Mengembalikan Wajah Allah dalam Misi: Refleksi Hari Minggu Misi Sedunia ke-100

oleh -33 Dilihat
banner 468x60

Pada hari Minggu, 18 Oktober 2026, Gereja Katolik seluruh dunia tidak hanya memperingati Hari Minggu Biasa XXIX, tetapi juga merayakan sebuah tonggak sejarah yang luar biasa: Hari Minggu Misi Sedunia yang ke-100. Satu abad penuh perjalanan iman, pengorbanan, dan karya penyelamatan yang melintasi benua dan samudra. Untuk memaknai momentum bersejarah ini, Paus Leo XIV menghadirkan sebuah renungan yang mendalam, merajut benang merah antara Injil hari ini dan panggilan perutusan kita di tengah dunia.

Dalam bacaan Injil Matius 22:15-21, kita dihadapkan pada sebuah jebakan teologis-politis yang licik. Orang-orang Farisi dan kaum Herodian mencoba menjerat Yesus dengan pertanyaan seputar pajak: “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar, atau tidak?” Yesus, dengan kebijaksanaan ilahi, tidak terjebak dalam perdebatan duniawi. Ia meminta sebuah dinar, menunjuk pada gambar dan nama yang tercetak di atasnya, lalu mengucapkan kalimat yang menggema sepanjang abad: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Namun, pertanyaan mendasar yang sering luput dari perhatian kita adalah: Apa yang merupakan milik Allah? Kitab Kejadian menjawabnya dengan jelas: manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kita adalah mata uang milik Allah. Memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak-Nya berarti menyerahkan seluruh diri kita, hidup kita, dan waktu kita kembali kepada Sang Pencipta.

Inilah esensi dari tema Hari Minggu Misi Sedunia tahun ini yang diangkat oleh Paus Leo XIV: “Satu dalam Kristus, Bersatu dalam Misi.” Tema ini sangat selaras dengan motto kepausan beliau, In Illo uno unum (Di dalam Dia yang Satu, kita semua menjadi satu). Ketika kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, kita tidak kehilangan jati diri; sebaliknya, kita menemukan kesatuan yang sejati. Misi bukanlah sekadar program kerja atau aktivitas sosial, melainkan luapan alami dari hati yang telah bersatu dengan Kristus.

Paus Leo XIV tidak berbicara dari menara gading. Pesan beliau diwarnai oleh memori hidup beliau sendiri saat menjadi seorang misionaris di pedalaman Peru. Beliau menceritakan bagaimana, di tengah keterbatasan fasilitas dan tantangan geografis yang berat, beliau menyaksikan kekuatan iman dan doa yang secara harfiah mengubah wajah sebuah komunitas. Di sana, beliau belajar bahwa misi yang paling transformatif tidak selalu terjadi melalui kata-kata yang megah, melainkan melalui kehadiran yang setia, doa rosario yang dilantunkan bersama di bawah terik matahari, dan Ekaristi yang dirayakan dengan penuh khidmat di atas meja kayu yang sederhana. Komunitas yang awalnya terpinggirkan dan putus asa, bangkit menjadi Gereja yang hidup karena mereka merasa dikasihi dan diutus.

Pengalaman di Peru ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa misi adalah tentang memanusiakan manusia melalui cinta kasih Kristus. Selama 100 tahun terakhir, Hari Minggu Misi Sedunia telah menjadi jantung perutusan universal Gereja. Paus Leo XIV dengan tulus menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam atas dukungan umat Katolik global. Selama satu abad, doa, keringat, dan air mata para misionaris telah didukung oleh kemurahan hati umat di seluruh penjuru dunia. Tanpa solidaritas ini, cahaya Injil tidak akan bersinar terang di tempat-tempat paling terpencil di bumi.

Namun, rasa syukur atas satu abad perjalanan ini tidak boleh membuat kita berpuas diri. Paus mengajak kita untuk memperbarui komitmen. Beliau secara khusus mengetuk hati kita untuk bersatu dalam doa dan kemurahan hati. Para misionaris, baik mereka yang berada di garis depan maupun mereka yang melayani di tengah masyarakat modern yang semakin sekuler, masih sangat membutuhkan dukungan kita. Doa kita adalah napas bagi mereka, dan kemurahan hati kita adalah sarana bagi mereka untuk melanjutkan karya pelayanannya.

Sebagai penutup, mari kita bawa pulang pesan Injil dan pesan kepausan ini. Jangan biarkan gambar Allah yang tercetak dalam diri kita pudar oleh nilai-nilai duniawi yang fana. Berikanlah kepada dunia apa yang menjadi hak dunia, seperti karya, profesi, dan kewarganegaraan yang baik, tetapi berikanlah kepada Allah apa yang menjadi hak-Nya: hati, jiwa, dan raga yang siap diutus.

Selamat Hari Minggu Misi Sedunia ke-100. Mari kita menjadi satu dalam Kristus, dan bersatu dalam misi, membawa wajah Allah yang penuh belas kasih kepada setiap saudara dan saudari kita di seluruh dunia.

Oleh: Redegundis Kesa

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.