Jenderal yang Bertempur Melawan Dirinya

oleh -853 Dilihat
banner 468x60

Pagi itu, Jenderal Sudarto sedang membaca koran pada rubrik luar negeri. Mukanya terlihat senyam-senyum sendiri, hingga sang pembantu merasa heran ketika menyodorkan kopi hitam dan sosis bakar kesukaannya. Biasanya ia bangun tidur sambil berjalan sempoyongan, mengamit koran Kompas, lalu membawanya ke serambi rumah. Kadang kepalanya pusing, karena merasa cemas disebabkan rival politiknya yang semakin ambisius untuk menjegal karir politiknya.

Tetapi kali ini, ia kelihatan agak senang, hingga perasaan itu begitu intens memengaruhi saraf dan indranya selama beberapa waktu. Ia merasa seluruh organ tubuhnya berfungsi dalam harmoni yang sempurna. Sangat berbeda ketika beberapa bulan lalu, ia terbaring tak berdaya, bahkan untuk menggerakkan tangan saja serasa lemas dan lunglai kepayahan.

Jenderal Sudarto merasa bingung menjelaskan tentang dirinya, lalu kontan saja menyimpulkan bahwa itulah yang disebut kebahagiaan. Tetapi, seberapa lama keadaan itu akan berlangsung? Dari mana sumber kebahagiaan datang di pagi itu? Namun demikian, ia merasa khawatir, bahwa kondisinya itu hanyalah sementara, dan tidak bersifat permanen. Ia pun meletakkan korannya di atas meja, lalu membuka-buka kanal YouTube tentang penceramah yang berteriak-teriak bahwa kebahagiaan hanya dimiliki para malaikat yang hidup abadi di alam surga sana. Baginya, hidup manusia di muka bumi ini hanya meminum seteguk air, sampai kemudian bersiap-siap merasakan haus dan dahaga hingga akhir hayat.

Ia melangkah ke arah dapur, menyantap sarapan pagi yang disediakan Mbak Juminten dengan lahap. Ketika pembantunya itu mencuci piring di wastafel, ia merasa kaget karena biasanya majikannya bersikap tak acuh, tetapi seketika itu tiba-tiba membuka mulut mengajukan pertanyaan:

“Mbak, saya mau bertanya kepada Mbak Jumi.”

“Bertanya apa, Pak?” tanya Mbak Jumi kaget.

“Begini. Menurut Mbak, apakah Bapak ini termasuk orang Indonesia yang bahagia?”

Sang Jenderal merasa malu, karena baru kali ini sebagai majikan mengajukan pertanyaan yang terbilang janggal. Setelah beberapa saat terdiam, Mbak Jumi menjawab, “Mungkin saja Bapak bahagia, karena rumah Bapak bagus, mau ke mana-mana pakai mobil mahal… termasuk mau menengok cucu yang tinggal di Rangkasbitung.”

“Oo, begitu ya?” katanya lirih, dan lanjutnya lagi, “Apakah menurut Mbak Jumi, punya mobil mewah dan rumah megah itu, dapat dikatakan bahagia?”

“Sepertinya begitu, masyarakat melihat kebahagiaan dari mobil dan rumahnya kan, Pak?” ia seakan balik bertanya.

“Tapi, Bapak juga sudah berangkat haji, kan?”

“Nah, ditambah sudah pergi haji ke Mekah, sepertinya sudah lengkap menjadi impian banyak orang di negeri ini.”

Jenderal Sudarto menghela nafas sambil menerawang jauh. “Apakah menurut Mbak, ukuran bahagia itu dilihat dari impian-impian yang sudah tercapai?”

Mbak Juminten terdiam sejenak, kemudian jawabnya sangsi, “Mungkin saja, Pak, walaupun saya sering lihat Bapak merasa capek dan lelah kalau pulang dari kantor. Juga Bapak sering marah-marah sama para petukang yang mengurusi hektaran kebun Bapak. Mungkin Bapak merasa cemas dan panik.”

Ia terdiam selama beberapa waktu, kemudian memancangkan tatapannya dengan serius ke arah sang pembantu, “Jumi, apakah kamu sendiri enggak pernah merasa panik dan cemas?”

“Hahaha, tentu saja pernah, Pak,” jawab Mbak Jumi sambil tertawa keras. “Mana ada orang yang enggak pernah merasa cemas?”

***

Hari Senin pagi, ia mengumpulkan semua staf-stafnya dalam rapat khusus. Dalam pertemuan semacam itu, seringkali mereka berselisih paham dan saling bertengkar, sebagai kelanjutan dari ketidakpuasan argumen mereka yang bersilat-lidah melalui media sosial. Belum lagi, beberapa waktu lalu, Jenderal Sudarto telah dikalahkan secara memalukan oleh saingannya (seorang jenderal polisi) dalam posisi dan kedudukan barunya di kementerian RI.

Ini merupakan pukulan telak bagi harga dirinya, serta membuatnya dipenuhi kepahitan yang membuat kepalanya kliyengan sepanjang hari. Tetapi seketika itu, ia teringat pada Mbak Juminten pembantunya di rumah, seakan ia ingin belajar bersikap toleran dan solider terhadap sesama manusia.

Ia berusaha menetralisir situasi rapat yang sedang memanas, lalu memutar posisi duduknya menghadap ke luar jendela sambil berujar, “Cuacanya agak mendung pagi ini… tapi menurut saya, cuaca seperti ini lebih baik ketimbang panas terik beberapa bulan lalu.”

“Iya Pak, cuacanya mendung,” kata salah seorang stafnya menanggapi.

“Benar, Pak, para karyawan lebih giat bekerja daripada cuaca panas yang membuat mereka banyak istirahat di tempat kerja,” balas staf lainnya.

“Bagus kalau begitu.”

“Iya Pak, bagus.”

“Tapi, saya minta semuanya agar menuruti keputusan saya dalam rapat ini, paham semuanya?”

“Iya, Pak,” mereka mengangguk pelan, agak terpaksa.

Mereka terdiam hening, sampai kemudian seseorang angkat bicara memecah kesunyian, “Pak, apakah boleh saya menanyakan sesuatu yang sifatnya agak pribadi?”

Sang Jenderal kaget, dan dengan terpaksa ia pun mengangguk, “Ya, silakan, mau tanya apa?”

“Kami mendengar kabar dari medsos, bahwa putera sulung Bapak memilih tinggal bersama istrinya di Denmark, apakah berita itu benar, Pak?”

“Ya, saya sudah peringatkan dia, setelah lulus kuliah di Finlandia, agar segera pulang ke tanah air, tetapi karena istrinya seorang pemain bulutangkis di Denmark, akhirnya dia dan istrinya memutuskan tinggal di negeri itu.”

Mukanya tiba-tiba memerah. Otot-ototnya menegang di sekujur wajahnya. Untuk mengendalikan suasana, asistennya segera memutuskan agar rapat segera ditutup, dan tak boleh ada lagi hadirin yang bertanya. Tetapi, sang Jenderal mencoba bersikap bijak, tersenyum, dan membolehkan satu orang staf lagi mengajukan pertanyaan:

“Apakah hal tersebut membuat Bapak merasa sedih? Karena bagaimana pun dari kecil hingga SMA dia sekolah di Indonesia, tetapi setelah lulus kuliah justru memutuskan tinggal di Denmark bersama istrinya?” tanya seorang staf.

“Tentu saja itu membuat saya merasa sedih,” katanya dengan jujur, “walaupun saya sudah memerintahkan agar tinggal di sini bersama istrinya, tetapi dia mengatakan bahwa istrinya sudah bergabung sebagai pebulutangkis nasional di Denmark, sementara dia sendiri sudah memulai bekerja sebagai peneliti di bidang sejarah.”

“Tapi suatu saat, mereka akan berubah pikiran,” kata asistennya berusaha menghibur.

Sang Jenderal menggelengkan kepalanya dengan sorotan mata yang nanar, tetapi ia berusaha membalas dengan senyum hampa, “Biarkan mereka tinggal di mana pun yang mereka suka. Tetapi di sinilah… di tanah air inilah saya akan terus mengabdi…. sampai titik darah penghabisan!”

“Nah, itulah keberanian Bapak… di situlah letak kesuksesan Bapak sebagai pemimpin perusahaan ini!”

Sang Jenderal tertawa terbahak-bahak, tetapi kemudian ia menyangkal, “Saya sendiri tidak tahu, apakah kesuksesan yang Anda maksudkan, ada hubungannya dengan hidup bahagia?”

“Itu benar Pak, kalau Bapak sukses berarti Bapak bahagia!” teriak seorang yang baru diangkat sebagai staf.

“Mungkin saja, tetapi akhir-akhir ini saya sendiri bingung membedakan mana bahagia, gembira, senang, lalu apakah semuanya itu ada kaitannya dengan kesuksesan saya sebagai pemimpin perusahaan ini?”

“Saya kira waktunya habis… dan rapat harus segara ditutup, bukankah begitu, Pak?” kata sang Asisten merasa gusar.

Jenderal Sudarto mengangguk sambil tertawa lirih. Sementara, beberapa staf mengacungkan tangan untuk bersiap-siap mengajukan pertanyaan berikutnya.

***

Kadang, ketika ia terbangun di tengah malam, ia merasa dirinya sebagai orang tua kesepian yang merasa asing di dunia ini. Anak keduanya seorang wanita, tetapi tinggal bersama suami dan anaknya di daerah Rangkasbitung. Mereka merasa segan dan jarang bertandang karena berbagai luka dan ketegangan, karena watak ayahnya yang temperamen dan tak mengenal kompromi. Kadang ia berusaha menerima kritik dengan sikap bijak, meskipun diskusi-diskusi tentang rasisme sulit untuk ditahan emosinya yang kadang meluap dan memuncak. Diskusi paling sengit kadang terjadi dengan putera bungsunya yang lulusan Filsafat di UIN Jakarta. Ia sering kewalahan menghadapi watak intoleran ayahnya, hingga memunculkan keangkuhan pada dirinya. Seringkali tensi kemarahan kian memuncak, manakala perdebatan sudah memasuki wilayah khilafiyah tentang hukum-hukum agama.

Dia menilai, bahwa kemarahan ayahnya bukan semata keangkuhan intelektual, tetapi rasa amarah yang membuat otak dan sarafnya menegang, hingga meningkatkan tekanan darah dan gangguan pencernaannya. Apalagi, jika perdebatan itu sudah menyangkut soal Palestina, yang membuat Sang Ayah merasa kesulitan membedakan antara orang Yahudi, bangsa Israel dan kaum Zionisme.

Seringkali rumah megahnya dianggap sebagai dunia yang sempit. Jenderal Sudarto tak pernah sampai pada pemikiran, bagaimana kebahagiaan itu dapat menjelma sebagai surga kehidupan yang terhubung dengan surga di akhirat yang rasanya jauh dari bayangan. Untuk memikirkan pekerjaan sehari-hari, serta omset perusahaannya yang terus menurun, sudah membuatnya panik, tegang, dan pusing tujuh keliling. Bagaimana mungkin ia bisa mengatur emosi, ketenangan dan kerendahan hatinya, ketika tiba-tiba menerima telepon dari anak sulungnya di Denmark beserta istrinya yang kadang disebutnya “Si Bule Kafir”, yang dianggap mengantarkan anaknya berpaling dari kecintaannya terhadap tanah air.

Terlintas dalam benaknya pengalaman masa lalu, ketika ia memimpin pasukan tempur di Timor Timur, yang membuat jiwa patriotisme semakin membara. Namun, seketika ia harus melupakan masa lalu yang kelam itu, ketika hal-hal tersebut membuat tensi darahnya semakin meninggi. Sudah beberapa kali ia dilarikan ke klinik oleh Mbak Jumi dan tetangganya sendiri. Sesekali ia teringat akan kematian istrinya di era Pandemi Covid lalu, betapa indahnya mereka yang wafat lebih dulu, ketimbang hidup berlama-lama sambil menanggung derita dan kesepian karena ditinggal jauh oleh anak-anak yang dulu dicintainya.

Teringat pula akan masa kecil mereka yang lucu-lucu, lalu membandingkan dengan kualitas kebahagiaan di negeri akhirat. Namun seketika, ia menganggap bahwa semua itu hanyalah serangkaian ingatan tanpa makna, seolah-olah telah terjadi di masa silam. Setelah makan siang, dia pergi untuk tidur siang seperti biasa, tetapi merasa bahwa ia kesulitan menutup mata dan selalu terjaga. Sebenarnya, dia perlu istirahat dan sedikit rileks, untuk melenturkan ketegangan dan saraf-sarafnya yang mengganggu. Ia pun mencoba membaca majalah namun matanya merasa lelah. Pikirannya seakan buntu dan tumpul, sehingga ia merasa kesulitan untuk menangkap motif dan pengertiannya dari satu rubrik ke rubrik lain. Akhirnya, dia pun melempar bacaannya sambil tersenyum sinis, bahkan seringkali keluar tawanya dengan terbahak-bahak.

Menjelang waktu sore, ia meninggalkan tempat tidurnya, sambil mondar-mandir berlarian mengitari rumahnya seraya menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Sesekali ia ingin pergi ke Gedung Olah Raga (GOR) dan bermain futsal seperti tahun-tahun lalu. Tetapi, pikirannya kembali kacau ketika membayangkan berjumpa dengan kolega dan para sahabatnya, lalu membicarakan hal-hal yang tak berguna baginya. Sebab, membicarakan urusan publik adalah bagian serius yang menjadi kepanikan tersendiri. Apa yang akan dibicarakan para sahabatnya, yang kadangkala saling bisik-bisik, dan tertawa nyinyir seakan ditujukan kepada dirinya.

Ah, tidak. Dia tak ingin berjumpa dengan siapa pun, baik di GOR, tempat pengajian, gardu ronda, warung kopi, maupun di acara-acara haul untuk memperingati mendiang sahabatnya yang sudah wafat. Lebih baik ia memilih duduk sendirian atau berjalan di pagi buta di sepanjang trotoar hingga alun-alun kota. Entah berapa lama, ia harus menanggung beban tak tertahankan dengan menguras energi, bahkan beban pikiran yang luar biasa ini. Akankah perasaannya itu dialami kembali seperti yang sudah-sudah, sehingga merampas waktu kerjanya, tidurnya, hingga ketenangan batinnya?

Di hari Minggu pagi, ketika melintasi alun-alun kota, ia membaca sebuah plang yang menunjukkan kantor pusat layanan konseling dan psikiater. Ia tersenyum sambil membaca nama dokter wanita yang memberi pelayanan psikiater: dr. Widya Panjaitan. Keesokan harinya, ia pun memutuskan untuk menjadi pasien di pusat layanan konseling itu. Ibu Dokter Widya mendengar keluhan anehnya tentang apakah dirinya termasuk orang Indonesia yang tergolong sudah hidup bahagia.

“Biasanya orang yang datang ke sini mengeluh soal stres, depresi atau merasa cemas dalam menjalani hidup sehari-hari, tetapi keluhan Bapak Sudarto ini agak aneh… bahkan dapat dikategorikan sebagai bukan keluhan?”

“Kalau bukan keluhan, berarti namanya apa, Dok?”

“Bapak bisa tidur?”

“Saya sulit tidur siang, Dok, bahkan kalau malam enggak bisa tidur nyenyak.”

“Kenapa?”

“Mungkin karena akhir-akhir ini saya merasa senang,” katanya sambil tersenyum hampa.

Dokter Widya menatap muka sang jenderal, untuk menguji kejujurannya, serta membaca reaksi dari pengakuannya itu.

“Apakah ada kaitannya antara perasaan senang dengan tidak bisa tidur nyenyak, Dok?” tanyanya lagi.

“Mungkin saja ada. Tetapi, kalau Pak Sudarto tak bisa tidur, apakah Bapak suka tertawa sendiri di tempat tidur?”

“Ya, betul sekali, Dok.”

“Bahkan, Bapak juga suka tertawa terbahak-bahak ketika merasa sedih atau kesepian?”

“Ya, tepat sekali, Dok. Wah hebat… saya kira Dokter Widya ini adalah salah satu pemuda Indonesia yang bisa membaca pikiran orang?”

“Oh maaf, bukan begitu, Pak Sudarto. Soalnya, saya sering menemukan pasien yang memiliki kasus yang sama, setidaknya seminggu sekali.”

“Apakah ini sejenis wabah atau pandemi, Dok?”

“Saya tidak punya kapasitas untuk mengatakan bahwa ini adalah pandemi baru. Saya juga tak mau mengatakan, bahwa sejauh ini, pasien dengan gejala yang sama dapat dipastikan sembuh total setelah berminggu-minggu diadakan pengobatan…”

“Tetapi ini sesuatu yang tak normal kan, Dok?”

“Apanya?”

“Sering tertawa sendiri?”

“Ya.”

“Berarti dapat dipastikan sebagai penyakit, kan?”

“Kurang lebih seperti itu. Tetapi, sejauh masih bisa ditangani, kami berusaha untuk memberi pengobatan semaksimal mungkin.”

“Tapi, apakah Ibu Dokter yakin bahwa pasien yang Dokter temukan seminggu sekali itu, hidupnya tidak normal?”

“Kami masih berusaha mendiagnosa dan masih mengikuti perkembangannya. Karena sejauh ini, kasusnya tidak persis sama.”

“Berarti penyakit yang saya alami ini berbeda dengan mereka?”

“Kurang lebih seperti itu.”

Sang jenderal membetulkan posisi duduknya, mengelap keringat di keningnya, dan katanya dengan suara lantang, “Coba, Dok, saya minta kepastian… saya minta, Anda sebagai dokter memberi kepastian buat saya pribadi…!”

“Memang belum bisa dipastikan sepenuhnya, Pak,” kata Dokter Widya agak gemetar, “saya kira dokter-dokter lain juga menghadapi hal yang sama. Untuk saat ini, kami hanya bisa berusaha menurut keyakinan kami.”

Sang jenderal menghempaskan punggungnya di kursi, dengan tatapan kesal dan jengkel. Tetapi, jengkel kepada siapa? Matanya nanar dan masih melotot, sambil menghela nafas panjang. Ia begitu naik pitam, darahnya mendidih sambil marah-marah tak keruan. Meskipun akhirnya dia terdiam kaku, bingung sendiri, marah ditujukan kepada siapa?

Dalam waktu yang cukup lama pandangannya menerawang ke atas. Sebentar kemudian ia tersenyum sendiri, lalu tertawa terbahak-bahak.

Dokter Widya menorehkan beberapa catatan penting di atas kertas. Ia menganjurkan agar pengobatan minggu depan harus diantar oleh salah seorang saudara-kerabat yang mendampinginya. Kemudian, ia segera memanggil pihak Security agar mengantarkan Jenderal Sudarto menuju rumahnya. (*)

Oleh: Hafis Azhari

Penulis adalah Peneliti historical memory, juga penulis novel Pikiran Orang Indonesia, dan Jenderal Tua dan Kucing Belang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.