Laut membuka mulut birunya seperti rahib tua yang kehilangan lonceng.
Bizantium berganti nama, lalu burung-burung camar mabuk oleh gema menara.
Kota itu mengenakan mahkota baru dari garam dan pedang.
Sementara ombak mencatat sejarah dengan kuku-kuku air.
Di pelabuhan, rempah-rempah tidur bersama bau darah dan dupa.
Kapal-kapal datang seperti ayat yang diterjemahkan badai.
Dan kubah-kubah menjulang, emas seperti mata singa di padang gurun kitabiah.
Namun lorong-lorong tetap menyimpan tikus, pelacur, dan roti basi.
Konstantinopel—nama itu seperti lonceng dilempar ke dada samudra.
Anak-anak memungut kerang sambil mendengar perang tumbuh di kejauhan.
Para saudagar menimbang sutra seperti menimbang dosa sendiri.
Sedang laut, diam-diam, belajar mengeja doa dari reruntuhan kapal.
Sebab setiap imperium hanyalah pasir yang diberi bendera.
Dan angin selalu lebih tua daripada singgasana.
Malam turun perlahan di atas menara-menara marmer, seperti burung gagak yang membawa surat dari langit yang kelelahan.
(terinspirasi lahirnya Konstantinopel)
Oleh: Fileski Walidha Tanjung







