Barangkali kejadian ini memang takdir yang sudah digariskan dalam perjalanan hidup saya. Kadang saya dihinggapi perasaan jenuh dan bosan dalam tugas-tugas keseharian sebagai aparat. Terlebih jika harus berpatroli di malam hari menuju wilayah barat hingga pelabuhan Merak, Kota Cilegon. Kadang saya berusaha menahan diri untuk terus menekuni pekerjaan dan tugas-tugas yang diemban. Tetapi, entah kenapa, malam itu saya merasa tergoda untuk menuruti kemauan dua orang perempuan yang mengajak menaiki bukit Cipala, dalam pendakian yang memakan waktu hanya beberapa puluh menit saja.
Keduanya berbahasa Jawa yang agak medok. Mereka mengaku sebagai pendatang dari daerah Tegal dan Indramayu. Yang satu berambut pirang dan panjang hingga bahu, satunya lagi lebih muda sepantaran saya (34 tahun) berambut pendek seperti potongan rambut laki-laki.
Kedua perempuan itu memelihara seekor kucing belang bernama Molly, disimpan di serambi rumah mereka yang telah disediakan kandang besar yang terbuat dari kawat besi. Mereka tinggal dalam satu rumah yang agak sempit dan sumpek, dengan tiga kamar tidur. Yang satu agak menjorok ke kanan dalam bentuk leter L, dan di situlah saya diperintahkan mereka untuk tinggal selama beberapa minggu, agar menjaga mereka yang konon merasa terancam dari gangguan lelaki jahat berbadan gendut, yang mereka sebut sebagai “Si Batak”.
Si rambut panjang memberi tahu saya tentang adanya minimarket sekitar seratus meter jaraknya ke arah utara. Sementara si rambut pendek di sampingnya menyodorkan sebuah pancing dan umpannya dalam plastik, kalau-kalau saya menghabiskan waktu sore untuk memancing di sekitar pelabuhan yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dalam jarak tigaratus meter ke arah barat.
Saya tidak pernah menggunakan pancing itu, karena tak begitu suka memancing. Saya nyatakan pada mereka bahwa dalam beberpa hari ke depan akan terus menjaga mereka dari gangguan si Batak gendut yang konon sering menyatroni mereka di tengah malam. Kata mereka, orang Batak itu sering mengendap-endap di sekeliling rumah, dengan maksud membunuh dan menghabisi mereka berdua. Ketika saya tanyakan motifnya apa, mereka hanya terdiam membisu, seakan membiarkan persoalan itu menggantung, atau membiarkan agar saya mencari tahu sendiri jawabannya.
Dari luar, tampak jendela-jendela di sisi kiri dan kanan, memberi kesan bahwa rumah itu memiliki dua lantai, tapi sebenarnya hanya satu lantai berundak meninggi yang disangga dengan beberapa tiang beton. Di dalam, terutama di ruang tamu dan dua kamar tidur, menampakkan jendela-jendela senyap yang menghasilkan efek menyenangkan, sekaligus membikin pusing dengan aroma minyak wangi murahan dengan bau yang menyengat.
Perempuan berambut panjang terbiasa menonton sinetron Indonesia di layar teve, sementara si rambut pendek senang membaca majalah di kursi yang terletak di dekat jendela, sambil berbincang-bincang dengan Molly kucing piaraannya. Di bagian belakang terdapat dapur yang cukup luas, dan di situlah kami memakainya bersama-sama. Mereka menyediakan saya makan siang dan malam, tetapi di waktu yang agak larut, di saat saya menjaga mereka sambil duduk-duduk di serambi rumah, kadang saya pergi ke dapur untuk memasak mie instan dengan kompor gas yang disediakan oleh mereka. Kadang saya juga pergi ke warung masakan Padang, atau menyantap bubur kacang ijo dan roti bakar dari warung kecil yang tetap buka hingga larut malam.
***
Suatu hari sekitar Pk. 07.00 pagi, mereka mengabarkan pada saya bahwa Molly, kucing piaraan mereka tiba-tiba menghilang. Segera saya keluar rumah untuk mencari Molly. Beberapa hari lalu, saya pernah mencarinya dengan senter, di sekitar kayu-kayu yang menumpuk di rumah tetangga untuk merehab rumah. Tapi kali ini, kucing itu nampaknya sulit diketemukan. Ketika saya kembali, kedua perempuan itu menatap dengan sinis dan mata melotot, seakan merasa berhak memarahi dan menuduh saya tak becus. Jangankan menjaga mereka dari sergapan si Batak pembunuh, wong menjaga seekor kucing piaraan saja sudah enggak becus. Saya nyatakan pada mereka dengan suara mengiba, bahwa cepat atau lambat, mudah-mudahan kucing itu akan kembali ke pangkuan mereka.
Tak berapa lama, kedua perempuan itu tiba-tiba menyebut nama orang Batak itu: Bonar. Tapi, sejak awal mereka telah memanggilnya si Batak jahat. Saya tidak mempercayainya, meskipun saya terpancing untuk terus mendengar apa-apa yang mereka gunjingkan.
Pada malam Jumat, si rambut pendek mengetuk pintu kamar tetapi saya membiarkan lampu tak menyala. Dalam keadaan setengah sadar saya kembali ke tempat tidur. Ketika saya terbangun di waktu pagi, matahari sudah bersinar menembus tingkapan celah jendela. Dan saya tidak lagi menemukan perempuan itu di samping tempat tidur.
Keesokannya saya memutuskan turun dari bukit Cipala, mendatangi pasar Pulomerak untuk menemui Bonar si Batak, laki-laki yang mereka takuti selama ini. Saya meminjam motor matik milik mereka, menyuruh mereka untuk menutup diri di rumah dan tidak bergerak sampai saya kembali. Tepat sebelum sampai di pasar, saya melihat Molly di halaman pabrik pengalengan tua. Kucing itu mendekati saya, tampak malu-malu sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Ia begitu penurut ketika saya mengambilnya, serta menaruhnya di bagian depan motor. Saya tersenyum membawa Molly, seakan menertawakan diri sendiri, betapa takutnya saya dituduh “polisi enggak becus” oleh kedua perempuan yang meminta bantuan saya itu.
Saya berputer haluan setelah menyerahkan Molly, kemudian kembali lagi menuju pasar untuk menemui Bonar si Batak jahat. Ketika saya mendapatkan alamat yang tepat, ternyata Bonar itu memiliki sebuah ruko besar yang menjual sembako dan peralatan rumah-tangga. Ruko itu memanjang ke belakang, dengan lantai dua yang dipakai sebagai tempat tinggal yang nyaman, menghadap langsung ke pantai Pulomerak. Selama beberapa waktu saya hanya melihat-lihat barang yang terjejer di etalase kaca. Lelaki Batak itu berbadan gemuk dan pendek, usianya sepantaran dengan saya. Mungkin hanya selisih beberapa tahun di bawah saya.
Potongan rambutnya cepak dan pendek. Ia sedang membaca sesuatu di layar ponselnya di balik meja kasir. Dia memakai celana katun dan kaos berkerah. Rumah tokonya itu tentu sudah lama menjalankan bisnis yang baik, tempatnya strategis, disertai barang-barang dagangan yang tertata rapi. Di sebelah meja kasir dilengkapi pula dengan berbagai peralatan memancing, serta makanan dan cemilan anak-anak.
Ketika saya melintasi pintu samping, saya baru tahu kalau Bonar juga memiliki kucing piaraan berjenis Angora yang sedang mengais-ngais rantang makanannya. Saya sendiri tak mengerti binatang piaraan, bahkan ketika suatu hari menemukan Molly sedang mengejar-ngejar kucing lainnya di pabrik pengalengan. Entahlah, barangkali saat itu Molly merasa tertarik dan sedang bercumbu dengan kucing itu, ataukah hanya sekadar bercanda dan bermain-main sesama makhluk hewan yang berjenis sama dalam satu habitat.
Beberapa pelanggan masuk ruko dan Bonar segera melayaninya. Tiba-tiba lelaki gemuk itu bersiul memanggil kucingnya. Saya meliriknya sedang menjongokkan kepala di bawah meja seperti menyodorkan sesuatu untuk binatang piaraannya itu. Saya masih melihat-lihat rak kaca yang memajang beragam peralatan rumah-tangga. Kemudian, saya dengar beberapa kalimat yang keluar dari mulut Bonar, seakan ditujukan pada binatang kesayangannya: “Jangan main ke atas Cipala lagi, ya? Nanti kalau hilang dan kesasar, mau makan apa? Jangan sampai makan tikus lagi… di sini kamu enggak bakal makan tikus, ngerti?”
***
Malam hari, saya berbincang-bincang santai dengan kedua wanita itu. Si rambut panjang mengatakan bahwa dulunya pernah kerja pada seorang majikan yang pelit, kemudian pindah menjadi pelayan di toko Cina. Kemudian, si rambut pendek mengaku pernah mengajar di sekolah TK, lalu diberhentikan dan pindah sebagai binatu. Ia juga mengatakan pernah mengurus anak-anak kecil, lalu saya menimpali bahwa anak-anak memang perlu diawasi dan diperhatikan setiap saat. Kedua perempuan itu menatap mata saya tanda setuju, lalu mereka tersenyum dan mengatakan menyesal telah menyinggung soal anak-anak itu.
Pikiran saya melayang ke mana-mana, terutama ketika mereka menyatakan ketidaksukaannya pada orang Sunda dan Batak. Mereka menyatakan bahwa tanah Pulomerak yang didiami ini dulunya bekas tanah Pasundan, yang kini telah bercampur-baur dengan suku-suku lainnya. Dan tidak menutup kemungkinan orang-orang Sunda merasa dendam dan ingin merebut kembali tanah yang telah dihuni oleh mayoritas orang Jawa.
Saya undur diri ketika perbincangan memasuki soal Jakarta sebagai kota besar, lalu mereka bermimpi seandainya memiliki rumah megah di ibukota, serta menjalankan bisnis di kota metropol itu. Mereka mengandai-andai bertetangga dengan para artis dan selebritas yang sering nongol pada acara infotainment di layar teve. Saya keluar rumah, melangkah menuju warung untuk berbaur menyantap mie ayam bersama pelanggan yang tak mempedulikan dari mana asal-usul suku maupun agama mereka.
Sepulang dari warung mie ayam, suasana sudah gelap setelah bunyi azan isya. Mungkin sekitar Pk. 17.30 WIB. Kami bertiga lalu menonton sinetron di ruang depan. Tiba-tiba tenggorokan saya tercekat ketika si rambut pendek bersejingkat dari tempat duduknya. Si rambut panjang ikut berdiri dengan mata melotot ke arah luar jendela, sambil telunjuk ke bibir memberi isyarat, Ssst!
Ia menyuruh saya diam. Saya merasa ada sesuatu yang janggal dan mulai bergerak diam-diam menuju jendela. Saya menangkap kedua bola mata perempuan itu seakan memberi perintah agar segera mengambil tindakan.
Saya menarik tirai jendela pelan-pelan, menepi ke sisi tembok setelah melihat kepala Bonar si Batak jahat mnyembul di luar jendela. Rasa takut dan panik itu cepat menjalar dan menular, membuat bulu kuduk merinding. Tak ada pilihan untuk berlari kabur keluar rumah. Di mana letak ego dan harga diri saya sebagai petugas aparat, jika harus menyerah pada seorang bajingan pembunuh macam Bonar? Kedua perempuan itu berlari-lari mengelilingi rumah. Segera saya mengambil tongkat pemukul yang jauh-jauh hari dipersiapkan di ruang belakang.
Dua putaran Bonar seakan mencari jalan masuk. Ia mencoba menemukan sebuah pintu yang terbuka, sementara saya dan kedua perempuan berkeliling memeriksa pintu dan menutup jendela rapat-rapat. Terdengar Molly mengeong beberapa kali. Kedua perempuan itu tiba-tiba berteriak setengah berbisik, “Itu dia! Itu dia orangnya…!”
Di luar jendela, tampak siluet Bonar si pemilik ruko megah. Saya berjongkok mengndap-endap untuk membuka pintu samping, dengan tongkat pemukul di tangan kanan. Ketika membuka pintu, nyaris saya tak bisa menahan getaran tubuh yang seketika merinding. Setelah pintu terbuka, kontan saya menyerbu dan menghajar muka Bonar dengan tongkat pemukul. Terdengar suaranya lirih, pelan mengiba dan mengaduh. Ia jatuh terjerembab ke belakang, lalu saya hantam lagi sambil menendang kepala dan punggungnya bertubi-tubi.
Sambil menatap muka yang bercelomot darah, saya mendengar kedua perempuan itu berteriak-teriak, kemudian menancap motor matik meninggalkan bukit Cipala. Seketika, saya terkesiap tak menyadari berapa lama saya menendangi tubuh yang jatuh terjerembab itu, sampai kemudian beberapa warga setempat melerai dan memegangi lengan saya dengan sekuat tenaga.
Untuk beberapa saat saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya merasa linglung dan berjalan sempoyongan. Beberapa warga segera melarikan Bonar ke rumah sakit. Sejak saat itu, saya tak lagi menemukan kedua perempuan itu lagi. Entah mereka pulang ke kampung halaman, entah kabur ke luar negeri mejadi TKW. Bahkan sampai saat ini, nama kedua perempuan itu pun saya tidak tahu pasti. Boleh jadi, motor yang mereka miliki juga hanya motor bodong hasil curian dari pelabuhan Pulomerak.
***
Saya merokok sembari melihat bintang-bintang di langit, memikirkan bagaimana saya harus menjelaskannya pada rekan-rekan aparat di kantor polisi. Empat orang aparat dari kepolisian resort Cilegon masuk dan membawa saya dengan mobil polisi. Di kantor polisi, saya tak bisa menahan tangis, dan ketika dua rekan saya mendekat dan menanyakan duduk persoalannya, saya tetap membisu.
Seorang rekan polisi menepuk pundak saya, sambil mengabarkan bahwa Bonar itu memang warga pendatang dari daerah Medan untuk merantau di daerah Merak sejak sepuluh tahun lalu. Dia sudah menjadi warga Kota Cilegon sejak mulai merintis toko kecil-kecilan, kemudian ia membeli sebuah ruko di tempat yang nyaman dan strategis.
Sekelebat saya mengingatnya ketika ia memberi makan kucingnya di bawah meja kasir, lalu bicara pada binatang kesayangannya agar jangan pergi ke mana-mana, agar ia tidak lagi memakan tikus di jalanan. Saya masih ingat ketika ia duduk tenang sambil membaca sesuatu pada layar ponselnya, seraya melayani beberapa pelanggan di rukonya.
Rekan polisi menggoyang-goyang pundak saya hingga saya terkesiap dan tersadarkan. Kini, saya tak perlu penjelasan lagi, bahwa Bonar laki-laki Batak, pendatang dari Medan itu ternyata orang baik-baik, dan tak pernah memiliki catatan kriminal apapun. Saya merasa tertipu oleh dua wanita misterius yang entah datang dari mana. Bahkan, saya tidak percaya ketika yang berambut panjang mengatakan dari Tegal dan rambut pendek mengaku dari Indramayu. Juga saya tak percaya kalau yang satu bernama Wati dan satunya lagi mengaku sebagai Tuti.
Brengsek, sialan! Kini, saya merasa tertipu oleh bajingan jahat sesungguhnya, yang sampai saat ini barangkali mereka sembunyi entah di mana. Ya, Bonar ternyata orang baik-baik yang datang dari Medan untuk berdagang, dan sore itu dia berkeliling di beberapa rumah di bukit Cipala, hanya untuk mencari kucing piaraannya yang hilang.
“Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang,” tanya seorang rekan aparat di kantor polisi.
“Saya akan mempertanggungjawabkannya secara hukum. Besok pagi saya akan mendatangi Bonar ke rumah sakit, meminta maaf padanya, juga kepada keluarganya. Semoga dalam waktu dekat dia segera pulih dan beraktivitas kembali.”
“Baik, itu langkah bagus,” kata rekan baik saya, “besok saya akan menemani kamu menemui keluarganya. Semua biaya pengobatan akan ditanggung pihak kepolisian resort Cilegon.”
“Terima kasih,” balas saya dengan senang hati. (*)
Oleh: Alim Witjaksono
Penulis adalah Esais dan prosais generasi milenial, menulis artikel dan prosa di berbagai media nasional luring dan daring.







