Murnikan Motivasi Mengikuti Yesus

oleh -1019 Dilihat
banner 468x60

Semua orang kristiani tentu adalah orang-orang yang beriman. Semua percaya kepada Yesus. Tetapi, apakah pernah kita merenung dan bertanya kepada diri sendiri: “Apa motivasi saya beriman dan mengikuti Yesus?” Bisa jadi motivasi kita hanyalah sebuah motivasi yang dangkal yang sekedar hanya “mau cari enak”. Bisa juga motivasi kita adalah memang sungguh-sungguh mengikuti Yesus apa pun resikonya.

Bacaan Injil yang telah diwartakan memberikan pencerahan dan pemurnian bagi iman kita supaya kita punya motivasi yang jelas dalam mengikuti Yesus Kristus sendiri. Ada beberapa hal yang sekiranya menjadi fokus permenungan kita pada hari ini.

Pertama, orang banyak berbondong-bondong mencari Yesus dan menemukan-Nya. Hal ini terjadi setelah peristiwa Yesus memberi makan 5000 orang sebagaimana yang dikisahkan dalam Injil minggu lalu. Setelah Yesus memberi mereka makan, Yesus dan para murid kemudian bertolak ke seberang untuk terus melakukan karya mereka. Akan tetapi, orang banyak yang menyadari bahwa Yesus dan para murid sudah pergi, kemudian berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Setibanya di sana, Yesus justru mempertanyakan dan menegur motivasi mereka. Ia menegur mereka karena mereka mencariNya dengan sebuah motivasi yang salah: hanya karena mereka makan sampai kenyang dan bukan karena melihat sebuah tanda agung di balik tindakan Yesus itu. Mereka masih belum memahami secara utuh siapa Yesus dan apa maksud tindakan yang telah dilakukanNya.

Yesus kemudian mengajak mereka untuk bekerja demi makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal. Terhadap ajakan Yesus ini mereka juga gagal paham. Mereka memikirkan pekerjaan-pekerjaan hukum Taurat yang dituntut oleh Allah dan menjaga hubungan mereka dengan Dia dan menjamin hidup mereka. Yesus menanggapi kegagalan pemahaman ini dengan menyebut bahwa hanya satu pekerjaan, yaitu percaya kepada Yesus.

Kedua, terhadap ajakan Yesus untuk percaya kepadaNya, orang banyak itu lalu meminta tanda. Mereka meminta Yesus membuktikan klaimNya. Mereka juga mengingatkan Yesus dan bernostalgia tentang tanda besar yang pernah dikerjakan Musa bagi nenek moyang mereka, yaitu pemberian manna, roti dari surga, sebagaimana yang dikisahkan dalam bacaan pertama tadi. Mereka menuntut tanda yang lebih besar lagi. Tanda Yesus sebelumnya ketika Ia memberi makan 5000 orang tidak menjadi tanda bagi mereka. Itu semakin menggambarkan ketidakpercayaan mereka.

Yesus kemudian berkata bahwa roti dari surga, roti yang benar, tidak diberikan oleh Musa dahulu, tetapi diberikan oleh Allah sendiri saat ini, yaitu diriNya sendiri. Yesus menegaskan subjeknya bukan Musa, melainkan Allah Bapa, dan waktunya sesungguhnya bukan pada masa lampau tetapi pada saat ini. Roti yang dari Allah memiliki makna ganda, bukan saja tentang manna yang dahulu diberikan kepada bangsa Israel, tetapi juga menunjuk kepada Anak Manusia yang turun dari surga, yaitu Yesus sendiri. Dia sendiri yang telah turun dari surga dan memberi kehidupan kepada dunia.

Ketiga, Akulah Roti Kehidupan. Orang banyak masih memahami bahwa roti yang dimaksudkan oleh Yesus adalah makanan jasmani. Untuk mendobrak pemahaman ini, Yesus menyatakan diriNya: Akulah Roti Kehidupan. Kata “Akulah” yang selalu diucapkan oleh Yesus sesungguhnya mengingatkan mereka juga tentang keterangan yang diberikan Allah kepada Musa tentang namaNya. “Akulah Aku, Aku ada, Ego Eimi”.

Allah yang ada bersama umatNya kini hadir dalam diri Yesus Kristus. Karya penyelamatan itu digambarkan dengan berbagai kiasan. Akulah Roti Hidup, Akulah Gembala yang baik, Akulah pokok anggur, dsb. Roti kehidupan menegaskan bahwa melalui Yesus, Allah memelihara hidup orang-orang yang percaya, menumbuhkan hidup ilahi dan kekal dalam diri mereka. Dengan percaya kepada Yesus, mereka telah menerima roti itu.

Mereka menerima undangan dan memperoleh hidup yang kekal. Ia tidak akan lapar dan haus lagi sebab di dalam Yesus telah ditemukan jawaban atas dambaan hidup yang terdalam. Dalam Yesus juga yang adalah roti hidup tersedia segala sesuatu yang dibutuhkan untuk hidup yang takkan binasa.

Dari ketiga hal ini, apa yang dapat dibawa pulang bagi kehidupan kita?

Pertama, perlu untuk terus menerus memurnikan motivasi kita dalam iman akan Yesus. Jangan-jangan kita beriman kepada Yesus hanya karena “mau cari enak” demi kepentingan-kepentingan jasmani dan kemudahan akses dalam segala hal.

Beriman kepada Yesus berarti kita harus berjuang dalam hidup. Orang yang beriman bukanlah orang yang mau cari gampang. Orang yang beriman adalah orang yang selalu berjuang. Berjuang bukan saja untuk hidup yang baik kini dan di sini, tetapi juga keselamatan dan bahagia di kehidupan yang akan datang.

Kedua, Yesus telah memberikan tanda yang agung bagi kita dan menjadikan kita manusia-manusia yang baru. Maka, kita diharuskan untuk percaya kepadaNya apapun resikonya. Inilah pekerjaan itu, yaitu percaya kepada Yesus.

Setelah sungguh-sungguh percaya, kita pun diharuskan untuk menjadi tanda di tengah dunia. Dengan sikap dan tutur kata, kita menjadi tanda yang membuat orang mengenal Tuhan kita Yesus Kristus. Rasul Paulus telah mengingatkan ini dalam bacaan kedua tadi. “Hendaklah kamu mengenakan manusia baru dan hendaklah kamu hidup di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya”.

Ketiga, Roti kehidupan itu kini nyata dalam Ekaristi yang selalu kita rayakan. Maka, merupakan sebuah ungkapan iman yang mendalam ketika kita mengikuti Ekaristi dengan penuh iman dan penghayatan. Sudahkah kita mengikutinya dengan penuh penghayatan? Beberapa hari lalu, Paus Fransiskus mengatakan, “Saya terluka melihat mereka menggunakan HP saat Misa”. Perkataan ini diucapkan karena keprihatinan yang begitu mendalam tentang umat katolik yang mengabaikan penghayatan Ekaristi dan lebih fokus pada HP dengan segala kemanisan yang ditawarkan.

Melalui bacaan suci pada hari ini, kita belajar untuk terus memurnikan motivasi kita dalam mengikuti Yesus Kristus. Ia hadir untuk memberi kelimpahan hidup bagi kita sekalian.

Homili Hari Minggi Biasa XVIII

Bacaan I : Kel 16: 2-4. 12-15
Bacaan II : Ef 4: 17. 20-24
Bacaan Injil : Yoh. 6: 24-35

Oleh: Diakon Gregorio Kanaf

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.