Fatamorgana Kaum Hedonis

oleh -439 Dilihat
banner 468x60

Disarikan dari surat Sapi Betina (al-Baqarah), ayat 6-17.

Sungguh orang-orang yang kufur nikmat, biarpun kau beri peringatan mereka (Muhammad), tetap saja mereka tidak mau beriman.

Karena Tuhan sudah mengunci hati dan pendengaran mereka.

Bahkan ada penutup pada penglihatan mereka, dan bagi mereka siksa yang pedih.

Di antara mereka ada yang berkata, “Kami beriman kepada Tuhan dan hari pembalasan.”

Padahal, mereka sama sekali bukan orang beriman.

Mereka hendak menipu Tuhan juga menipu orang-orang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri, tanpa mereka sadari.

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Tuhan menambahkan penyakitnya, hingga mereka menerima azab yang pedih.

Hal itu dikarenakan mereka gemar berbohong, dan dusta itu telah menjadi bagian dari dirinya.

Jika pun diperingatkan kepada mereka, agar jangan membuat kerusakan, mereka akan menampik, bahkan mengaku telah melakukan pembangunan.

Ingatlah, mereka itu telah melakukan perusakan tetapi mereka tidak memikirkannya.

Dan jika pun dikatakan pada mereka agar beriman, mereka akan menantang: “Untuk apa kami beriman, seperti orang-orang yang kehilangan akal sehat itu?”

Sungguh, mereka itulah orang yang kehilangan akal sehat, tetapi mereka tidak menyadarinya.

Dan ketika mereka berjumpa dengan orang beriman, mereka mengaku-ngaku dirinya beriman, tetapi ketika mereka berkumpul dengan setan-setan yang menjadi penguasa dan idola mereka, mereka akan merasa bangga: “Sebenarnya kami berada di golongan kalian semua.”

Allah akan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kebingungan, karena mereka telah menggadaikan petunjuk Tuhan dengan kesesatan.

Karena itu, sia-sia segala usaha dan perjuangan mereka, dan mereka sama sekali bukan orang yang layak menerima petunjuk dari-Ku.

Perumpamaan mereka seperti orang yang menyulut api.

Untuk sementara waktu, cahaya api itu memang menerangi sekelilingnya, tak lama kemudian Allah akan lenyapkan cahaya itu seketika, hingga mereka kembali hidup dalam kegelapan. ***

Oleh: Wawan Sanpala

Penulis adalah Pengamat sosial kemasyarakatan, pengurus Santri Pencinta Alam (Sanpala), berdomisili di Kota Bandung

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.