Apa Keuntungan Sistem PLTS On Grid?

oleh -1926 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Kupang – Sistem PLTS On-Grid adalah sebuah sistem pembangkit listrik tenaga surya yang terhubung langsung ke jaringan listrik utama atau grid. Dalam sistem ini, energi yang dihasilkan oleh panel surya akan digunakan secara langsung untuk memenuhi kebutuhan listrik di dalam rumah atau bangunan.

Jika jumlah energi yang dihasilkan lebih dari yang diperlukan, maka energi tersebut akan dialirkan ke grid listrik publik. Sebaliknya, jika energi yang dihasilkan tidak mencukupi, energi akan disuplai dari grid listrik publik.

Melansir sunterra, berikut adalah beberapa komponen penting dalam sistem PLTS On-Grid:

  1. Panel Surya: Terdiri dari beberapa sel fotovoltaik yang akan mengubah energi matahari menjadi energi listrik searah (DC). 
  2. Inverter: Perangkat elektronik yang berfungsi untuk mengubah energi listrik searah (DC), yang dihasilkan oleh panel surya menjadi energi listrik bolak-balik (AC) ke rumah atau bangunan. Inverter juga dapat mengatur pengiriman energi ke grid listrik publik.
  3. Energy Meter: Alat untuk mengukur energi listrik dan dan mengontrol daya listrik dari sistem PLTS.
  4. Net Meter: Menghitung energi listrik yang masuk/ disuplai dari jaringan grid utilitas.
  5. Grid Listrik Publik: Energi listrik dari Grid PLN digunakan sebagai sumber cadangan energi listrik jika sistem panel surya on grid tidak mampu memproduksi energi listrik yang cukup, seperti saat cuaca buruk atau pada malam hari.

Perbedaan dengan Sistem PLTS Off Grid

Sistem PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) Off Grid dan On Grid adalah dua jenis sistem yang digunakan untuk menghasilkan listrik menggunakan energi matahari. Berikut perbedaannya:

  1. Off Grid
    • Tidak ada koneksi ke jaringan grid
    • Fleksibilitas lokasi
    • Kemandirian energi
  2. On Grid
    • Terhubung ke jaringan grid
    • Investasi lebih rendah
    • Tidak ada penyimpanan energi

Bagaimana Cara Kerja Sistem PLTS On Grid?

Sistem PLTS On Grid merupakan jenis sistem PLTS yang terhubung langsung ke jaringan listrik umum. Ini berarti bahwa energi listrik yang dihasilkan oleh sistem PLTS dapat dialirkan ke jaringan listrik yang ada, dan grid menyediakan sumber energi listrik saat cuaca buruk dan malam hari.

1. Proses Konversi Energi Matahari menjadi Listrik

Proses disini melibatkan penggunaan teknologi yang dikenal sebagai fotovoltaik atau panel surya. Berikut langkah-langkah proses konversinya:

  • Ketika cahaya matahari jatuh pada panel surya, foton dalam cahaya tersebut menumbukkan elektron dalam bahan semikonduktor, menyebabkan terlepasnya elektron.
  • Lalu ketika elektron terlepas dari atom dalam bahan semikonduktor, lapisan positif dan negatif terbentuk. Ini menciptakan medan listrik di dalam panel surya.
  • Medan listrik dalam panel surya mendorong elektron bebas untuk mengalir melalui bahan semikonduktor. Kontak logam pada permukaan atas dan bawah sel fotovoltaik menangkap elektron tersebut dan mengalirkan mereka melalui kawat logam.

2. Proses Penyimpanan dan Pengiriman Listrik ke Jaringan PLN

  • Arus listrik yang dihasilkan oleh panel surya dapat digunakan secara langsung untuk memasok daya ke peralatan listrik atau diarahkan ke sistem penyimpanan energi seperti baterai, di mana energi dapat disimpan untuk digunakan di masa mendatang.
  • Sebagian besar peralatan listrik rumah tangga menggunakan arus bolak-balik (AC), sedangkan panel surya menghasilkan arus searah (DC). Oleh karena itu, arus searah yang dihasilkan oleh panel surya perlu diubah menjadi arus bolak-balik menggunakan alat yang disebut inverter sebelum dapat digunakan untuk daya rumah tangga.
  • Panel surya yang terhubung dengan inverter biasanya dipasang di atap rumah atau area dengan paparan sinar matahari yang baik. Selain itu, sistem juga membutuhkan penghubung listrik untuk terhubung ke grid listrik utama jika ingin menjual kelebihan listrik yang dihasilkan ke perusahaan listrik.

3. Proses Pembayaran dan Penghitungan Listrik

Berikut adalah penjelasan mengenai proses pembayaran dan penghitungan listrik pada sistem PLTS on-grid:

  • Panel surya dipasang di lokasi yang sesuai, seperti atap bangunan atau lahan terbuka yang mendapatkan sinar matahari yang cukup.
  • Produksi listrik dari sistem PLTS diukur dengan menggunakan energy meter yang terpasang pada instalasi PLTS.
  • Net Meter akan mengukur jumlah listrik yang dikonsumsi dari jaringan grid.
  • Pembacaan meteran ini dilakukan untuk menghitung jumlah listrik yang diproduksi oleh sistem PLTS dan jumlah listrik yang dikonsumsi dari jaringan grid.
  • Hitung selisih antara listrik yang diproduksi oleh sistem PLTS dan listrik yang dikonsumsi dari jaringan grid menggunakan sistem Net Metering.
  • Berdasarkan pembacaan meteran, perusahaan listrik akan menghasilkan tagihan listrik yang mencakup listrik yang dikonsumsi dari jaringan grid dan listrik yang diproduksi oleh sistem PLTS.

Apa Keuntungan Sistem PLTS On Grid?

Keuntungan dari sistem PLTS On-Grid adalah sebagai berikut:

1. Keuntungan Ekonomi

  • Penghematan Biaya Listrik
  • Penghematan Biaya Pemasangan
  • Return on Investment (ROI) yang Cepat
  • Pemeliharaan yang Rendah
  • Peningkatan Nilai Properti

2. Keuntungan Lingkungan

  • Sumber Energi Bersih
  • Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca
  • Mengurangi Polusi Udara
  • Penghematan Sumber Daya Alam
  • Dukungan terhadap Pembangunan Berkelanjutan

3. Keuntungan Ketersediaan Listrik

  • Tidak ada ketergantungan pada baterai
  • Dukungan dari jaringan listrik utama
  • Kestabilan sistem

Sistem PLTS On-Grid sangat cocok di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memiliki potensi panas matahari yang sangat besar. Potensi energi surya di NTT sangat besar, yaitu mencapai 66.205 mega watt (MW) secara teoritis dan 9.931 MW secara teknis. 

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya:

  • Tingkat sinar matahari yang cukup tinggi, yaitu sekitar 4,5-6,5 jam per hari
  • Akses yang mudah terhadap sumber daya untuk pemasangan panel surya
  • Biaya pemasangan yang terjangkau

Selain potensi energi surya, NTT juga memiliki potensi energi terbarukan lainnya, seperti: Energi air: 624 MW, Energi minihidro dan mikrohidro: 95 MW, Energi angin atau bayu: 10.188 GW, Panas bumi: 1.223 GW. 

Namun, saat ini 90 persen pembangkit listrik di NTT bersumber dari energi fosil. Sebesar 43,9 persen dari total 534,40 MW pembangkit di NTT, merupakan pembangkit listrik berbasis diesel.

Kondisi ini turut mendorong calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTT nomor urut 3, Simon Petrus Kamlasi dan Adrianus Garu (SIAGA) untuk menerapkan Sistem PLTS On-Grid yang dimulai dari infrastruktur publik seperti kantor pemerintah dan taman-taman kota sebelum merambah sektor privat di rumah tangga dan industri.

“Mungkin hal ini sedikit merugikan PLN tapi nanti kita bicarakan bersama PLN agar mereka terlibat aktif di bagian tertentu sehingga tetap saling menguntungkan dalam menyediakan energi alternatif yang berkelanjutan,” kata calon Gubernur Simon Petrus Kamlasi, dalam suatu kesempatan belum lama ini di Kupang. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.