Bruk….
Dua buah mikrolet dalam kecepatan tinggi akhirnya saling cium. Mereka berebut penumpang, yaitu para murid yang baru pulang dari sekolah. Suara musik dengan volume dan bas tinggi dalam mikrolet, menyaingi dentuman di bodi depan masing-masing.
Suasana siang yang panas, kini bertambah panas akibat tidak ada yang mau mengalah. Demi mendapatkan ongkos bemo beberapa ribu rupiah, kedua sopir mikrolet mempertaruhkan jutaan harga bodi mikrolet, yang tentu bukan milik mereka sendiri. Pertengkaran terjadi.
“Ah, itu bukan urusanku,” gumamku.
Aku menyaksikan semua itu dari depan pangkalan mobil taxi online. Pangkalan ini sudah seperti rumah kedua bagiku saat ini. Dua tahun terakhir aku menghabiskan lebih banyak waktu di sini daripada di kontrakan. Berlandaskan aspal yang retak di mana-mana, warung kopi Tante Mince dengan plastik terpal biru yang lusuh, dan deretan mobil—kebanyakan sama seperti milikku: tipe lama, cat kusam, ada penyok di sana-sini. Seperti barisan veteran perang yang kehilangan medali.
Aku duduk di kursi plastik, menggenggam kopi pahit kesukaanku. Di depanku, jalan raya itu seperti sungai yang tak pernah kering. Ratusan—mungkin ribuan—manusia melintas setiap jamnya. Ke mana mereka? Untuk apa?
Dulu aku juga begitu. Tergesa. Penting.
Sekarang aku diam di sini, melihat mereka dari pinggir. Ada yang naik motor, menerobos macet dengan raut wajah tegang—mungkin telat ke kantor, mungkin istri menunggu, mungkin ada target yang harus dicapai, seperti sopir mikrolet tadi: mengejar setoran. Tipe pertama: manusia yang percaya bahwa esok akan lebih baik kalau hari ini digas habis-habisan.
Lalu aku melihat ibu dengan dua anak di motor matic-nya. Anak yang di belakang mengantuk, kepalanya jatuh ke samping. Sabar sekali si Ibu mengatur keseimbangan. Tipe kedua: manusia yang bertahan karena ada yang bergantung padanya.
Dan yang meluncur mulus di jalan—mobil hitam besar, kaca film gelap. Di dalamnya pasti pejabat atau pengusaha. Tipe ketiga: manusia yang sudah “sampai”, atau setidaknya percaya begitu.
Aku pernah di posisi itu. Duduk di kursi empuk dengan sopir pribadi yang menjemput setiap pagi. Sekarang aku jadi sopirnya. Hidup memang kadang seperti roda, kadang di atas, kadang di bawah.
Aku bukan sopir pribadi, aku sopir online. Menjemput siapa saja yang pesan lewat aplikasi. Dan di dalam mobil itu, aku melihat lagi tipe-tipe manusia yang sama.
Anak magang yang sibuk mengecek laptop sepanjang perjalanan, gugup karena takut terlambat rapat. Pengusaha muda yang menelepon sana-sini dengan nada tinggi, seolah seluruh dunia akan runtuh kalau dia tidak mengatur semuanya. Pasangan suami istri yang diam sepanjang jalan—mungkin lelah, mungkin bosan, mungkin sudah kehabisan kata-kata setelah bertahun-tahun.
Percuma saja.
Percuma sekolah tinggi kalau akhirnya jadi mesin. Percuma baca buku-buku tebal kalau isinya cuma cara menginjak kepala orang lain untuk naik jabatan. Percuma pintar kalau kepintaran itu akhirnya dipakai untuk membenarkan egoisme.
Aku tahu persis. Aku dulu membaca puluhan buku manajemen, buku motivasi, buku filsafat bisnis. Dan lihat aku sekarang. Duduk di kursi plastik pecah, minum kopi sachet, menunggu order masuk.
Semua buku itu, semua rapat itu, semua strategi itu—kemana perginya?
***
“Kamu melamun terus akhir-akhir ini, Sep?” Arkalaus duduk di sampingku. Dia satu-satunya teman di pangkalan ini yang tahu masa laluku. Mungkin karena dia juga punya masa lalu—mantan manajer di pabrik tekstil yang bangkrut. Kami seperti dua kapal karam yang terdampar di pantai yang sama.
“Aku lagi berpikir, kalau semua orang itu sebenarnya cuma berputar-putar saja,” jawabku. “Kamu lihat mereka? Pagi ke kantor, sore balik, besok pagi ke kantor lagi. Capek, stres, kadang sakit. Buat apa?”
Arkalaus mengangkat bahu. “Ya buat hidup kan, Sep.”
“Ini namanya hidup?” aku mengangkat wajah dan menatap matanya dalam-dalam.
“Kamu kenapa? Dua tahun lalu kamu bisa terima keadaan. Sekarang kok kayak…” dia mencari kata, “linglung begitu.”
Aku tidak menjawab. Mungkin karena dua tahun lalu aku masih sibuk bertahan. Belum sempat berpikir. Sekarang, setelah rutinitas menjadi kebiasaan, yang tersisa hanya ruang kosong untuk berpikir. Dan pikiran itu berbahaya. Pikiran itu membawaku kembali ke ruang rapat itu, ke wajah si Jeki.
Dulu kami satu tim. Satu meja. Satu visi, katanya. Aku percaya dia seperti adik sendiri. Ketika proyek besar itu datang, aku ajak dia masuk. Bersama kita akan mencapai puncak, kataku waktu itu. Dan dia tersenyum, mengangguk, lalu diam-diam menyusun skenario.
Aku tahu persis bagaimana rasanya jatuh. Bukan jatuh fisik, tapi jatuh dari kepercayaan bahwa dunia ini adil. Bahwa kerja keras dibalas pengkhianatan. Bahwa kebaikan dibalas kejahatan.
Jeki mengambil semua klienku. Semua kontak. Semua data. Dan dalam satu rapat, di depan direksi, dia membeberkan “kesalahan-kesalahanku” yang sebagian besar dipelintir. Aku terlalu percaya untuk menyimpan bukti. Terlalu yakin bahwa integritas akan bicara sendiri.
Integritas ternyata bisu di ruang rapat. Yang keras bersuara hanyalah ambisi.
“Efisiensi, Pak Seprianus harus kita korbankan,” kata Jeki waktu itu. Kata “korbankan” seperti pisau. Menyenangkan didengar telinga para direktur yang hanya peduli angka. Aku keluar dengan dua kardus berisi pigura penghargaan dan foto keluarga.
Setelah itu, hidup seperti berhenti sejenak. Seperti lagu yang putus di tengah nada. Hana – Istriku – tidak pernah bertanya banyak. Dia hanya bilang, “Kita bisa jualan sayur.”
Dan kami jualan sayur. Selama tiga bulan. Sampai tabungan benar-benar kering dan aku mulai mendaftar driver online.
***
Sore itu aku putuskan pulang lebih awal. Hanya tiga orderan, tapi kepala terasa penuh. Mungkin terlalu banyak merenung. Atau terlalu sedikit tidur.
Kontrakan kami di ujung gang sempit. Dinding bata tanpa plester, lantai semen, genteng yang bocor kalau hujan deras. Tapi Hana selalu menjaga rumah ini tetap rapi. Taplak meja dari kain perca buatannya sendiri. Pot-pot bekas cat yang dia tanami cabai dan tomat. Di sudut, dagangan sayurnya yang belum laku tertata rapi dalam keranjang bambu.
Hana sedang memilah bayam ketika aku masuk. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh menutupi pipi. Tangannya cekatan memisahkan daun yang layu. Dulu, tangan itu sering memegang remote AC dan gelas wine saat menyambut aku pulang.
“Kamu pulang cepat, Mas?” Dia menoleh, tersenyum.
“Capek,” jawabku singkat.
“Sudah makan?”
“Belum lapar.”
Hana mengangguk, lalu kembali pada bayamnya. Aku duduk di kursi plastik dekat pintu, memandangnya. Lampu 5 watt yang kami pasang di teras membuat cahaya temaram.
“Mas,” Hana memulai setelah beberapa saat. “Banyak yang utang lagi hari ini. Bu RT ambil tahu tempe, bilang bayar besok. Tante Ani ambil sayur kangkung, utang juga.”
“Ya sudah, nanti pasti bayar.”
“Mas, tidak sedang mengeluh.” Dia meletakkan bayam, lalu menatapku. “Saya cuma ingin Mas tahu, kita masih bisa bertahan. Dagangan kemarin untung lumayan. Tahu tempe laris.”
Aku hanya mengangguk.
Hana berdiri, mendekat, lalu duduk di kursi sebelahku. Beberapa saat kami diam, mendengar suara jangkrik mulai bersahutan.
“Mas,” suaranya lembut. “Aku tahu apa yang Mas pikirkan.”
Aku menoleh.
“Dua tahun lalu, saat Mas cerita tentang Jeki, aku lihat Mas hancur. Bukan karena kehilangan jabatan, tapi karena kehilangan kepercayaan. Mas yang aku kenal itu orang yang percaya kalau dunia ini punya aturan main yang adil. Kalau kerja keras, pasti menang. Kalau berbuat baik sama orang, maka akan dibalas juga dengan kebaikan.”
Dia berhenti, menarik napas.
“Tapi sekarang aku lihat Mas makin jauh. Bukan karena miskin, Mas. Tapi karena Mas mulai tidak percaya sama apa pun.”
Aku ingin membantah. Tapi suaraku tak keluar, karena dia benar.
Hana meraih tanganku. Tangannya kasar sekarang. Kena getah sayur, kena air cucian, kena tanah. Tapi hangat.
“Mas ingat tidak, waktu kita nikah? Kita tidak punya apa-apa. Kontrakan lebih kecil dari ini. Mas masih staf biasa. Tapi Mas bilang sesuatu ke aku.”
Aku ingat. Tapi aku pura-pura lupa.
“Mas bilang, ‘Han, aku tidak tahu apakah kita bakal kaya. Tapi aku janji, kita bakal tetap utuh. Kita bakal tetap bersama. Dan selama itu, tidak ada yang sia-sia.’”
Air mataku menggenang. Sial.
Hana memegang wajahku. “Mas, dulu Mas percaya sama aku. Sekarang percaya lagi. Bukan sama dunia, bukan sama orang kayak Jeki. Tapi sama hal sederhana ini.” Dia menunjuk ke dalam rumah. Ke meja dengan taplak perca, ke pot tanaman, ke bayam yang setengah terpilah.
“Ini, Mas. Masak malam nanti. Tidur di samping aku. Bangun pagi buat kerja lagi. Itu bukan kesia-siaan. Itu hidup.”
***
Malam itu, setelah makan malam—sayur bening bayam dan tempe goreng—aku duduk di ambang pintu. Hana sedang membereskan dapur. Dari dalam terdengar suara piring dicuci, irama yang menenangkan.
Aku memandangi langit. Di pinggiran kota ini, bintang-bintang masih terlihat, tidak sebanyak di desa, tapi cukup untuk dihitung. Ada satu yang terang di utara. Atau mungkin itu planet. Aku tak pernah paham astronomi.
Dulu aku paham banyak hal. Paham cara membaca laporan keuangan. Paham cara negosiasi kontrak. Paham cara memetakan strategi lima tahunan. Tapi tak pernah paham kenapa Hana tetap bertahan.
Sekarang, duduk di sini, aku mulai paham sedikit.
Mungkin memang begitu. Mungkin hidup bukan tentang mencapai sesuatu, tapi tentang bertahan bersama seseorang. Mungkin bukan tentang mengerti semua, tapi cukup mengerti bahwa ada yang tetap di sampingmu meski kau jatuh.
Besok, aku akan kerja lagi. Akan ada penumpang dengan cerita mereka masing-masing. Ada yang buru-buru, ada yang marah-marah, ada yang diam saja. Aku akan jadi saksi bisu atas kesia-siaan dan harapan mereka. Sama seperti aku saksi atas kesia-siaan dan harapanku sendiri.
Tapi nanti malam, setelah mencuci piring, Hana akan keluar dan duduk di sampingku. Mungkin dia akan bertanya tentang hariku. Atau bercerita tentang Bu RT yang belum bayar utang. Atau diam saja, bersandar di bahuku.
Dan itu cukup.
***
Pagi berikutnya, di pangkalan, Arkalaus datang dengan dua gelas kopi. Dia sodorkan satu padaku.
“Nah, sekarang kamu kelihatan lebih baik.”
Aku tersenyum kecil. “Iya.”
“Sudah tidak melamun lagi?”
“Masih. Cuma sekarang beda.”
Dia mengangkat alis.
Aku menyesap kopi. Pahit, seperti biasa. Tapi hari ini terasa hangat.
“Ar, aku dulu pikir, hidup itu harus berarti. Harus mengejar sesuatu. Harus jadi seseorang.”
“Terus?”
Aku memandang jalan raya. Pengendara motor masih lalu lalang. Ibu dengan anaknya melintas lagi—atau mungkin ibu yang lain, dengan anak yang lain. Mobil hitam masih meluncur mulus. Dunia tak berubah.
“Sekarang aku pikir, mungkin arti itu tidak perlu dicari jauh-jauh. Mungkin arti itu cuma… ada. Di sini.”
Arkalaus diam sebentar. Lalu dia berkata pelan, seperti mengutip sesuatu yang sudah lama dia simpan:
“Kamu cukup jadi Seprianus. Driver taxi online yang tiap hari melihat orang lalu lalang, dan bersyukur karena kamu tidak perlu jadi mereka.”
Aku menatapnya. Dia tersenyum.
“Itu kata siapa?”
“Aku! Baru saja.” Dia tertawa. “Tapi serius, Sep. Kamu tidak perlu jadi orang besar buat berarti. Kamu cuma perlu jadi kamu sendiri. Dan kamu punya Hana. Itu lebih dari cukup buat kebanyakan orang.”
Aku tak menjawab. Tapi di dadaku, ada yang longgar. Seperti simpul yang selama dua tahun mengikat erat, akhirnya terurai.
Dari saku, terdengar bunyi notifikasi ponsel. Ada order masuk.
Aku berdiri, membuang ampas kopi ke tanah, lalu menepuk bahu Arkalaus.
“Aku berangkat.”
“Yoi… Hati-hati!”
Di dalam mobil, sebelum menghidupkan mesin, aku melihat foto Hana yang kutempel di dashboard. Foto usang, pudar terkena matahari. Di dalamnya dia tersenyum, memakai baju kuning favoritnya.
Aku tersenyum balik.
Lalu melaju ke jalan raya, menyatu dengan ribuan manusia yang—seperti aku—hanya mencoba bertahan dan menemukan arti di tengah kesia-siaan.
Tapi hari ini, entah kenapa, kesia-siaan itu terasa lebih ringan.
Mungkin karena aku tahu, di ujung jalan, ada yang menunggu dengan sayur bening bayam dan senyum yang tak pernah pudar. Ketulusan dan kesabaran Hana telah menjadi matahari yang menyinari hidupku.
Mungkin itu artinya, atau mungkin tidak. Tapi… untuk saat ini: ITU CUKUP!
Oleh: Krismanto Atamou







