Calon Istriku Putu Yuli 

oleh -251 Dilihat
banner 468x60

Dulu Ibu sering mengajak saya mengikuti kebaktian di gereja. Tetapi, setelah dia memeluk agama Islam lalu bercerai dengan Ayah, saya diajaknya ke majlis ta’lim untuk mendengar wejangan dan tausiyah yang seringkali disampaikan oleh Ustaz Syihab. Sesekali saya dapat menangkap kesejukan yang dirasakan Ibu saat mendengar ajaran-ajaran agama, begitu pun saya membaca raut mukanya saat mendengar khotbah pendeta pada hari Paskah, saat ia masih memeluk agama Kristen.

Suatu hari, ketika saya melakukan sesuatu yang dianggap serius oleh Ibu, karena kedekatan hubungan dengan Putu Yuli pacar saya, Ibu menyuruh saya agar menemui Ustaz Syihab. Saya diperintahkan agar mempersiapkan amplop di kantong, lalu setelah sang ustaz memberikan nasehat agama, saya akan memberikan amplop tersebut ketika berpamitan di ambang pintu rumahnya.

Namun, setelah saya menempuh perjalanan dengan motor selama seperempat jam menuju rumahnya, sang istri mengabarkan, bahwa Ustaz Syihab sedang memeriksa pembangunan masjid yang sedang direhabilitasi. Letak masjid tampaknya tak terlalu jauh dari rumahnya, hingga saya bergegas menuju masjid yang tertera tulisan Arab di depannya “Masjid Al-Furqan”.

Di depan sang Ustaz nanti, saya bertekad akan membeberkan segala kesalahan dan dosa-dosa di masa lalu, terutama hubungan saya dengan Putu Yuli, seorang wanita Hindu berdarah Bali, yang selama beberapa tahun menjalin hubungan cinta dengannya. Saya berniat, setelah pengakuan dosa dan kesalahan, saya akan meminum segelas air putih yang telah dibacakan doa, hingga dapat dijamin, bahwa segala dosa akan diampuni dan dimaafkan Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Kubah masjid sudah tampak dalam pandangan mata. Jalanan masih becek tertutup oleh lumpur cokelat di musim penghujan. Tetapi, masa depan seakan sudah memancar dalam kalbu saya. Di sekeliling jalan, rumput-rumput hijau segar menembus akar-akar kering yang ditinggalkan sejak masa kemarau tahun lalu. Di sekitar got terdengar gemericik air kotor berbusa dari selokan-selokan sepanjang rumah penduduk. Serpihan jerami, bungkus-bungkus cemilan ikut terbawa arus air mengalir, berputar-putar dan menempel di buih-buih kotoran selokan.

Dalam waktu yang tak begitu lama, sampah-sampah itu akan masuk ke sungai, lalu dari sungai menuju laut, dan dari laut berakhir ke samudera yang maha luas. Saya mencoba membayangkan perjalanan panjang yang mengerikan itu, meski kemudian imajinasi saya terhenti sebelum mencapai ke luasnya lautan samudera.

Setelah memasuki gerbang masjid, saya disambut oleh seorang marbot yang mengenakan sarung dan kopiah hitam berukuran besar karena jidatnya yang jenong. Semula saya ingin menanyakan soal jidatnya yang menonjol tersebut, namun karena khawatir merasa tersinggung dan sakit hati, saya pun mengurungkan niat, dan entah kenapa, tiba-tiba saya dihinggapi rasa takut akan penghakiman Tuhan di akhirat nanti.

Halaman masjid masih becek bekas hujan lebat tadi malam. Selain marbot, tak ada seorang pun di sana. Ketika saya nyatakan ingin berjumpa dengan Ustaz Syihab, saya diantar menuju serambi kanan masjid yang masih dalam proses rehabilitasi. Ustaz Syihab membisikkan sesuatu ke telinga sang marbot agar saya diantar menuju pintu utama masjid, lalu menunggu di ruang dalam.

Ketika memasuki masjid, ternyata di sana sudah menunggu seorang pemuda sekitar 25 tahun, lebih muda dari saya, mengenakan kemeja batik dan kopiah, yang tampaknya sama-sama sedang menunggu kedatangan Ustaz Syihab. Kami melangkah ke arahnya, dan entah kenapa tiba-tiba saya diliputi rasa berdosa seakan-akan saya adalah makhluk yang tak berguna.

Saya menyalami pemuda itu, lalu melihat-lihat sekeliling ruangan masjid, berikut segala macam perabot dan aksesorisnya. Ada lemari berkaca tempat menyimpan sajadah dan mukena yang terletak di pojok bagian kiri, sementara bagian kanannya terdapat bupet yang berjejer di atasnya ratusan Alquran dalam berbagai bentuk dan ukuran. Hal yang tak kalah menarik adalah kaligrafi besar di dinding kanan bertuliskan lafaz “Allah” sedangkan di dinding kiri lafaz “Muhammad”.

Di atas mihrab dan mimbar tempat khutbah Jumat, terdapat lampu hias yang terus menyala sepanjang hari, mengingatkan saya pada kemegahan kerlap-kerlip lampu dan tempat lilin saat memasuki bangunan gereja.

Tulisan Muhammad pada dinding kiri mengingatkan saya pada patung Bunda Maria beserta murid terkasih Yesus Kristus, seakan menatap dalam diam segala penderitaan hidup, bagaikan anak-anak Nabi Muhammad yang satu persatu direnggut oleh malaikat maut atas kehendak Sang Ilahi. Saat itu di dalam masjid, saya masih merasa sebagai makhluk asing yang tak berharga. Saya merasa sebagai anak manusia yang banyak berdusta, bersikap kasar, dan tak henti-hentinya berbuat maksiat dan angkara murka di muka bumi ini.

Cuaca pagi yang kelabu di sekitar masjid, tampak semakin gelap oleh awan-awan hitam menjelang hujan kembali turun. Sang Marbot memerintahkan saya duduk di samping mihrab. Sambil mengangkat alis dan mengelus janggutnya, ia menjelaskan dengan setengah berbisik tentang Ustaz Syihab yang akan menjadi imam dan pembaca khutbah Jumat, kemudian ia menjelaskan, bahwa azan Jumat akan dikumandangkan pada Pk. 12.05 siang.

Saya membalas, bahwa kedatangan saya menemui sang Ustaz karena ingin meminta nasihat darinya sebagai seorang pendakwah dan alim ulama di kota kami, dan bukan membicarakan perihal jadwal solat Jumat. Akhirnya, kami pun menunggu sekitar 10 hingga 15 menit, sampai kemudian terlihat Ustaz Syihab melangkah pelan-pelan menuju kami, dengan ciri khasnya berpakaian jubah putih dan peci haji.

***

Saya mencium tangan Ustaz Syihab, setelah ia memasuki ruang masjid, sambil menundukkan kepala dengan penuh harap. Sang Ustaz berdiri membelakangi lampu hias. Ia menatap wajah saya erat-erat, lalu menyuruh saya duduk bersila di samping pemuda berbaju batik. Si marbot segera melangkah keluar masjid meninggalkan kami bertiga.

Sambil menghela nafas, dan dengan kepala menunduk, saya mengutarakan niatan saya menjumpai Ustaz Syihab, seraya menyampaikan salam dari Ibu yang memerintahkan saya untuk menjumpai sang Ustaz. Namun, sebelum usai saya menjelaskan, Ustaz Syihab berbicara seakan ditujukan kepada pemuda di sebelah saya yang datang lebih dulu: “Semua manusia tak luput dari salah dan dosa. Saya sudah paham tentang apa yang kamu utarakan melalui ponsel kemarin sore. Namun, kita juga harus meyakini kasih sayang dan ampunan Allah yang tanpa batas. Biarpun kesalahan manusia sebesar bangunan masjid ini, ampunan Allah justru lebih besar lagi dari masjid ini, bahkan jika pun kesalahan kita sebesar Gunung Karang, ampunan Allah akan lebih besar dari gunung-gunung.”

Pemuda itu mendengarkan dengan patuh seolah-olah menyadari rasa bersalah. Ia memandang wajah Sang Ustaz yang memancarkan kelembutan. “Semoga dengan ampunan-Nya yang tanpa batas, Allah senantiasa melapangkan dan memudahkan langkah-langkah hidup ke depan, dan semoga yang kamu cita-citakan akan tercapai dengan sebaik-baiknya.”

Pemuda itu menyambut dengan kata “amin”, lalu Sang Ustaz menutup tausiyahnya dengan membacakan doa, seraya memanggil sang marbot agar membawakan segalas air putih. Ia membacakan beberapa kalimat di permukaan gelasnya, lalu pemuda itu meminum air yang disodorkan Sang Ustaz. Setelah itu, si pemuda mengucap banyak terimakasih, kemudian berpamitan sambil megucap salam dan menyelipkan amplop di tangan Sang Ustaz.

Kini, giliran saya yang akan menerima wejangan. Ustaz Syihab menatap mata saya. Kedua pipinya agak memerah, matanya nanar dan memancar, namun wajahnya tetap tenang dan kalem. Saya menggeser duduk pelan-pelan, seakan-akan saya sedang duduk di atas udara, dan tak merasakan adanya tanah di bawah kaki saya.

Selama satu menit saya melihat sekilas wajah Sang Ustaz yang seakan bersikap acuh tak acuh. Tetapi setelah itu, saya tak melihat apa pun kecuali peci haji dan jubahnya yang memancarkan aroma wewangian dari minyak wangi buatan Arab. Kemudian, saya mendengar suara-suara dari nasehatnya yang tegas, hingga telinga saya terasa begitu panas.

Saya merasa gelisah karena melewatkan banyak hal yang diutarakan Sang Ustaz, sepertinya kata-kata itu menghilang dan menguap dari ingatan saya. Saya masih ingat ketika menduduki bangku SD dulu, ketika Ibu mengajak saya mendengar khotbah pendeta di gereja, seakan mengisahkan sosok Bunda Maria dan Santo Yohanes, sang Ilahi yang sedih, sampai-sampai saya menatap Ibu menangis sesenggukan sambil memohon pengampunan.

“Siapa nama kamu?” tiba-tiba Ustaz Syihab menanyakan nama saya. Saya pun terkesiap kaget.

“Yosef, Pak Ustaz,” jawab saya singkat.

“Bukan Yusuf?”

“Kurang lebih sama. Tetapi setelah Ibu saya memeluk Islam, dia menambahkan kata Muhammad di depannya. Jadi, nama saya Muhammad Yosef.”

***

Saya menjelaskan duduk perkaranya, perihal hubungan saya dengan Putu Yuli selama beberapa tahun terakhir. Kami sudah menjalani hidup layaknya pasangan suami-istri. Ibu masih belum merestui lantaran kami berbeda agama. Namun demikian, Ibu sendiri kurang paham hukum-hukum agama Islam, bagaimana semestinya seorang lelaki muslim yang mencintai perempuan Hindu, apakah mungkin perbedaan agama itu masih bisa dipertemukan karena rasa suka dan saling mencintai.

“Putu Yuli? Namanya seperti orang Bali?” tanya Ustaz Syihab.

“Bapaknya orang Jawa dan ibunya Bali, tapi setelah orang tuanya bercerai, dia memutuskan menetap di Bali, dan berkenalan dengan saya.”

“Apakah kamu sendiri tinggal di Bali?”

“Sejak tiga tahun lalu, saya bertugas di sekitar Pantai Kuta, lalu berjumpa dengan Putu Yuli.”

“Kalian hidup bersama?” tanyanya agak ragu.

“Ya,” kata saya menunduk, dan merasa bersalah.

Ustaz Syihab membaca istighfar dengan pandangan menerawang, lalu tanya saya sambil memecah kesunyian, “Apakah boleh saya menikah di Pura dengan cara-cara orang Hindu, Pak Ustaz?”

Dia menggelengkan kepalanya, seakan menghadapi sambaran petir. “Itu tidak mungkin,” katanya ketus.

“Apakah saya perlu menikah dengan cara-cara Islam, sementara dia beragama Hindu?”

“Di dalam Islam, syarat pernikahan harus membaca dua kalimat syahadat.”

“Berarti dia harus memeluk Islam dulu?”

“Hmm, anu… ya,” katanya agak ragu.

“Lalu, apakah Ibu saya akan tampil sebagai wali pernikahan?”

“Walinya harus dari pihak bapak,” ujarnya lagi.

“Tapi ayah saya masih beragama Kristen?”

Lagi-lagi Ustaz Syihab merasa bingung oleh keterangan saya yang sebenarnya.

“Siapa nama ayahnya?”

“Mpu Oka Sukanta. Dia seorang Pedanda.”

“Apa itu Pedanda?”

“Ulama bagi agama Hindu.”

“Astaghfirullah al-adzim….”

Tambah pusing saja tampaknya Ustaz Syihab. Kami terdiam dalam waktu yang cukup lama. Setelah beberapa kali menghela nafas, sang Ustaz angkat suara, “Sudah berapa lama kalian tinggal bersama?”

“Dua tahun, Pak Ustaz,” jawab saya singkat.

“Apakah bapak dia merestui hubungan kalian?”

“Pasti merestui, kalau saya berpindah ke agama Hindu. Sedangkan saya beragama Islam, meskipun dulunya lahir sebagai Kristen.”

Ustaz Syihab merasa terpojok, seakan ia sedang meraba-raba dalil mana yang cocok disematkan untuk kasus seperti saya, yang tentu banyak dialami juga oleh generasi muda Indonesia lainnya. Karena ia terdiam begitu lama, lalu tanya saya kemudian, “Pak Ustaz, bukankah tadi Ustaz bilang bahwa ampunan Allah itu begitu luas?”

“Ya,” jawab Sang Ustaz agak ragu.

“Bukankah Allah akan mengampuni dosa-dosa manusia, biarpun sebesar masjid ataupun Gunung Karang?”

“Ee, anu… ya… tapi kasus yang kalian hadapi berbeda…”

“Berbeda apanya, Pak Ustaz… apakah dosa-dosa kami lebih besar dari gunung-gunung?”

“Allah mengampuni dosa manusia, biarpun seluas lautan samudera.”

“Tapi, apakah dosa kami lebih luas dari lautan samudera?”

Ustaz Syihab terdiam mematung. Dia tak berani memutuskan perkara soal perbedaan agama saya dan kekasih saya Putu Yuli. Sebelum berpamitan dan menyelipkan amplop ke tangannya, dia menyarankan saya agar menghubungi Kiai Mustofa Bisri, seorang Kiai NU sekaligus budayawan, yang barangkali dapat memberikan petuah yang menyejukkan, hingga persoalan hubungan kami dapat menemukan jawabannya.

Jika pun masih belum ditemukan jawabannya, lantas apa peran agama yang mestinya berfungsi sebagai ajaran yang menyejukkan, serta memberi solusi atas problema kehidupan manusia di muka bumi ini? (*)

Oleh: Alim Witjaksono

Penulis adalah Prosaik milenial, juga aktif menulis esai dan opini di berbagai media nasional luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.