Jin Salmah

oleh -870 Dilihat
A4 vector banner on the theme of satanism, black magic and witchcraft with bird crow feathers and satanic pentagram, human skull with horns and roots in the folk shaman style
banner 468x60

Mungkin dia sebangsa jin. Seorang ustaz di pengajian pernah menyebutnya sebagai “Jin Salmah”, sejenis jin muslimah yang banyak membantu dan menolong kehidupan dalam rumah-tangga. Tapi apa pun namanya, sepertinya makhluk itu pintar menemukan barang yang hilang, kemudian menaruhnya di atas meja. Dan sesekali, ia juga mengisi air galon yang sudah kosong, bahkan mengisi beras di pendaringan hingga penuh kembali.

Jin Salmah mampu menampakkan diri dalam wujud manusia. Di rumah saya, ia menyerupai seorang gadis muda yang usianya sekitar tigabelas atau empatbelas tahun. Mungkin hanya selisih satu tahun di atas saya. Rambutnya hitam agak kemerahan, serta panjang terurai seperti rambut saya. Wajahnya putih dan cerah, agak oval dengan dagu yang lancip. Ia mengenakan kaos sweater, dan rok berwarna biru. Ayah dan Ibu hanya terdiam sambil tersenyum ketika Salmah keluar dari kamar saya, untuk bergabung bersama kami di meja makan. Ada empat kursi yang mengitari meja makan, dan Salmah selalu mengambil posisi di kursi paling pojok, menyender pada tembok dapur.

“Piring, Bu,” bisik Ayah dengan mata mendelik, “dia sudah duduk bersama kita, ambilkan piring.”

“Ya, saya tahu, Pak,” Ibu melangkah menuju rak, lalu mengambil piring dan sendok, kemudian menciduk nasi berikut sayur, ditambah lauk telor dadar di atasnya.

Pelan-pelan Ibu meletakkan piring di depan Salmah. Jin perempuan itu mengangguk tanda terima kasih, tanpa mengangkat wajah, kemudian menyodokkan nasi ke mulutnya seperti belum makan sejak pagi dan berpuasa seharian.

Ia terus saja makan menghabiskan sepiring nasi, seakan tanpa mempedulikan keberadaan kami yang sejak tadi memerhatikan ulahnya. Kami membiarkan dia makan duluan, dan hanya memandangi piring-piring kosong di hadapan kami. Ayah hanya senyum-senyum, ketika melihat jin itu menyeruput kuah sayur sop yang tersisa, lalu meletakkan sendok di atas piring dalam posisi terbalik. Setelah itu, kepalanya sedikit mengangguk, dan ia bergegas kembali bersembunyi di pojokan kamar saya.

“Ira, kamu lihat sendiri, kan, dia memakai rok yang panjang sampai ke bawah lutut?” seloroh Ibu, “dan dia juga makan sampai habis, tak tersisa sedikit pun, bahkan sendoknya ditaruh terbalik menandakan dia berperilaku sopan kepada kita.”

“Tentu saja, dia itu kan sebangsa jin, Bu, dan dia harus hormat sama kita, karena datang ke rumah ini tanpa ada yang ngundang?” celetuk saya. “Tapi ngomong-ngomong, apa betul dia itu jin Islam?”

“Ya, mudah-mudahan,” jawab Ayah, “seperti yang dinyatakan Pak Ustaz di teve-teve itu. Namanya Salmah, dan dia banyak menolong dan membantu kita di sini…”

“Mungkin sejenis Malaikat Rahmat, ya?” tanya saya lagi.

“Huss, kalau malaikat terbuat dari cahaya. Sedangkan jin terbuat dari api, tetapi setelah Nabi Muhammad diutus ke muka bumi ini, banyak di antara jin-jin itu yang memeluk Islam. Barangkali, di antara keturunan mereka adalah Salmah di rumah kita ini.”

“Mudah-mudahan kehadirannya di rumah ini bisa membawa keberuntungan,” bisik Ibu. “Tentu saja bukan tanpa sebab dia memilih rumah kita sebagai tempat tinggalnya.”

***

Sejak beberapa minggu terakhir memang banyak kejadian-kejadian kecil yang di luar nalar dan akal sehat. Ketika Ibu mencari-cari sisir di sekitar ruang tamu dan ruang teve, tiba-tiba sisir miliknya ditemukan bersama sendok-sendok di atas rak. Padahal, dia merasa tak pernah menyatukan sisir dengan sendok di atas rak dapur. Ketika Ibu pulang dari pengajian, dan lupa menyiram bunga di pot-pot depan rumah, tiba-tiba dia melihat tanah-tanahnya sudah basah seperti habis disiram, bahkan daun-daunnya juga basah, padahal sama sekali tak ada hujan. Yang paling membuat Ibu terheran-heran, lensa kacamatanya yang sebelah kiri tadinya retak karena pernah terjatuh. Dalam minggu terakhir ini, kok tiba-tiba normal kembali dan retaknya hilang seketika.

Begitu pun dengan saya yang tiba-tiba menemukan bolpoin kesayangan saya, yang tahu-tahu nongol dengan sendirinya di dalam kotak meja, padahal sudah dua bulan benda itu menghilang. Kadang juga lampu belajar, tiba-tiba menyala di atas meja, lalu saya periksa ponsel yang menunjukkan Pk. 05.00 pagi, seakan memerintahkan saya agar segera bangun, dan banyak lagi keanehan-keanehan lainnya.

            Diawali dari suatu tengah malam, ketika saya mendengar kucing hitam mengeong-ngeong di luar jendela. Terdengar suara tawa terkekeh-kekeh di samping hordeng jendela. Saya menoleh ke arah munculnya suara, tapi tidak ada siapa-siapa. Namun, suara tawa itu masih terdengar, dan ternyata dari arah lemari di samping meja belajar saya. Kontan saya terkesiap kaget, dan seketika menjerit-jerit histeris, ketika melihat sosok perempuan muda sedang meringkuk di bawah lemari. Ia kemudian bangkit dan berdiri di pojok, sambil menaruh telunjuk ke mulut seolah menyuruh saya agar jangan berteriak.

Ibu dan ayah segera datang dan menyalakan lampu. Kontan mereka bertanya-tanya, ada apa. Mereka tampaknya mengira saya hanya bermimpi. Dalam keadaan sinar lampu yang terang, jin perempuan itu tak bergeming. Rambutnya panjang terurai hingga bahu. Saya mendekap dan bersender di pundak Ibu, sambil menunjuk ke arah lemari. Namun, kedua orang tua saya tak melihat siapa pun. Mereka pun merasa kesal, dan kembali mematikan lampu, menyuruh saya diam dan tidur kembali.

            Seminggu setelah kejadian itu, kedua orang tua saya baru percaya adanya makhluk gaib di dalam rumah.

Pada suatu malam, saya setengah terjaga, lalu melihat jin perempuan itu melangkah pelan-pelan memasuki kamar orang tua saya, dan seketika melompat-lompat di dada Ayah. Ibu merasa kaget ketika memeriksa nafas Ayah tersengal-sengal tak seperti biasanya. Dua malam berikutnya Ibu menebarkan tepung terigu di sekitar lantai, dan paginya dia mengamati seluruh lantai kamar, lalu tiba-tiba matanya melotot terperangah, “Ada hantu di rumah kita, Pak.”

“Saya kira bukan hantu, tetapi sebangsa jin,” kata Ayah mengira-ngira dengan tatapan menerawang.

“Ya, seperti makhluk halus atau makhluk gaib?”

“Kalaupun ada jin, tapi menurut Ayah, itu adalah jin muslim… dan dia enggak akan mengganggu kita.”

“Tapi buktinya, minggu lalu Irawaty menjerit-jerit?”

“Mungkin karena dia ketakutan, tapi bukan berarti disakiti oleh jin muslim itu.”

Suatu pagi, saat menyaksikan acara kuliah subuh di layar teve, tanpa disengaja mereka menyaksikan seorang ustaz yang membahas adanya jin Islam yang berkeliaran di dalam rumah. Jika dia laki-laki bernama Salim, tetapi kalau perempuan, berarti Salmah. Akhirnya, kedua orang tua kami sepakat memberi nama jin perempuan di rumah kami sebagai “Jin Salmah”.

Beberapa bulan setelah kami percaya adanya makhluk halus yang memberi keberuntungan, tiba-tiba ayah mendapat bonus di kantornya dan seketika membelikan saya skuter listrik. Ibu membenahi halaman rumah dengan pot-pot bunga dan kaktus berharga mahal. Ayah sendiri sudah mengganti mobilnya dari Avanza menjadi Pajero. Kini, ia dipromosikan untuk menggantikan bos perusahaannya yang beberapa tahun lagi akan menjalani masa pensiun.

***

Percaya dan bergantung pada Salmah sebagai makhluk jin, adalah perkara serius dalam kehidupan masa depan keluarga kami. Ketika saya masuk kuliah pada jurusan Filsafat, kemudian mendalami masalah metafisika dan ma’rifatullah, entah mengapa tiba-tiba sosok Salmah semakin memudar dan hilang dari pandangan mata saya. Tetapi, bagi Ayah dan Ibu, sepertinya semakin nyaman untuk bergantung kepada makhluk aneh itu.

Bagi mereka, diam-diam Salmah dianggap dapat memenuhi hajat dan keinginan mereka. Setelah dipromosikan di perusahaannya, Ayah berhasil menggantikan posisi bosnya yang kini sudah pensiun. Ibu juga berhasil membeli sepetak kebun milik tetangga untuk ditanami pohon-pohon bunga dan berbagai jenis kaktus, yang kemudian berhasil dijual kepada istri-istri dari para kolega ayah saya.

Dengan demikian, Ibu sibuk berbisnis bunga dan pohon hias, hingga ia bersaing dengan Ayah dalam kepemilikan untuk membeli barang-barang mewah kesukaan mereka.

Kini, Ayah tidak lagi melakukan ibadah malam, sementara Ibu juga telah keluar dari grup pengajian, dan jarang mendengar wejangan ilmu-ilmu agama yang diajarkan seorang kiai sepuh tiap malam Jumat. Mereka tampak serius, dan jarang tersenyum di hadapan saya. Tetapi, kadang salah satu di antara mereka bicara dan tersenyum sendiri, yang barangkali ditujukan kepada Jin Salmah yang dicintainya.

          Lambat laun, mulut Ibu semakin bawel dan sering marah-marah tak keruan, karena suatu masalah sepele yang di luar nalar dan akal sehat. Sementara, Ayah juga sering bertengkar sengit dengan Ibu, terutama setelah menabrakkan mobil Pajero milik Ayah, ke rumah seorang pengacara, yang kemudian menuntut ganti-rugi milyaran rupiah karena seorang anaknya yang terluka dan cacat.

Dalam tahun-tahun terakhir, pertengkaran sering terjadi di antara mereka, yang dipicu oleh hal-hal kecil dan sepele, karena keduanya semakin keras kepala, dan ingin menang sendiri.

Ketika mengakhiri masa kuliah dan mulai menyusun skripsi, saya memutuskan untuk tinggal di tempat kost, dan jarang pulang ke rumah. Saya mengumpulkan modal yang cukup untuk mulai berjualan secara online. Sesekali saya pulang ke rumah untuk membantu kedua orang tua saya, terutama setelah perusahaan Ayah mengalami kebangkrutan di masa pandemi Covid pada 2021 lalu.

Sedangkan Ibu, juga telah gagal melanjutkan usahanya, karena pepohonan dan bunga-bunga di sekitar kebunnya semakin layu dan mengering dari waktu ke waktu.

“Apakah dia masih ada di sini?” suatu pagi saya menjenguk mereka, serta menanyakan kabar tentang Jin Salmah.

Sambil menggeleng, Ibu berkata pelan, “Dia sudah pergi beberapa bulan yang lalu.”

“Kenapa?” tanya saya lagi.

Ibu terdiam dalam waktu yang cukup lama, lalu ia pun angkat suara, “Sepertinya Salmah marah kerena kami tidak mempedulikannya lagi.”

“Apakah Ibu masih memberinya makan?”

Ibu terdiam kaku dan menarik nafas panjang, lalu menengadah, “Ibu terlalu sering membuang-buang makanan, hingga seringkali makanan itu membusuk di atas meja.”

“Lebih baik Ibu berikan makanan itu untuk yang membutuhkan, seperti para tetangga kita, atau anak-anak yayasan yatim piatu di kecamatan kita ini.” Ia pun tak menanggapi dan hanya membisu, kemudian lanjut saya lagi, “Apakah Ibu masih percaya dengan kesaktian Salmah itu?”

“Dulu Ibu percaya bahwa dia dapat menolong dan memenuhi setiap hajat dan keinginan Ibu… termasuk juga ayah kamu… tetapi sekarang kami sudah menyadari, bahwa percaya pada kekuatan makhluk, berarti telah menduakan Tuhan, dan kami telah melakukan kesalahan karena mensyukuri nikmat-Nya. Padahal, yang patut disyukuri adalah Dia Yang Memberi nikmat itu sendiri… sedangkan Salmah, hanyalah makhluk ciptaan Tuhan, seperti halnya kita semua…”

Seketika itu, Ayah keluar dari balik pintu kamar, dan menyahut, “Ya, tak ada kekuatan yang dapat menolong kita selain dengan izin Allah… tetapi selama ini, kami mengira bahwa Salmah-lah yang menolong dan membantu Ayah. Padahal, dia sendiri makhluk lemah yang membutuhkan pertolongan dari Allah Sang Maha Pencipta.”

Apa yang disampaikan Ayah dan Ibu, mengingatkan saya pada pernyataan seorang penulis buku Pikiran Orang Indonesia saat menghadiri acara peluncuran buku tersebut. Bahwatak ada gunanya kita berdoa agar minta diberi kekayaan duniawi. Karena dengan demikian, kita akan dihadapkan pada beban pengeluaran yang menimbun, sampai-sampai kita tidak sanggup membiayainya. Tetapi, mintalah agar diberi kecukupan, karena dengan itu kita tidak akan dibebani oleh banyak keinginan, hingga dapat mensyukuri apa yang ada.

Sama halnya ketika manusia meminta kesaktian dan kedudukan tinggi dalam kekuasaan. Karena setelah itu, Tuhan akan membebani manusia dengan urusan-urusan yang semakin menimbun, sampai-sampai dia takkan sanggup memikul beban yang teramat berat di pundaknya.

“Akan tetapi, mintalah agar Tuhan memberikan kesabaran dan rasa kasih sayang,” ujar penulis buku tersebut, “karena dengan itu, segala persoalan yang diberikan Tuhan, akan terasa ringan di pundak kita.” (*)

Oleh: Irawaty Nusa

Penulis adalah Peneliti dan penggiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa), juga aktif menulis prosa dan esai di berbagai media nasional, luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.