Bizantium dan Laut yang Berdoa

oleh -115 Dilihat
banner 468x60

Laut membuka mulut birunya seperti rahib tua yang kehilangan lonceng.

Bizantium berganti nama, lalu burung-burung camar mabuk oleh gema menara.

Kota itu mengenakan mahkota baru dari garam dan pedang.

Sementara ombak mencatat sejarah dengan kuku-kuku air.

Di pelabuhan, rempah-rempah tidur bersama bau darah dan dupa.

Kapal-kapal datang seperti ayat yang diterjemahkan badai.

Dan kubah-kubah menjulang, emas seperti mata singa di padang gurun kitabiah.

Namun lorong-lorong tetap menyimpan tikus, pelacur, dan roti basi.

Konstantinopel—nama itu seperti lonceng dilempar ke dada samudra.

Anak-anak memungut kerang sambil mendengar perang tumbuh di kejauhan.

Para saudagar menimbang sutra seperti menimbang dosa sendiri.

Sedang laut, diam-diam, belajar mengeja doa dari reruntuhan kapal.

Sebab setiap imperium hanyalah pasir yang diberi bendera.

Dan angin selalu lebih tua daripada singgasana.

Malam turun perlahan di atas menara-menara marmer, seperti burung gagak yang membawa surat dari langit yang kelelahan.

(terinspirasi lahirnya Konstantinopel)

Oleh: Fileski Walidha Tanjung

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.