Puluhan tahun aku berjuang bersama rakyat marjinal,
mereka yang terpojok dan terpinggirkan.
Ribuan kata dan kalimat telah kugoreskan
dalam bait-bait puisi indah nan menawan
hingga rakyat terpesona saat aku tampil di permukaan,
berorasi dan membacakan sajak-sajak gubahanku
yang ditulis dari terang sinar mentari hingga larut malam
laksana syair-syair yang menggugah
untuk melawan kesewenangan dan ketidakadilan
oleh Sang Penguasa yang kafir dan zalim.
Namun tak lama kemudian,
puluhan tahun perjuanganku seakan sia-sia melawan kezaliman
setelah siaran televisi menayangkan Sang Presiden
memutuskan berangkat haji ke Mekah,
serta disambut sumringah oleh para Penguasa Arab Saudi
yang memandu Sang Presiden memasuki pintu Ka’bah. ***
Oleh: Supadilah Iskandar







