RADARNTT, Kalabahi – Warga desa Waisika dan Nailang, kecamatan Alor Timur Laut, kabupaten Alor selalu mengeluhkan pemadaman listrik yang terjadi setiap hari.
Pemadaman listrik sering terjadi pada petang hingga larut malam, justru saat butuh penerangan. Kegelapan menemani makan malam, belajar malam anak-anak turut tersita, mereka memilih tidur ditemani gelap.
Kondisi miris dianggap biasa karena “kita menumpang di listrik orang (PLN) jadi pemiliknya boleh sesuka hati pemadaman,” umpat warga.
Beberapa warga mengeluhkan masalah pemadaman listrik sangat mengganggu aktivitas terutama di malam hari, meskipun pemadaman listrik karena gangguan jaringan akibat kerusakan bisa dimaklumi tetapi mesti ada pemberitahuan terlebih dahulu dan tidak berulang hal sama setiap hari.
“Hampir setiap hari listrik padam tanpa pemberitahuan apa-apa dan berulang hal sama,” ungkap warga yang meminta dirahasiakan identitasnya.
Pemberitahuan disampaikan alasan dan jadwal pemadaman listrik agar pelanggan sudah menyiapkan alternatif penerangan di rumah masing-masing, bukan tiba-tiba pemadaman dan selalu berulang setiap hari.
PT PLN di wilayah itu masih mengandalkan pembangkit listrik tenaga diesel 86 persen (Global Green Growth Istitute), sehingga sangat bergantung pada pasokan BBM dari luar daerah.
Padahal tersedia potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) seperti panas bumi (Geothermal) dan tenaga surya sangat melimpah.
Mati listrik (biasa juga dikenal dengan mati lampu, listrik padam, atau pemadaman listrik) adalah sebuah keadaan ketiadaan penyediaan listrik di sebuah wilayah.
Penyebab teknis dapat berupa kerusakan di gardu listrik, kerusakan jaringan kabel atau bagian lain dari sistem distribusi, sebuah sirkuit pendek (korsleting), atau kelebihan muatan.
Manager Unit Layanan Pelanggan (ULP) Kalabahi, Fajar Fadhlyamani menjawab media ini, “Kami informasikan bahwa lokasi tersebut berada di Jalur Penyulang Mali. Adapun kondisi panjang jaringan, penyaluran 20 kV yang menggunakan kabel telanjang/A3C serta geografis jaringan yang melewati hutan dan pohon seringkali memberikan dampak gangguan karena jaringan tersentuh benda asing. Adapun di beberapa hari terakhir, kondisi angin kencang juga memperbesar resiko gangguan jaringan,” bebernya menjawab awak media, Minggu (4/8/2024).
Untuk langkah perbaikan, lanjutnya, “Kami tetap konsisten lakukan pemeliharaan berupa perabasan (Right of Way) pohon tinggi tiga meter pada atas-bawah, kiri-kanan dan juga mengganti material jaringan yang sudah berumur,” imbuh Fajar.
Menurunya, vandalisme pun juga terjadi, berupa pelemparan ke jaringan tegangan menengah. Sehingga kondisi padam meluas sulit dihindari.
“Kami mencoba selalu koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan stakeholder terkait. Agar dapat mendukung kelancaran dan kontinuitas listrik di Kalabahi secara keseluruhan,” pungkasnya.
Sebelumnya, Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PLN, Evy Haryadi menyampaikan bahwa PLN terus melakukan upaya transisi energi, salah satunya dengan mengembangkan pembangkit EBT dan infrastruktur pendukungnya.
“Tahun lalu kami berhasil mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung Cirata di Jawa Barat dengan kapasitas 192 megawatt peak (MWp). Ini menjadi PLTS apung terbesar di Asia Tenggara dan mampu menyuplai listrik hijau untuk sebanyak 50 ribu rumah tangga,” ucap Evy, akhir Juli 2024.
Selain itu, Evy menambahkan, PLN juga telah berhasil mengoperasikan PLTS di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara sebesar 10 megawatt dari total kapasitas 50 megawatt. PLTS IKN ini menempati lahan seluas 80 hektar dan dilengkapi 21.600 panel surya.
PLN juga telah memiliki skenario pengembangan EBT secara agresif melalui Accelerated Renewable Energy Development (ARED). Skenario ini dimaksudkan untuk mengakomodasi penambahan kapasitas pembangkit 75 persen berbasis EBT dan 25 persen berbasis gas hingga 2040.
“Kami menyadari transisi energi harus kami lakukan demi mencegah pemanasan global dan memastikan kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang,” tutup Evy. (TIM/RN)







