Oleh: Eeng Nurhaeni
Fariduddin Attar lebih dikenal sebagai sastrawan dan pujangga yang selalu memakai nama pena (inisial). Nama aslinya adalah Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim Farid al-Din Attar. Ia lahir pada tahun 1120 Masehi (524 Hijriyah) di Nishapur, bagian timur laut Persia (Iran). Nama “Attar” adalah julukan yang diberkan masyarakat, dan nampaknya cocok untuk mengidentikkan dirinya sebagai petualang sufi yang melakukan pengembaraan di berbagai daerah.
Sayangnya, sedikit sekali penulis yang mengetahui latar belakang bografinya secara utuh. Seringkali karya-karyanya hanya dicantumkan nama “Fariduddin Attar” tanpa disertai kejelasan biodata maupun riwayat hidupnya. Ia begitu terampil menulis karya sastra hingga usia senja, bahkan banyak pendapat yang menyatakan usianya melebihi 100 tahun. Ada juga pendapat yang menyatakan usianya hingga mencapai 110 tahun, dan wafat pada tahun 1230 Masehi.
Sekelumit kisah hidupnya dinilai banyak kalangan amat legendaris, karena karya-karyanya sangat tajam dengan nuansa filosofis yang universal. Di usia mudanya ia banyak mempelajari hadits dan tafsir Alquran, sastra Arab, filsafat, astornomi hingga kedokeran. Ketika Dinasti Saljuk mendukung pengembangan sastra, baik prosa maupun puisi, bahkan juga mistisisme Persia, Attar muda sangat berminat untuk mendalami bidang kesusastraan.
Konon, minatnya di dunia tasawuf ketika ia menyaksikan seorang pengemis tua yang diusir oleh seorang pemilik toko roti. Pengemis tua itu tiba-tiba jatuh terkulai di hadapannya hingga menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sejak peristiwa itu, ia bertekad mencari guru sufi (mursyid), sampai kemudian berjumpa dengan Syekh Abu Said al-Khair dan Syekh Buknaddin. Di bawah bimbingan keduanya, ia menggeluti buku-buku tasawuf yang pernah ditulis oleh Muhammad Jafar bin al-Khuldi (Hikayat al-Masyayikh), Abu Nasr al-Sarraj (al-Luma), Al-Hujwiri (Kasyful Mahjub), hingga Abu Qasim al-Qusyairi (Risalah al-Qusyairiyah).
Untuk memenuhi rasa hausnya akan ilmu sufistik, ia pun mencari literatur tasawuf di berbagai daerah, menyusuri perjalanan panjang dari Persia menuju Mesir, Damaskus, Mekah, Madinah, Turki hingga India. Konon, perjalanan mencari buku-buku itu telah ditempuhnya sepanjang 30 tahun. Setelah matang, ia kembali ke kampung halamannya (Nishapur) hingga akhir hayatnya.
Beberapa ahli sejarah menyatakan, bahwa Attar pernah menggendong Jalaluddin Rumi sewaktu ia masih balita, ketika ayahnya berpindah dari Balkh ke Nishapur (609 Hijriyah). Ia pun pernah meramalkan masa depan Rumi yang dinilainya akan menduduki posisi penting di dunia sufistik. Di usia senjanya, ia sempat dikunjungi Rumi ketika ia beranjak remaja, kemudian menghadiahkan buku bacaan khusus perihal ilmu tasawuf. Terkait dengan ini, Rumi bahkan pernah berkata dengan penuh kerendahan hati: “Fariduddin Attar telah mengembara dan mengarungi tujuh kota cinta, sedangkan saya hanya menempuh satu jalan saja.”
Sastra dan kesembuhan
Ketika berpraktek di dunia kedokteran, Attar dikenal piawai dalam menghibur pasiennya untuk memacu adrenalin serta gairah hidupnya. Untuk itu, popularitas Attar cukup melejit di tengah masyarakat lantaran kepandaiannya bercerita dan menghibur para pasien saat berobat. Di sela-sela waktu senggangnya, ia manfaatkan untuk menulis prosa maupun puisi, tak terkecuali kisah dan riwayat hidup sang maestro sufi dari kota Balkh, yakni Syekh Ibrahim bin Adham.
Menurut Idris Shah, tidak kurang dari 114 buku telah ditulis Attar dalam sepanjang sejarah hidupnya. Untuk tulisan sastra, baik prosa maupun puisi-puisinya, Idris Shah menyatakan tidak kurang dari 200.000 karya sastra telah diluncurkan melalui buah penanya. Di antara buku-bukunya yang terkenal adalah Divine Nameh (Buku Ilahi), Mantiq at-Thayr (Musyawarah Burung) hingga Tadzkiratul Awliya (Guyonan Para Wali). Bukunya yang berjudul “Mushibat Nameh” bercerita tentang kisah seorang sufi yang menempuh jalan makrifat serta mencari kebenaran yang absolut. Sementara, dalam karya uniknya yang berjudul “Asrar Nameh” ia bertutur dalam bentuk prosa atau cerita pendek. Bagi Attar, penulisan cerpen sangat bermanfaat bagi situasi dan kondisi moral pembaca, hingga membawa mereka pada peningkatan spiritual dengan baik dan matang.
Demikian halnya dengan “Manthiq at-Thayr” yang bercerita tentang pertemuan burung-burung dari berbagai penjuru, yang merupakan simbol dari bersatunya peradaban dunia, yang kemudian terbang bersama-sama menuju kerajaan Sang Burung yang sejati (Allah). Tokoh utamanya adalah seekor burung bernama “Attar” yang merindukan dirinya bersatu dengan tubuh dan jiwa-jiwa para burung lainnya di seluruh dunia. Hingga kemudian, hasrat untuk berjumpa didapatnya ketika mereka bersama-sama terbang menuju Kebenaran Ilahiyah.
Banyak kalangan menilai buku sastra tersebut sangat baik bagi proses ketenangan dan ketentraman jiwa manusia. Pada kebanyakan sufi memang percaya bahwa jiwa manusia memiliki dua sayap, dan ketika sang jiwa mendambakan Tuhan dan dirinya sendiri, maka pikiran dan cintanya secara tidak langsung membawanya ke dalam perjalanan menuju Tuhan.
Fariduddin Attar menampilkan berbagai rupa dan bentuk burung dengan karakteristiknya masing-masing. Mereka berpikir bahkan bergerak dengan cara yang berbeda-beda. Sifat dan kecendrungan mereka dapat terlihat pada disparitas antar burung. Perbedaan itu didasarkan pada semua kecenderungan ego dan hasrat manusia, yang pada akhirnya merindukan untuk bermuara mencapai kebenaran sejati. Seekor burung bernama “hudhud” memandu perjalanan Attar, sebagai simbol guru (mursyid) yang mengantarkannya kepada tingkat makrifat yang lebih tinggi.
Kisah pencarian burung, bagi Attar merupakan metafora sebagai jiwa-jiwa manusia yang terbang ke angkasa raya untuk mencapai alam yang hakiki. Puncak gunung raksasa (simurgh) diibaratkan sebagai puncak kerajaan yang terus mencapai ketinggian (qaf), yang mencerminkan kesadaran dan spiritual manusia yang tertinggi.
Simurgh bukan semata-mata lembah, melainkan sebuah gunung raksasa yang menyerupai alam manusia, dengan puncaknya yang tinggi dan megah. Dengan demikian, kisah pencarian burung menjadi metafora bagi jiwa manusia untuk terbang mencari alam yang hakiki. Lembah, bukit dan puncak gunung adalah media interaksi antara manusia dengan Tuhan, di kedalaman lubuk hatinya, bahwa keberadaan Tuhan tak lain merupakan bagian dari identitas kmanusiaannya sendiri.
Beragam tantangan dan pengalaman dihadapi jiwa-jiwa manusia dengan mengarungi tujuh tahapan lembah, dan dalam setiap lembah memiliki ujian dan tantangannya tersendiri. Hal tersebut merupakan simbol, bahwa pada setiap jiwa akan menempuh ujian yang berbeda dalam setiap lembah, karena masing-masing individu punya potensi kelebihan sekaligus kekurangannya tersendiri.
Universalitas tasawuf
Pada prinsipnya, jalan menuju Tuhan didasarkan pada pengetahuan batin yang diperoleh melalui pintu hati yang paling dalam. Tidak jarang manusia terjebak di lembah pengetahuan yang bersifat konvensional, seperti nalar-nalar yang terlampau rasional dan ilmiah.
Padahal, perjalanan ilmu-ilmu kerohanian harus ditempuh dengan berlapis-lapis riyadlah dan mujahadah. Menurut Attar, pengetahuan rasional dan ilmiah bukannya tidak penting, tetapi justru dapat membantu proses percepatan untuk dapat menangkap pesan-psan ilahiyah. Dalam karyanya “Asrar Nameh”, Attar justru menekankan pentingnya tarekat dan syariat, yang berasas pada penelitian ilmu yang berlandaskan akal pikiran untuk menerjemahkan keimanan dengan sebaik-baiknya. Dalam posisi ini, Attar mengingatkan bahwa penampakan seorang sufi kepada Tuhan tidak berbentuk Hulul sebagaimana konsep Al-Hallaj. Karena menurutnya, manusia adalah makhluk sosial yang saling mengisi dan memengaruhi, demi untuk memperkaya khazanah keilmuan yang membahagiakan.
Dalam buku “Tadzkiratul Awliya” tergambar jelas karakteristik manusia yanag beragam, sebagai simbol kearifan lokal (local wisdom) termasuk jalan yang ditempuh sufi di berbagai belahan dunia. Untuk menulis buku tersebut, Attar mengakui dirinya telah diilhami oleh sekitar 710 bacaan tentang pengalaman sufistik.
Dari semua jalan yang ditempuh, menurut Attar, maqam “Mahabbah” (cinta murni) tergolong stasiun paling aman dan mudah untuk ditempuh. Bagaikan seekor kupu-kupu yang terbang di malam hari dalam terang api, hingga terbakar oleh dorongan cinta sejati. Demikian pula perjalanan spiritual yang berat harus dikobarkan dan dinyalakan oleh nyala api cinta yang berkobar, tanpa mengenal kata padam.
Ada banyak tanda dan sinyal ilahiyah di sekitar kehidupan manusia, jika manusia mampu menangkapnya. Akan tetapi, kebanyakan manusia lalai dan lupa diri, hingga kemudian tanda-tanda dan sinyal itu memudar dan menghilang. Kelemahan mental karena stres, ketidaktaatan, dan semua faktor yang menyebabkan manusia berpuas diri, akan dapat menghapus jejak kasih dan karunia Tuhan.
Itulah yang membuat pentingnya seorang guru (mursyid) yang dapat menunjukkan jalan riyadah dan mujahadah untuk mencapai kemurnian spiritual, serta membuat jiwa manusia akan mudah terkoneksi dengan pesan-pesan ilahiyah. ***
Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, Lebak, Banten







