“Mute dulu, Pak, feedback-nya ngga enak.”
Di layar: wajah-wajah separuh tubuh menjalar,
berdebat tentang siapa yang lebih pancasilais
sambil memutar filter wajah, agar terlihat lebih muda,
jadi lebih bisa dipercaya algoritma.
Pancasila duduk di ruang tunggu,
tanpa ID Meeting,
terlupakan di folder downloads
bersama dokumen-dokumen yang tidak dibaca.
Pancasila ingin bicara,
tapi mikrofon dimonopoli oleh sponsor.
Pancasila ingin menulis,
tapi bahasa sekarang lebih akrab pada emoji dan clickbait.
Di sela-sela pixel,
anak kecil membaca sila ketiga di depan kamera HP yang retak.
Mungkin itu masih cukup untuk jadi mukjizat.
Mei 2025
Oleh: Fileski Walidha Tanjung









