Keluarga Kudus Nazaret: Teladan Ekaristis

oleh -1484 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Arnoldus Nggorong

Lucia, salah satu dari tiga saksi penampakan Bunda Maria di Fatima, Portugal, pada 13 Oktober 1917, memberi kesaksian yang mengagumkan tentang penampakan Keluarga Kudus Nazaret. Ia menulis: “Setelah Bunda Maria menghilang di kejauhan cakrawala, kami melihat Santo Yosef bersama Kanak-Kanak Yesus dan Bunda Maria yang berpakaian putih dengan mantel biru, di samping matahari. Santo Yosef dan Kanak-Kanak Yesus tampak memberkati dunia, sebab mereka membuat Tanda Salib dengan tangan mereka.”

Peristiwa penampakan itu mengonfirmasi kisah tentang Keluarga Kudus Nazaret — Yesus, Maria, Yosef — yang ditulis oleh penulis Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Keluarga Kudus Nazaret bukanlah dongeng, melainkan kisah nyata. Mereka benar-benar pernah hidup dalam sejarah manusia.

Peristiwa penampakan itu juga memperlihatkan dengan jelas dan terang benderang bahwa Yesus, Allah-Manusia, sungguh-sungguh hidup di tengah keluarga. Yesus mengikuti proses alamiah-manusiawi: dilahirkan, diasuh, dibesarkan, dididik, diajar, dan dibimbing oleh kedua orang tuanya, Maria dan Yosef, hingga Ia mencapai kedewasaan.

Dengan kata lain, fenomena tersebut kembali menegaskan peran penting keluarga sebagai pijakan pertama dan utama dalam menanamkan nilai-nilai Injil yang membentuk karakter serta kepribadian anak di kemudian hari (lih. tulisan saya “Keluarga: Seminari Kecil”, radarntt.net; 28/1/2026). Di dalamnya, iman diajarkan, dihidupi, dan diwartakan sehingga mereka saling menguduskan (bdk. GS. Art. 48).

Dalam rumusan Konsili Vatikan II, para suami-istri Kristiani bekerja sama dengan rahmat dan menjadi saksi iman satu bagi yang lain, bagi anak-anak. Sebab orang tua adalah pewarta iman dan pendidik yang pertama. Mereka membina anak-anak dengan kata-kata dan teladan untuk menghayati hidup Kristiani (AA. Art. 11). Dengan lain kata, orang tua tidak hanya mengajarkan, melainkan menunjukkannya dalam tindakan — ada keselarasan antara perkataan dan perbuatan. Jadi para Bapa Gereja menekankan kesaksian seluruh hidup, yang memiliki daya mengubah, membaharui.

Penampakan tersebut menegaskan pula bahwa Allah mengizinkan manusia, untuk secara khusus ikut serta dalam karya penciptaan-Nya sendiri dan memberkati pria dan wanita sambil berfirman: “Beranakcucu dan bertambah banyaklah” (Kej. 1:28; GS. Art. 50). Sebab, Pencipta alam semesta telah menetapkan persekutuan suami-istri menjadi asal mula dan dasar masyarakat manusia (AA. Art. 11; GS. Art. 48;). Lagipula, sejak semula Allah menciptakan manusia pria dan wanita (bdk. Mat. 19:4; Kej. 2:18). Dengan menciptakan pria dan wanita, Allah telah mendirikan keluarga manusia (KGK. 2203).

Kata “khusus” menekankan keistimewaan serta keunikan manusia sebagai gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26), yang diberi kemampuan untuk mengerti, memahami, mengomunikasikan, dan mengartikulasikan rencana, kehendak, serta kasih Allah sesuai dengan kehendak Allah sendiri, bukan kehendak manusia semata. Oleh karena itu, manusia dipanggil untuk mengambil bagian dalam karya penciptaan-Nya. Itulah sebabnya manusia disebut co-creator (rekan pencipta), di mana pria dan wanita bekerja sama melanjutkan kehidupan (bdk. KGK. 2207).

Di sinilah letak keluhuran nilai serta kedalaman makna pernikahan dan keluarga. Hal ini ditegaskan oleh Yohanes Paulus II dalam anjuran apostoliknya yakni Familiaris Consortio. “Pernikahan dan hidup berkeluarga yang dikehendaki oleh Allah dalam tindakannya menciptakan dunia, secara intrinsik tertujukan kepada pemenuhannya dalam Kristus” (FC, art. 3). Sebab, kasih Kristus adalah dasar hidup suami istri, demikian Paulus (Ef. 5:22-33). Mereka dipanggil untuk saling menyerahkan diri dalam cinta kasih (KGK. 2207).

Selain itu, kejadian tersebut menunjukkan bahwa meskipun dalam kodrat ilahi-Nya Yesus adalah Putra Allah, Ia secara ajaib dilahirkan dan tumbuh sebagai anak Yosef dan Maria. Walaupun Yesus adalah anak Allah, Putra Tunggal Allah yang sangat dikasihi-Nya (bdk. Mat. 3:17) — yaitu Allah Putra, Pribadi Kedua Allah Tritunggal Mahakudus — selama hidup-Nya di dunia, Ia dikenal sebagai anak Yosef dan Maria. Mereka adalah orang tua duniawi Yesus (Luk. 2:1-7, 21-40; Mat. 1:18-25).

Dengn kata lain, meminjam kata-kata Santo Louis Marie Grignion de Monfort, “…, di surga Tuhan Yesus masih tetap Putra Maria (juga Putra Yosef), sama seperti dahulu di bumi, dan karena itu, sebagai akibatnya, Dia mempertahankan sikap tunduk dan taat yang dimiliki oleh seorang yang tersempurna dari semua anak kepada seorang yang terbaik dari semua ibu, (juga Yosef: seorang yang terbaik dari semua bapa)” (Monfort., Bakti Yang Sejati Kepada Maria, hal. 15-16).

Perihal sikap tunduk dan taat seorang Allah, Yesus Kristus, kepada orang tua duniawi-Nya, Monfort secara hati-hati mengingatkan agar “…, tidak memandang ketergantungan ini sebagai semacam perendahan atau ketidaksempurnaan dalam diri Yesus Kristus. Karena Maria (juga Yosef) sercara tak berhingga berada jauh di bawah Putra mereka, yang adalah Allah, tidak memberi perintah kepada anak mereka yang berada di bawahnya. Maria (demikian pula Yosef), yang seluruhnya berubah rupa di dalam Allah karena rahmat dan kemuliaan yang mengubah semua orang kudus di dalam Dia, tidak meminta, tidak menghendaki juga tidak melakukan sesuatupun yang bertentangan dengan kehendak yang kekal dan tak berubah dari Allah” (Ibid.).

Keluarga Kudus Nazaret

Keluarga Kudus Nazaret adalah keluarga sederhana yang hidup dalam iman, pengharapan, cinta kasih, kesetiaan, dan ketaatan kepada kehendak Allah. Mereka menjalani hidup yang bersahaja dan miskin. Yosef bekerja sebagai tukang kayu (lih. Mat. 13:55), sedangkan Maria adalah ibu rumah tangga. Yesus pun sempat bekerja sebagai tukang kayu (Mrk. 6:3). Penulis Injil Matius dan Lukas hanya memberikan gambaran ringkas, tetapi mendalam tentang Keluarga Kudus Nazaret.

Menurut Injil Matius, Keluarga Kudus Nazaret dilukiskan sebagai keluarga yang patuh serta percaya kepada penyelenggaraan Allah. Hal tersebut tampak dalam sikap Yosef yang taat dan percaya kepada pesan malaikat Tuhan melalui mimpi: Yosef menerima Maria sebagai istrinya. Walaupun sebelumnya ia berniat menceraikan Maria secara diam-diam demi menjaga nama baiknya, Yosef membatalkan niat tersebut setelah malaikat Tuhan memberitahukan kepadanya bahwa anak yang dikandung Maria berasal dari Roh Kudus (lih. Mat. 1:18-25).

Yosef membawa Maria dan Yesus menyingkir ke Mesir demi menyelamatkan Yesus dari ancaman pembunuhan oleh Raja Herodes. Situasi genting memaksa Yosef bertindak cepat dengan berangkat pada tengah malam (Mat. 2:13-15).

Yosef kembali dari Mesir dan akhirnya memilih untuk menetap di Nazaret bersama Maria dan Yesus (Mat. 2:19-23). Sementara itu, Injil Lukas menggambarkan Keluarga Kudus Nazaret sebagai teladan iman, ketaatan, dan cinta kasih melalui beberapa peristiwa: Ketaatan pada tradisi. Yosef dan Maria setia menjalankan adat istiadat Yahudi dengan mempersembahkan Yesus di Bait Allah sesuai hukum Taurat (lih. Luk. 2:21-24).
Sikap iman. Yosef dan Maria menerima nubuat Simeon dan Hana tentang Yesus dengan penuh iman. Meski merasa heran, mereka memilih untuk menyimpan semua perkara tersebut di dalam hati (Luk. 2:25-38).
Kesabaran Yosef dan Maria. Dengan penuh kesabaran, Yosef dan Maria mencari Yesus yang tertinggal di Bait Allah setelah perayaan keagamaan. Mereka menemukan-Nya sedang berdialog dengan para alim ulama (Luk. 2:41-51).

Pengasuhan yang bijak. Yosef dan Maria mengasuh serta membesarkan Yesus hingga Ia penuh dengan hikmat dan kasih karunia Allah (Luk. 2:39-40,51-52). Bertolak dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa Yosef dan Maria adalah orang tua yang saleh. Kesalehan hidup mereka menjadi lingkungan yang tepat bagi Yesus untuk bertumbuh dalam hikmat dan kasih karunia. Yesus menemukan keteladanan yang autentik dalam diri Yosef dan Maria. Yesus mendapatkan keteladanan, pendidikan, serta pengajaran yang baik dan benar karena kerja sama yang harmonis antara Yosef dan Maria, yang membiarkan diri mereka dibimbing oleh dan taat serta setia pada kehendak Allah.

Nilai-nilai kepatuhan, kedisiplinan, ketekunan, tanggung jawab, kesabaran, kesetiaan, kejujuran, hingga kerendahan hati menjadi “santapan rohani” yang mematangkan kepribadian Yesus. Dengan demikian, Yesus semakin dikasihi oleh Allah dan manusia (Luk. 2:52). Ringkasnya, Keluarga Kudus Nazaret adalah Injil yang hidup.

Tantangan Keluarga Kudus Nazaret

Status sebagai orang tua duniawi Yesus — Sang Juru Selamat dan Penebus — tidak membuat Keluarga Kudus Nazaret terbebas dari tantangan serta kesulitan hidup. Hal itu sudah dirasakan oleh Yosef dan Maria baik secara individu maupun setelah hidup sebagai suami-istri.

Secara individu, Maria mengalami tantangan yang amat berat saat menerima tugas ilahi untuk mengandung Yesus tanpa hubungan seksual (Luk. 1:35, 38; Mat. 1:18, 25). Kehamilan ajaib Maria justru menjadi buah bibir dan bahan gosip warga sekitar. Cibiran, pandangan sinis, fitnah, tuduhan, serta beragam ucapan dan sikap negatif menjadi kenyataan pahit yang harus dihadapi Maria. sebagai seorang perawan, ia harus menanggung sanksi sosial tersebut sendirian. Kondisi ini menuntut keikhlasan, keberanian, kesabaran, dan keteguhan iman yang luar biasa dari Maria.

Reaksi sosial tersebut cukup beralasan karena pada masa itu, kehamilan di luar nikah dianggap aib dan pelanggaran serius. Menurut hukum Taurat, hal itu dikategorikan sebagai perzinaan yang melanggar kekudusan sehingga pelakunya dapat dikenai hukuman berat. Seorang gadis yang telah bertunangan namun hamil di luar nikah terancam hukuman mati dengan cara dilempari batu (Ul. 22:23-24; bdk. Yoh. 8:1-11).

Pengalaman Maria tersebut memiliki kemiripan dengan pergolakan batin Yosef. Dapat dibayangkan betapa hancurnya hati Yosef saat mengetahui tunangannya sudah mengandung (Mat. 1:18-19). Itulah sebabnya, Yosef sempat berencana menceraikan Maria secara diam-diam demi melindunginya dari konsekuensi hukum yang mematikan.
Tantangan dan kesulitan terus berlanjut setelah Yosef dan Maria hidup sebagai suami istri:

Kelahiran dalam kehinaan. Saat Yesus lahir, mereka harus menerima kenyataan pahit melahirkan di kandang hewan karena semua pintu rumah tertutup bagi mereka. Tubuh mungil Yesus hanya dibalut kain lampin sederhana dan dibaringkan dalam palungan (lih. Luk. 2:6-7). Tidak ada keluarga yang menemani, kecuali para gembala (lih. Luk. 2:15-16, lih. tulisan saya: “Natal, Pemiskinan Diri Allah Paling Radikal”, Florespos.net, 24/12/2024).

Pelarian ke Mesir. Yosef dan Maria harus harus mengungsi ke Mesir pada tengah malam demi menghindari rencana pembunuhan oleh Raja Herodes (Mat. 2:13-15). Mereka harus menempuh perjalanan yang penuh risiko dengan penuh keberanian dan ketabahan.

Berdasarkan deskripsi di atas, tampak jelas bahwa Keluarga Kudus Nazaret menghadapi tantangan dan kesulitan yang tidak ringan, bahkan ancaman keselamatan jiwa. Selain itu, dapat diandaikan secara imajiner berbagai kesulitan dan tantangan lain yang tidak termuat dalam Injil, yang dihadapi oleh Keluarga Kudus Nazaret dalam kehidupan harian mereka di Nazaret. Di sinilah kelapangan hati, tekad yang kuat, sikap pasrah, iman yang teguh, pengharapan yang tetap terpelihara, dan kasih yang terus berkobar menemukan kedalaman maknanya.

Teladan Ekaristis

Keluarga Kudus Nazaret sungguh-sungguh hidup menurut kehendak Allah dan mengutamakan-Nya di atas segalanya. Kehendak-Nyalah yang menjadi santapan serta pusat hidup mereka setiap hari. Hal ini tercermin dalam penghayatan hidup mereka di dunia. Mereka menjalani hidup dalam kesederhanaan, semangat doa, serta sikap pasrah penuh iman kepada penyelenggaraan llahi.

Maria, ketika masih perawan, menerima Yesus — Sang Sabda yang menjelma — ke dalam dirinya (LG. art. 53) yang didahului oleh persetujuannya kepada Allah melalui warta Malaikat (bdk. LG. art. 56). Oleh karena itu, Maria dengan sepenuh hati yang tak terhambat oleh dosa mana pun memeluk kehendak Allah yang menyelamatkan, dan membaktikan diri seutuhnya sebagai hamba Tuhan kepada Pribadi serta karya Putranya, untuk di bawah Dia dan beserta Dia berkat rahmat Allah yang Mahakuasa, mengabdikan diri kepada misteri penebusan (Ibid.).

Demikian pula halnya dengan Yosef. Ia adalah pribadi yang tulus dan memiliki sikap pasrah kepada kehendak Allah. Ia tidak mengikuti kemauannya sendiri, melainkan membiarkan kehendak Allah terlaksana dalam dirinya. Dengan kata lain, Yosef mendahulukan kehendak Allah daripada kehendaknya sendiri.

Sebagai sebuah keluarga, Yosef dan Maria menjalani hari-hari hidup mereka dalam kesetiaan penuh pada penyertaan Allah, tanpa terguncang dan ternoda oleh tantangan serta kesulitan yang dihadapi. Itulah pengorbanan mereka sebagai persembahan yang indah kepada Allah — pengorbanan tanpa keluh kesah, tanpa protes, dan tanpa gugatan. Mereka tidak membiarkan kesulitan dan tantangan melunturkan ketaatan dan kesetiaan mereka kepada Allah. Mereka menerima semuanya itu dalam iman. Suatu sikap iman yang aktif — yang memadukan usaha dan kepasrahan — yang membiarkan diri dituntun oleh rahmat Allah. Mereka menanggapi panggilan Allah dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa Keluarga Kudus Nazaret merupakan teladan ekaristis yang menjadikan kehendak Allah sebagai pusat hidup mereka. Mereka benar-benar menjadi cerminan citra Allah yang penuh kasih. Itulah sebabnya, Keluarga Kudus Nazaret menjadi teladan pertama dan utama sekaligus inspirator bagi keluarga-keluarga Kristiani.

Penutup

Keluarga Kudus Nazaret merupakan sumber utama spiritualitas Kristiani. Dikatakan demikian, karena mereka sungguh-sungguh hidup menurut kehendak Allah. Mereka mengutamakan kehendak Allah di atas segalanya. Kehendak Allah adalah santapan mereka setiap hari. Mereka menjadikan kehendak Allah sebagai pusat hidup mereka.

Mereka memastikan Yesus tumbuh dalam lingkungn yang saleh dan menghormati tradisi serta adat istiadat Yahudi. Yosef dan Maria memberikan teladan yang paripurna, tidak hanya bagi Yesus tetapi juga bagi keluarga-keluarga di sekitarnya. Dengan kata lain, mereka menunjukkan kepatuhan total kepada rencana Tuhan meski menghadapi segala risiko termasuk ancaman keselamatan jiwa.

Kisah para orang kudus mengafirmasi hal tersebut. Mereka yang tumbuh dan berkembang menjadi matang dalam kehidupan spiritual berasal dari keluarga yang mempraktikkan doa dan kesalehan. Mereka dapat belajar dari kedua orangtua mereka atau salah satunya. Misalnya, Mother Teresa dari Kalkuta. Ia dapat berkembang dalam kerohaniannya karena ia dibesarkan dalam sebuah keluarga yang mengutamakan kesalehan dan doa. Santo Agustinus — Pujangga Gereja, Teolog, Filsuf, dan Uskup dari Hippo — bertobat dan memilih mengikuti Yesus berkat doa yang terus berkanjang dan keteladanan ibunya, Santa Monica.

Keluarga Kudus Nazaret — Yesus, Maria, dan Yosef — membuktikan diri sebagai tempat berseminya nilai-nilai Injil sekaligus merupakan Injil yang hidup. Keluarga Kudus Nazaret adalah model ideal dan teladan tertinggi serta inspirator pertama dan utama bagi keluarga-keluarga Kristiani. Inilah harta surgawi yang dianugerahkan Allah bagi keluarga-kelurga Kristiani.

Penulis adalah Alumnus STFK Ledalero Maumere Flores

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.