Kalender kami kembali basah
bukan oleh derai hujan Agustus
ataupun sapuan mata air sungai
melainkan oleh campuran harum
keringat dan darahmu yang menggenang
memenuhi ruang nyata dan maya dengan elegi
dan membuat segenap kota ngilu membisu
Tanganku pun menggigil gemetar
membaca warta media kota
yang menulis keseharianmu
menerjang arum jeram jalanan
dan mengasuh senja di peluk mata ibunda
bukan perkara mudah anak seusiamu
menaklukan bentang hidup yang terkadang biadab
Maka izinkanlah aku mengebumikan
senyum terakhir dan namamu dalam sebuah repertoar
lantas menyanyikan langkah-langkahmu di tiap tembang langgam
serta meyakini kau dan mereka yang telah pergi
senantiasa ada berlipat ganda bersama udara yang mengalir bebas
Surakarta, September 2025
Oleh: Thomas Elisa







