masih mudah dilacak di beberapa titik di Jakarta, Bandung hingga Surabaya. Oleh para penganutnya, ajaran Freemasonry di Indonesia disebut ‘Tarekat Mason Bebas’, yakni suatu aliran kebatinan yang berdasarkan ajaran Talmud Kabbalah yang bergerak mencita-citakan umat manusia berkiblat ke negeri Israel.”
Andy menatap mata Rida dengan seksama. Setelah menghela nafas, dia menjulurkan wajahnya ke arah Rida, seraya berbisik, “Rida, apakah yang ingin kamu sampaikan tadi, bahwa Sokerano pernah menganut aliran Tarekat Mason Bebas?”
Rida menggeleng, “Saya kira tidak. Sebab, secara religius dan spiritual, Presiden Soekarno masih dilindungi oleh walisongo dan kaum santri di negeri ini, dan beliau sendiri pernah berguru pada beberapa wali dan ulama sejak sebelum terbentuknya republik ini.”
“Lalu, bagaimana sebenarnya corak dari ajaran Tarekat Mason Bebas itu?”
Dengan pandangan menerawang, Rida melanjutkan, “Di seluruh Nusantara, khususnya di wilayah Jawa, ajaran Freemasonry diperhalus dengan istilah ‘tarekat’ yang telah menjelma suatu gerakan yang diprakarsai kecerdasan otak Yahudi, dan berangkat dari anggapan bahwa keturunan Yahudi adalah manusia terpilih kekasih Tuhan. Karenanya, semua kepercayaan dunia, termasuk Kristen dan Islam Indonesia, perlu menginduk pada ketetapan politik dan ekonomi yang diprakarsai oleh mereka. Gerakan ini pada gilirannya sehaluan dengan semangat neo-liberalisme yang mengibarkan pola dan gaya hidup hedonis dan pragmatis.”
“Jadi, apa yang ingin kamu sampaikan, sudah bisa saya tebak, bahwa 32 tahun rezim Soeharto dan Orde Baru selama ini, sebenarnya telah menganut tarekat ini, tanpa mereka sadari?”
“Boleh jadi mereka sadari, kecuali jika keluarga besar Soeharto itu seorang muslim?”
“Maksudmu?”
“Seorang muslim, dengan seorang yang berjubah muslim, tentu adalah dua hal yang berbeda,” tandas Rida lagi.
“Seperti musang berbulu domba, begitu?”
“Kurang lebih seperti itu.”
***
Andy sedang berbaring sambil merenungkan karya sastra yang sedang digarapnya. Setelah berhari-hari ia turun ke jalanan bersama para demonstran, sore itu ia baru menyadari bahwa kutu-kutu telah bersarang di rambut hingga tubuhnya yang bentol-bentol. Sebelum mandi, Andy menulis banyak catatan di buku sakunya. Terutama pemikiran terbaru yang didapatnya dari Rida selama ini. Ia beranjak mengambil karton kuning, sambil menggoreskan tulisan dengan spidol besar: TOLAK MILITERISME ORDE BARU, TOLAK MILITERISME AMERIKA DAN ISRAEL!
Frasa pertama, TOLAK MILITERISME ORDE BARU, ditulis dengan huruf-huruf besar, yang kemudian mengecil pada frasa berikutnya. Lengkungan huruf-huruf secara samar menyerupai aksara Arab, dan pada sisi karton menggambar bunga-bunga sebagai simbol perdamaian. Seusai mandi, ia pergi ke dapur sambil menyedok nasi, lauk dadar, dan sayur sop yang telah disediakan ibunya di meja makan. Seperti biasa, ia membawa piring nasinya ke kamar, menyantapnya sambil menyaksikan berita terbaru yang ditayangkan siaran televisi malam itu.
Di waktu sepertiga malam, sekitar Pk. 02.30 tiba-tiba Andy terbangun dari tidurnya. Seakan terbersit suatu ilham baru yang mengarahkannya agar mengambil naskah sastra yang hendak dirampungkannya atas pesanan penerbit selama bebera bulan terakhir.
Setelah menimbang lebih jauh pesan moral pada ending ceritanya, serta gagasan ilmiah yang didapatnya dari Rida selama ini, akhirnya ia berani berkesimpulan bahwa kebanyakan sastrawan dan karya sastra yang dihasilkan selama rezim militerisme Orde Baru, tak lain sebentuk “karya picisan” yang telah mengalami krisis intelektual yang akut.
Ketika pemikiran Andy terbentur oleh dinamika intelektual yang lebih tinggi, akhirnya ia berani memutuskan, bahwa karya-karya yang dipesan penebit untuk dirampungkan dalam minggu ini, terpaksa ia hempaskan ke keranjang sampah.
“Saya akan menulis novel terbaru saya,” tegas Andy pada penerbit keesokan harinya.
“Tapi, karyamu harus naik cetak dalam minggu ini, Andy?”
“Maaf, mulai saat ini, saya tak mau didikte penerbit manapun, kapan naskah saya harus selesai!” Dan seketika itu, ia pun menutup teleponnya. (*)
Oleh: Supadilah Iskandar
Penulis adalah Pengamat sastra milenial, menulis prosa, puisi dan esai di berbagai media nasional luring dan daring







