Cahaya Kemuliaan dan Salib Tuhan

oleh -286 Dilihat
banner 468x60

Oleh: RD. Leo Mali

Ada kemuliaan yang tidak bersinar dari tahta tinggi dan istana megah, tidak juga dari tepuk tangan massa. Kemuliaan seperti itu justru menyala dari keheningan kayu salib. Kemuliaan seperti ini kita rayakan pada Hari Minggu Palma. Pada mulanya kita menyambut Sang Raja dengan seruan “Hosana bagi anak Daud, diberkatilah Dia yang datang demi nama Tuhan Hosana di tempat yang maha tinggi!” (Mat. 21: 9). Tetapi sekejap waktu kemudian kita pun segera menyaksikan bagaimana Ia diolok, diludahi, ditelanjangi, dan dipakukan pada palang penghinaan (Mat. 26: 14-27: 66). Itulah paradoks Palma—perayaan kemuliaan yang ditautkan erat dengan jalan sengsara Tuhan. Dan justru dalam paradoks itulah terpantul kemuliaan sejati: kemuliaan yangtidak datang darikemegahan duniawiseperti yangsedang dipertontonkan dunia dalam perang yang sedang terjadi di Timur Tengah. Tapi kemuliaan itu tampak dalam kasih yang merendah sampai titik paling akhir di Salib. Nabi Yesaya dalam bacaan pertama berbicara tentang Hamba Allah yang memiliki lidah seorang murid—lidah yang memberi semangat kepada yang letih lesu (Yes 50:4). Namun lidah ini bukan lidah yang mencari selamat. Sang Hamba tidak menutup wajah ketika dicemooh. Ia tidak mundur ketika disiksa. Ia justru membuka diri kepada penderitaan, sebab kekuatannya bukan bersumber dari keinginan untuk menang, melainkan dari kepercayaan mendalam kepada Allah yang menopang.

Yesus Kristus adalah perwujudan utuh dari nubuat ini. Ia datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Ia tidak mempertahankan kemuliaan-Nya sebagai Allah, melainkan mengosongkan diri, menjadi sama seperti manusia (Flp 2:6–7). Bahkan lebih dari itu: Ia menjadi hamba yang taat sampai mati, bahkan mati dengan hina, di kayu salib. Salib-Nya adalah puncak kekuatan kasih. Di sanalah Kristus memerintah sebagai Raja; bukan dengan tongkat besi, tetapi dengan pelukan pengampunan; bukan dalam busana yang mewah cemerlang, tapi dalam luka yang mengalirkan belas kasih.

Kisah Sengsara Yesus dalam Mateus 26 dan teks paralelnya dari Injil yang lain, bukan sekadar laporan kronologis penderitaan seorang manusia. Tapi ia adalah narasi cinta yang tidak terukur. Kisah ini berawal dari ruang atas, ketika Yesus membasuh kaki para murid—tindakan yang di zaman-Nya hanya dilakukan oleh seorang budak perempuan. Setelah itu Ia menyerahkan roti dan anggur sebagai tubuh dan darah-Nya. Kisah itu kemudian berlanjut dalam jalan salib. Ia tidak lari dari pengkhianatan. Ia tidak menolak cawan pahit. Ia tidak membela diri di hadapan Pilatus. Hingga akhirnya Ia disalibkan. Dan dari atas salib, Ia masih sempat berdoa: “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk 23:34). Ucapan singkat ini berbicara lebih banyak dari jutaan dan miliaran lembar teks yang dituliskan kemudian mengenai kisah ini. Kebenaran yang ditegaskan cuma satu: penderitaan bukanlah kataterakhir dari kisah hidup Kristus. Bahwa pengosongan diri Allah (kenosis Allah) bukan kebodohan, melainkan jalan kepada pengangkatan. Bahwa kesetiaan dalam kasih, bahkan mungkin saat itu ketika terasa sia-sia, tapi justru menjadi terang bagi dunia.

KisahsengsaraKristusmenantangkitauntukbe sikapjujuruntuk menghatakan bahwa dunia kita hari ini tidak mengajarkan keberanian seperti itu. Kita hidup dalam zaman di mana banyak orang enggan mengambil risiko demi kebenaran. Dalam dunia politik, banyak yang memilih diam ketika menyaksikan korupsi dan manipulasi kekuasaan, demi menjaga kursi dan kepentingan. Di ruang hukum, keadilan sering ditawar atau dibeli, dan mereka yang tahu kebenaran kerapkali lebih suka menunduk diam daripada bersuara. Di sekolah-sekolah/universitas banyak guru takut memberi nilai buruk pada siswa/mahasiswa. Sedapat mungkin semua lulus dengan nilai baik. Meski sebenarnya adayang seharusnya mengulang. Dalam masyarakat kita ada banyak hal yang tidak sejalan dengan kesaksian kristus. Di tengah semua ini, menjadi murid Kristus berarti menempuh jalan sunyi; sering penuh luka; berani ditertawakan karena iman; berani dimusuhi karena kejujuran; berani memikul salib di tengah zaman yang lebih menyukai zona nyaman daripada jalan kesaksian. Maka marilah kita bertanya dengan jujur dalam hati: Apakah saya sungguh bersedia berjalan bersama Kristus dalam segala risiko kemuridan yang harus ditanggung Pertanyaan ini kita ajukan sebagai konfrontasi diri di hadapan kesaksian Kristus sendiri. IA tidak menyembunyikan wajah-Nya ketika dicela. Ia tidak bersembunyi dari salib. Ia tidak membela diri ketika dihukum, bukan karena Ia tidak berdaya melainkan supaya dunia mengenal KasihNya.

Kristus sendiri yang memulai jalan penderitaan ini sebagai jalan menuju kemuliaanNya. Luka yang Ia derita telah menjadi sumber kehidupan kita. Maka jangan sembunyikan iman kita. Marilah bersaksi bersamanya. Bersama Dia kita akan sanggup bersaksi. Hosana! Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!

Penulis adalah Rohaniwan Katolik Keuskupan Agung Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.