Damai Sejahtera dari Tuhan

oleh -156 Dilihat
banner 468x60

DALAM sebuah percakapan dengan seorang sahabat, ia berkata, “saya merasa ada yang kurang jika tidak ke gereja atau berdoa. Saya selalu menemukan kedamaian jika mengikuti Misa. Apalagi ketika sedang mengalami kesulitan, rasanya lebih damai jika berdoa atau ikut misa”.

Perihal damai, boleh jadi masing-masing kita memiliki ukuran damai yang berbeda-beda. Ada yang merasa damai jika mengikuti misa atau berdoa, ada yang merasa damai kalau memiliki pekerjaan yang baik, penghasilan yang cukup, memiliki suatu jabatan di masyarakat atau merasa damai saat berlibur dan masih banyak lainnya. Tetapi satu yang sama, semua kita menginginkan damai sejahtera dalam hidup ini.

Dalam Kisah Para Rasul 14:19-28, dikisahkan bahwa para murid perdana mengalami situasi sulit yakni dihasut untuk tidak percaya pada pemberitaan Paulus dan Barnabas. Paulus dan Barnabas sendiri mengalami penolakan dari orang-orang Yahudi yang tidak percaya kepada Yesus. Paulus bahkan dilempari batu dan diseret keluar kota. Ia disangka telah meninggal. Situasi seperti ini bukanlah situasi damai sejahtera. Tetapi, apakah Paulus kemudian menyerah dan berhenti memberitakan injil karena penganiayaan itu? Tidak. Paulus bahkan semakin berani dan tidak gentar.

Paulus dan Barnabas terus memberitakan injil kepada bangsa-bangsa lain. Mereka berkeliling dari kota ke kota dan kembali ke kota-kota tempat para murid yang percaya kepada Yesus berada. Paulus menguatkan hati para murid untuk tetap teguh beriman dalam situasi sulit. Paulus dengan sukacita menceritakan segala sesuatu yang telah dilakukan Allah dengan perantaraan mereka. Paulus sadar, bahwa semua yang terjadi; banyak orang menjadi percaya kepada Yesus dan orang-orang sakit disembuhkan; adalah bukan kehebatan Paulus, melainkan karena Tuhan menyertai mereka. Dalam Penderitaannya, Paulus tetap bersukacita. Ia menemukan damai sejahtera karena telah memberitakan injil kepada banyak bangsa.

Yesus dalam injil Yohanes 14:27-31a hari ini mewariskan damai sejahtera kepada murid-muridNya, sebelum Ia benar-benar meninggalkan mereka. “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadaMu” (Yoh. 14:27). Yesus mewariskan damai sejahtera yang berbeda dari damai sejahtera yang diberikan oleh dunia. Damai dari Yesus bersifat kekal, tidak sementara dan tidak situasional. Sebaliknya damai yang ditawarkan oleh dunia bersifat sementara, sesaat dan situasional.

Yesus mengetahui apa yang akan dirasakan dan dialami oleh para murid setelah kepergianNya meninggalkan bumi, karena itu Ia berkata lebih lanjut untuk meneguhkan hati mereka, “Janganlah gelisah dan gentar hatimu”. Damai sejahtera dari Yesus memiliki daya kuasa untuk menguatkan hati yang takut, cemas, gelisah dan khawatir. Damai sejahtera dari Yesus sanggup meneguhkan hati dalam situasi sulit supaya tetap percaya. Yesus memberikan damai sejahtera yang melampaui damai sejahtera yang diberikan dunia.

Sebagai murid-murid Yesus masa kini, kita pun diwariskan damai sejahtera dari Yesus. Damai sejahtera yang menguatkan kita untuk tetap mewartakan kabar gembira kepada semua orang yang kita jumpai. Damai sejahtera yang mengalahkan rasa takut dan gelisah karena penolakan, penghinaan, penganiayaan dan situasi sulit lainnya. Damai sejahtera yang harus dibagikan kepada semua orang.

Sebagai komunitas umat beriman, kita pun diajak untuk meneladani sikap hidup jemaat perdana, saling menguatkan dan meneguhkan satu sama lain, sehingga iman akan Yesus bertumbuh subur, berakar kuat dan merambat. Semoga kita yang telah menerima damai sejahtera dari Yesus, sanggup membawa damai itu, membagikannya kepada semua orang tanpa membeda-bedakan. Semoga damai sejahtera yang sama memampukan kita untuk tetap setia dan bertahan dalam kesulitan, tetap percaya meski jalan hidup yang kita lalui tidak selalu mudah.

Renungan Hari Selasa, 5 Mei 2026

Oleh: Suster Magdalena Hokor

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.