Oleh: Yoga Duwarto
Konflik antara Israel dengan Hamaz, Palestina di Gaza telah melebar keluar wilayah dengan adanya dukungan kelompok Hezbollah, Lebanon dan gerakan kelompok Houthi, Yaman. Selain tentunya negara Iran dalam konflik menahun, serta serangan bersenjata terhadap Israel.
Baiklah kita mengenal lebih jauh mengenai keberadaan gerakan kelompok Houthi di Yaman, dalam kancah konflik antara Israel dan Hamaz di wilayah Gaza, Palestina.
Munculnya gerakan Houthi di Yaman memiliki sejarah yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor internal maupun eksternal. Dimana pada awalnya, keluarga Houthi di utara Yaman mendirikan gerakan kebangkitan agama, yaitu untuk sekte Islam Syiah Zaydi. Sekte ini sebelumnya pernah memerintah Yaman, tetapi akhirnya wilayah utaranya menjadi semakin miskin dan terpinggirkan.
Ketika perselisihan dengan pemerintah berkuasa semakin meningkat, mereka melancarkan serangkaian perang gerilya, berkonflik tidak hanya dengan tentara nasional tetapi juga dengan kelompok Sunni besar yaitu negara Arab Saudi.
Perubahan kelompok Houthi menjadi sayap politik dan militer dikarenakan dipicu oleh kedekatan Amerika Serikat dengan pemerintah Yaman untuk melawan terorisme. Protes keras datang dari Houthi semakin membesar ketika Amerika dengan operasi militer langsung melakukan intervensi ke Irak untuk menggulingkan pemerintahan Saddam Hussein, yang memiliki pandangan serupa dengan Houthi.
Adanya sejarah Houthi dimulai sekitar tahun 1990-an ketika kelompok ini pertama kali muncul sebagai gerakan politik dan militer. Pendirinya mereka, adalah Hussein Badreddin al-Houthi, yang secara aktif mengkritik keras pemerintah Yaman dan juga kebijakan asing, terutama yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel.
Kemudian pada tahun 2004, konflik bersenjata pertama meletus ketika pemerintah resmi Yaman mencoba menangkap Hussein al-Houthi dan tewas dalam operasi yang dilancarkan tersebut, menjadikannya sebagai martir pengikutnya dan memperkuat gerakan ini di bawah kepemimpinan saudaranya, yaitu Abdul-Malik al-Houthi.
Dimana kemudian diperkuat dengan adanya peristiwa Arab Spring pada Januari 2011 yang membawa angin gelombang protes massal ke negara-negara Arab, termasuk Yaman. Para demonstran di Yaman menuntut pengunduran diri atas Presiden Ali Abdullah Saleh, yang menyebabkan kekacauan di Sana’a, Yaman.
Arab Spring sendiri merupakan gelombang protes yang dimulai dari negara Tunisia dan kemudian menyebar ke berbagai negara lain di Timur Tengah. Di Yaman, muncul atas ketidakpuasan terhadap korupsi dan kondisi ekonomi negara yang buruk sehingga mendorong masyarakat untuk menuntut perubahan.
Gerakan masyarakat ini kemudian oleh kelompok Houthi memanfaatkan situasi untuk semakin memperkuat posisi mereka sebagai oposisi terhadap pemerintah Saleh, Yaman.
Di awal 2014 menjadi titik balik bagi Houthi ketika mereka mendapatkan dukungan politik yang kuat dan mulai melawan Abdrabbuh Mansour Hadi, presiden yang menggantikan Saleh.
Mereka merebut provinsi Sa’da dan ibu kota Sana’a pada awal 2015, memaksa Presiden Hadi melarikan diri ke luar negeri hingga sekarang.
Kemudian Houthi juga melakukan serangan terhadap Israel, yaitu pada Oktober 2023 telah menandai langkah baru bagi Houthi dalam konflik regional. Mereka mulai meluncurkan serangan drone dan rudal balistik ke arah kapal-kapal menuju Israel, semakin meningkatkan kekhawatiran tentang akan melebarnya konflik Israel-Hamas.
Demikian juga adanya dukungan negara Iran menjadi sangat signifikan dalam evolusi gerakan Houthi. Negara Iran memberikan dukungan pasokan senjata canggih serta pelatihan militer.
Keterlibatan langsung Iran menjadi momen penting dalam kebangkitan Houthi dan telah menciptakan faktor yang membuat mereka semakin kuat. Dimana kemudian Iran juga telah menyediakan drone canggih, rudal jelajah anti-kapal, rudal balistik presisi, dan rudal jarak menengah kepada Houthi untuk melakukan serangan terhadap Israel.
Perlu diketahui juga adanya respon internasional terhadap konflik Yaman sangat bervariasi, setelah adanya serangan negara Arab Saudi ke Yaman memerangi kelompok Houthi. Iran mengutuk serangan Arab Saudi sebagai pelanggaran hukum internasional dan kedaulatan Yaman.
Kemudian negara Turki mengecam tindakan Arab Saudi tersebut sebagai penggunaan kekuatan yang tidak proporsional, sementara negara Rusia juga menilai serangan itu melanggar hukum internasional. Namun di sisi lain lagi, negara Denmark mendukung serangan AS dan Inggris terhadap Houthi yang telah banyak melakukan serangan terhadap kapal-kapal Amerika.
Posisi negara Indonesia mengambil sikap netral dan tetap mendukung upaya perdamaian di Yaman. Pemerintah Indonesia mengimbau semua pihak untuk menahan diri dan menyepakati perjanjian perdamaian sambil mengecam serangan Houthi terhadap negara tetangga seperti Arab Saudi.
Indonesia juga memuji adanya peran aktif Arab Saudi dalam proses perdamaian dan berharap semua pihak di Yaman merespons secara positif. Selain daripada itu, negara Indonesia menunjukkan kepedulian terhadap situasi kemanusiaan di Yaman dan menyerukan agar Bandara Sana’a dapat beroperasi kembali untuk mendukung bantuan kemanusiaan.
Secara keseluruhan, gerakan Houthi di Yaman merupakan hasil kompleks dari terjadinya ketidakpuasan ekonomi dan sosial serta adanya intervensi asing. Sehingga akhirnya gerakan perlawanan telah berkembang dari gerakan agama, sekarang menjadi kelompok politik-militer yang kuat dengan berpengaruh besar di wilayah utara Yaman.
Termasuk serangan terhadap Israel adalah contoh bagaimana mereka melibatkan diri dalam konflik regional lebih luas untuk mencapai tujuan ideologisnya.
Minggu, 20 Oktober 2024
Penulis adalah Peneliti dan Pemerhati Kebijakan Publik







