Ada kecenderungan pada manusia untuk harap gampang. Tidak mau berkorban. Hanya mau menerima hasil baik tanpa berjerih payah. Keengganan untuk menderita demi kebenaran dan kebaikan mempengaruhi tingkah laku. Cari aman, plin plan, harap gampang, parasit, bunglon, lari dari tanggung jawab.
Kecenderungan tersebut bertentangan dengan spiritualitas salib yang diusung Yesus. Dia berkata kepada Petrus dan para murid lainnya, “Barangsiapa mau mengikut Aku, harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Aku.” Pernyataan Yesus menunjukkan bahwa spirit kemuridan sejati adalah spirit salib. Tiada murid tanpa salib.
Yesus mengajar para murid untuk berani memikul salib. Dalam salib ada dimensi keberanian berkorban demi kebenaran dan kebaikan. Ada pula dimensi cinta dan ketulusan yang menjadi basis untuk berani menyangkal diri dan mengelola hidup berpedoman sabda Allah. Penyangkalan diri berarti berani mengendalikan keinginan diri yang bertentangan dengan kehendak Allah.
Dalam penyangkalan diri ada kesadaran untuk berpihak selalu pada kehendak Allah dan menjadikannya sebagai prioritas dalam sikap dan perilaku. Keinginan diri yang egoistik, manipulatif dan agresif, dikendalikan dan dikelola dengan bijaksana. Ada pertarungan berat melawan diri sendiri. Itulah penyangkalan diri.
Yesaya dalam bacaan pertama menggambarkan sikap kemuridan yang taat dan berani menderita demi kebenaran. Dengan keyakinan kokoh akan perlindungan dan pertolongan Tuhan, seorang murid sejati siap menderita demi kebenaran dan kebaikan. Yang terpenting adalah kesetiaan melaksanakan kehendak Tuhan, walaupun harus menderita. Tuhan diyakini akan menolong tepat waktu. Seorang murid yang berani memikul salib akan ditopang oleh rahmat Tuhan dan keluar sebagai pemenang.
Dalam setuasi penderitaan karena kebenaran, seorang murid menunjukkan kualitas iman yang mumpuni. Perbuatan kebenaran mengungkapkan iman sejati sebagaimana ditulis Rasul Yakobus dalam bacaan kedua. Iman yang terwujud dalam perbuatan baik dan benar, merupakan tanda kesaksian kemuridan yang berspiritualitas salib. Di situ ada komitmen mengikuti kehendak Allah. Ada keberanian mencintai dengan tulus walau terluka dan menderita. Ada kegigihan menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus Sang Manusia Tersalib.
Semoga kita semua para murid Kristus masa kini selalu berani menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti cara hidup Yesus. Itulah wujud kemuridan sejati dan keberimanan tulen.
Oleh: RD Siprianus S. Senda







