Tuan, kami begitu rindu
tanganmu yang hangat memeluk tubuh mungil kami
dan merebahkan segala lelah di gendonganmu
sebab kekar lengan kota semakin jalang berbuat
membanting tubuh kami yang teramat ringkih
juga pintu-pintu kota mengibaskan kami
pada rawa berlumpur sampai tak ada yang selamat
Tuan, setiap purnama menjelang
kami nantikan dirimu di dekat jendela
berharap engkau segala tiba membawa kasut dan tongkat
menandai pagar-pagar kami yang terbuat dari desau angin
dan memberikan pelajaran pada orang-orang yang tak bertelinga
Tuan,
masihkah kedatanganmu begitu jauh?
ataukah kesabaran kami yang cepat menua?
di pintu ini, kami akan berdiang menunggu
dengan penuh percaya bahwa akan kau turunkan
mana dari surga dan dua hukum yang abadi
Surakarta, September 2025
Oleh: Thomas Elisa








