Ketika Iman Menuntut Lebih dari Sekadar Antusias

oleh -76 Dilihat
banner 468x60

Renungan Rabu, 4 November 2026, Peringatan Wajib Santo Karolus Borromeus

Bacaan liturgi pada Rabu, 4 November 2026, yang berpusat pada Peringatan Wajib Santo Karolus Borromeus, menghadirkan pesan yang tidak nyaman bagi kehidupan iman yang terlalu mudah dan nyaman. Melalui Filipi 2:12-18, Mazmur 27, dan Lukas 14:25-33, Gereja mengajak umat untuk memahami bahwa keselamatan bukanlah warisan otomatis, melainkan tanggung jawab yang harus dikerjakan dengan kesungguhan, pengorbanan, dan kesetiaan. Pesan ini sangat relevan di tengah budaya yang cenderung menuntut hasil cepat, menghindari penderitaan, dan menjadikan kenyamanan sebagai ukuran utama keputusan hidup.

Dalam Bacaan Pertama, Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Filipi agar mereka “mengerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Ungkapan ini sering disalahpahami sebagai ajakan untuk hidup dalam ketakutan yang merusak. Padahal, Paulus tidak sedang mengajarkan bahwa manusia diselamatkan oleh usaha sendiri. Justru pada ayat berikutnya ia menegaskan bahwa Allah-lah yang mengerjakan “baik kemauan maupun pekerjaan” di dalam umat-Nya. Artinya, keselamatan adalah kerja bersama antara rahmat Allah dan respons bebas manusia.

Allah memberi kemampuan, tetapi manusia tetap dipanggil untuk mengambil keputusan, bertahan dalam godaan, memilih kebaikan, dan tidak menyerah ketika iman diuji. Dalam bahasa yang sederhana: rahmat Allah bukan alasan untuk pasif, melainkan dorongan untuk setia. Paulus juga menyinggung sikap yang sangat manusiawi: bersungut-sungut dan berbantah-bantahan. Ia tahu bahwa komunitas iman mudah retak bukan karena penganiayaan dari luar, melainkan karena kecil hati, iri, dan kelelahan dari dalam. Karena itu ia mengajak umat untuk hidup tanpa cela dan tanpa noda, agar mereka dapat bersinar “seperti bintang-bintang di dunia.” Gambaran bintang ini penting. Bintang tidak berteriak untuk menarik perhatian, tetapi terlihat justru ketika suasana sekitarnya gelap.

Demikian pula kesaksian Kristen. Ia tidak selalu membutuhkan retorika besar atau aktivitas publik yang mencolok. Kesaksian yang paling kuat sering lahir dari cara seseorang bekerja secara jujur, memperlakukan orang lain dengan hormat, menolak korupsi, menjaga perkataan, dan tetap berharap ketika keadaan menekan. Mazmur Tanggapan memperkuat arah renungan ini dengan pengakuan iman yang tegas: “Tuhan adalah terang dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?” Kalimat ini bukan penyangkalan terhadap kenyataan bahaya, tetapi pernyataan tentang pusat kepercayaan. Mazmur tidak mengatakan bahwa hidup orang beriman bebas dari masalah. Ia mengatakan bahwa masalah tidak boleh menjadi tuhan yang menentukan arah hidup kita.

Di tengah ketidakpastian ekonomi, konflik sosial, krisis lingkungan, dan tekanan kehidupan keluarga, banyak orang mencari kepastian pada kekuasaan, uang, popularitas, atau kontrol penuh atas masa depan. Mazmur mengingatkan bahwa semua itu pada akhirnya rapuh. Hanya Tuhan yang mampu menjadi terang ketika jalan tidak terlihat, keselamatan ketika kekuatan manusia habis, dan benteng ketika rasa aman dunia runtuh. Namun, pesan paling tajam justru datang dari Injil Lukas 14:25-33. Yesus berbicara kepada orang banyak yang mengikut-Nya, tetapi Ia tidak memanfaatkan antusiasme itu untuk membangun popularitas. Sebaliknya, Ia menyampaikan syarat murid yang radikal: mengutamakan Kristus di atas segala hubungan, memikul salib setiap hari, dan melepaskan diri dari segala milik.

Istilah “membenci” dalam bahasa Injil perlu dipahami secara tepat. Yesus tidak mengajarkan kebencian terhadap keluarga. Ia menegaskan prioritas. Kasih kepada Kristus harus begitu utuh sehingga tidak ada hubungan, ambisi, harta, atau bahkan keinginan akan keselamatan diri yang dapat menggantikan tempat Allah dalam hati. Menjadi murid bukanlah keanggotaan dalam komunitas yang memberi manfaat sosial, melainkan pemilihan hidup yang mengubah seluruh arah keberadaan seseorang.

Yesus menggunakan dua perumpamaan: orang yang hendak membangun menara dan raja yang hendak berperang. Keduanya mengajarkan pentingnya menghitung biaya. Dalam kehidupan modern, kita terbiasa menghitung biaya untuk pendidikan, usaha, pernikahan, atau investasi. Tetapi sering kali kita enggan menghitung biaya kesetiaan kepada nilai-nilai iman: biaya kejujuran, biaya menolak ketidakadilan, biaya mempertahankan keluarga, biaya melayani orang miskin, atau biaya tetap berpegang pada hati nurani ketika lingkungan menuntut sebaliknya.

Di sinilah teladan Santo Karolus Borromeus menjadi sangat penting. Ia lahir pada 1538 dari keluarga bangsawan dan memiliki akses kepada kekuasaan serta kemewahan. Pamannya, Paus Pius IV, mengangkatnya menjadi Kardinal ketika ia masih sangat muda. Namun Karolus tidak menjadikan posisi itu sebagai sarana untuk menikmati kehormatan. Ia memilih hidup sederhana, membagikan kekayaannya kepada orang miskin, dan mendedikasikan dirinya bagi pembaruan Gereja.

Sebagai Uskup Agung Milan, Karolus bekerja keras menerapkan keputusan-keputusan Konsili Trente. Ia mengunjungi paroki-paroki, memperjuangkan pendidikan iman bagi anak-anak, mendirikan seminari untuk pembentukan imam, serta memimpin berbagai sinode untuk memperbarui kehidupan Gereja. Ia tidak hanya berbicara tentang reformasi; ia menjalankannya dengan disiplin, doa, dan pelayanan yang nyata. Keteguhan itu diuji ketika Milan dilanda wabah pada 1576.

Banyak orang meninggalkan kota demi keselamatan diri, tetapi Karolus tetap tinggal. Ia mengubah tempat tinggalnya menjadi rumah sakit dan secara pribadi melayani orang-orang sakit. Ia bahkan menjual harta miliknya, termasuk tempat tidurnya, untuk membantu mereka yang menderita. Tindakan ini adalah jawaban hidup atas Injil hari ini.

Karolus tidak hanya menghormati Kristus dengan kata-kata atau perayaan liturgis. Ia membuktikan bahwa Kristus lebih utama daripada keselamatan pribadi, kenyamanan, harta, dan reputasi. Salib yang ia pikul bukan salib simbolis, melainkan salib nyata berupa tanggung jawab pastoral, penolakan, bahkan ancaman terhadap nyawanya.

Bagi umat Katolik hari ini, peringatan Santo Karolus Borromeus menantang kita untuk bertanya: apakah iman kita masih memiliki harga? Apakah kita bersedia membayar biaya kesetiaan, ataukah kita hanya mengikuti Kristus selama Ia tidak mengganggu rencana hidup kita?. Pertanyaan itu penting karena bahaya terbesar bagi iman saat ini sering bukan penganiayaan terbuka, melainkan pelunakan hati. Iman dapat menjadi rutinitas tanpa konversi. Doa dapat menjadi formalitas.

Misa dapat dihadiri tanpa mengubah cara kita memperlakukan orang lain. Kita dapat menyebut diri murid Kristus, tetapi tetap dikuasai oleh ketakutan akan kehilangan, ambisi jabatan, ketamakan, atau keinginan untuk selalu tampil benar. Paulus menawarkan jalan yang berbeda: bekerja dalam rahmat, hidup tanpa bersungut-sungut, dan bersukacita bahkan dalam penderitaan. Yesus menawarkan jalan yang lebih radikal: menghitung biaya, memikul salib, dan melepaskan keterikatan. Santo Karolus menunjukkan bahwa jalan itu mungkin dijalani, bukan hanya dipuji dari kejauhan.

Pada akhirnya, liturgi hari ini tidak mengajak kita menjadi orang yang fanatik atau menolak dunia. Ia mengajak kita menjadi orang yang bebas. Bebas dari ketakutan, karena Tuhan adalah terang dan keselamatan. Bebas dari keterikatan harta, karena harta bukanlah tujuan hidup. Bebas dari sikap mengeluh, karena rahmat Allah bekerja bahkan dalam kelemahan kita. Dan bebas untuk mencintai, melayani, serta memikul tanggung jawab demi kebaikan orang lain. Mungkin inilah tantangan paling nyata bagi Gereja dan setiap umat beriman: bukan sekadar berkata bahwa Kristus adalah prioritas pertama, tetapi membuktikannya melalui pilihan-pilihan kecil setiap hari.

Ketika kita memilih kejujuran di atas keuntungan, kasih di atas dendam, pelayanan di atas kepentingan pribadi, dan kesetiaan di atas kenyamanan, maka kita mulai bersinar seperti bintang di tengah dunia yang gelap. Santo Karolus Borromeus, doakanlah agar kami tidak hanya menjadi pengikut Yesus ketika mudah, tetapi juga ketika mahal; bukan hanya ketika dilihat orang, tetapi juga ketika tak seorang pun menyaksikan; dan bukan hanya ketika iman memberi kenyamanan, tetapi terutama ketika iman menuntut pengorbanan.

Oleh: Redegundis Kesa

Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.