Seorang elit politik merasa kewalahan
karena ditantang debat oleh seorang seniman kawakan
yang selama puluhan tahun menjadi idola rakyat jelata.
Sang elit menyadari dirinya lamban berpikir,
sebagian rakyat menjulukinya dungu dan bodoh.
Tantangan debat lagi-lagi dilayangkan sang seniman.
Acara harus disiarkan secara langsung pada Pk. 17.00 sore,
hingga terdengar oleh penasehat elit politik Amerika
nun jauh d sana.
Sang penasehat mengabarkan bahwa dirinya
sanggup membuat elit politik Indonesia lebih pintar
dari seniman mana pun dengan syarat,
biarkan dirinya terlibat dalam proses editing,
dengan tetap menampilkan logo LIVE siaran langsung
namun acara debat justru ditayangkan secara sentral
dari pusat ibukota Jakarta pada Pk. 19.00 petang
sekitar dua jam proses akal-akalan mengedit.
Setelah penayangan acara selesai
sang seniman yang tadinya merasa riang gembira
tiba-tiba terjatuh pingsan
persis di delapan layar teve murah miliknya. ***
Oleh: Supadilah Iskandar







