Oleh: Muhammad Subhan
KEHIDUPAN seorang penulis memang berbeda dengan pekerja kantoran. Tidak ada jam kerja yang pasti, tidak ada absensi pagi-sore, tidak ada target yang terikat kontrak perusahaan.
Penulis adalah pekerja yang akrab dengan kesunyian. Bekerja dalam ruang yang ia ciptakan sendiri, bekerja dalam diam yang justru kadang mencekik. Di rumah, di warung kopi, di perjalanan, di mana saja, dan dalam menulis itu, ia bertarung dengan dirinya sendiri.
Inspirasi tulisan-tulisan bisa datang tengah malam, atau dini hari, bisa hadir di bus, di pesawat udara, di pelataran masjid, atau ketika hujan mengetuk kaca jendela. Penulis bekerja ketika orang lain tidur, dan tertidur ketika orang lain mulai bekerja.
Mereka juga disebut “pedagang”. Tapi yang diperdagangkan adalah kata-kata.
Kata-kata itulah modal, sekaligus mata pencaharian. Sebagian hidup dari honorarium, sebagian dari royalti buku, sebagian dari artikel di surat kabar, sebagian dari naskah drama, cerpen, puisi, novel, atau tulisan di media digital.
Ada pula yang menjadi penulis bayangan. Ghostwriter nama lainnya. Demi menjaga dapur tetap berasap. Mereka menghidupi diri dan keluarganya dengan huruf, kalimat, paragraf, dan cerita.
Tidak ada yang tampak glamor dari pekerjaan ini. Apa yang mereka jual tidak berwujud fisik, melainkan gagasan, renungan, pengalaman, dan imajinasi. Karena itu penulis sering dianggap aneh, pemalas, tidak punya masa depan.
Orang-orang lupa, tanpa penulis, buku apa yang akan dipelajari di sekolah? Dari mana buku-buku di perpustakaan? Dari mana lahir buku pelajaran, buku sejarah, buku pengetahuan, novel, puisi, dan segala bacaan yang mengantar manusia menjadi manusia?
Saya teringat Hamka dalam bukunya “Kenang-Kenangan Hidup”. Kata Hamka, “Dalam mengarang kita akan bertemu dengan kegagalan. Kadang-kadang kita mendapat inspirasi berturut-turut dan digelari produktif. Tetapi dalam waktu lain kita sepi.”
Kata-kata Hamka ini menyingkap kenyataan pahit yang selalu mengintai dunia penulis: masa panen dan masa paceklik.
Ada masa ide mengalir deras, ada masa pena terasa lumpuh. Namun, penulis tetap setia kepada pekerjaannya. Sebab ia tidak punya dunia lain selain dunia kata-kata.
Pada 1925 Hamka mulai mengarang, tetapi butuh waktu bertahun sampai menerima honorarium yang layak. Penghasilan awalnya sangat kecil, tidak sebanding dengan tenaga yang ia curahkan. Namun, ia menyebut menulis sebagai perniagaan juga, sebab ia berdagang dengan dunianya sendiri, dunia yang membentuk martabatnya.
Karena sepinya dunia menulis itu, tidak ada sorak penonton sebagaimana pemain bola. Tidak ada tepuk tangan riuh seperti musisi di panggung. Penulis hanya punya dirinya sendiri dan kertas yang ia tulisi, atau layar laptop yang tak jarang ia tatap lama-lama menunggu inspirasi datang untuk ia ketik di sana.
Penulis menanam kata demi kata seperti petani yang menunggu panen. Ia melempar jaring ke laut ide seperti nelayan yang berharap ada tangkapan segar. Ia mengukir kalimat seperti pengrajin yang sabar menatah kayu sampai halus.
Kadang ia harus melawan rasa malas, rasa takut tidak dibaca, rasa kecil hati karena naskah ditolak.
Tetapi bagi banyak penulis, berhenti menulis sama seperti kehilangan napas. Menulis adalah jalan hidup, bukan sekadar pekerjaan.
Bayangkan dunia tanpa penulis. Tidak ada novel yang menghibur, tidak ada puisi yang menggetarkan hati, tidak ada buku pelajaran yang mendidik, tidak ada sejarah yang dicatat.
Generasi hanya hidup dari cerita mulut ke mulut, yang mudah pudar ditelan waktu. Dunia akan kehilangan setengah ingatannya, sebab tidak ada yang menuangkan gagasan ke dalam tulisan. Kalaupun ada gambar dan video pendek di media sosial, itu pun berangkat dari tulisan—konsep—yang menjadikan menulis tetap penting.
Dari masa ke masa, penulis menjadi penjaga obor peradaban: dari Plato, Shakespeare, Pramoedya, Taufiq Ismail, hingga penulis-penulis muda hari ini, semua menyumbang pengetahuan pada zamannya. Mereka bukan sekadar pekerja, tetapi pengabad waktu.
Namun, hidup penulis tidak selalu indah. Banyak penulis kesulitan bertahan hidup. Royalti tak seberapa, pembaca sedikit, dan buku yang diterbitkan kadang menumpuk di rumah, di gudang toko buku, atau di penerbit.
Banyak yang harus menjadikan buku sebagai “passive income”—penghasilan jangka panjang yang mengalir dari penjualan buku—itu pun jika pembaca masih membeli. Masalahnya, produktivitas penulis tidak menghasilkan apa-apa jika tidak didukung pembaca.
Masih banyak orang yang meminta buku gratis, seakan-akan proses menulis tidak membutuhkan tenaga dan biaya. “Nanti saya bantu promosi,” kata sebagian orang yang minta cuma-cuma itu. Kalimat yang tampak ramah, tetapi sesungguhnya melukai dan memiskinkan penulis.
Di sisi lain, banyak penulis senior hidup dalam kesunyian. Di masa muda mereka mengisi halaman surat kabar dan majalah, tetapi di hari tua hidup dalam keterbatasan, sakit-sakitan, sementara royalti tak lagi mencukupi. Kisah seperti ini sering terdengar, dan semakin menegaskan betapa rapuhnya ekosistem kepenulisan di negeri ini.
Lantas, bagaimana penulis bertahan hidup?
Dunia sudah berubah. Penulis tidak bisa hanya bergantung pada buku fisik. Ia mesti merambah peluang lain: membuka kelas menulis berbayar, menjadi mentor literasi, membuat kanal YouTube atau podcast, menjadi content creator edukatif, atau menjadi ghostwriter biografi tokoh-tokoh penting. Semua itu ada cuannya. Ia juga bisa menulis e-book, audiobook, atau berkolaborasi menulis buku ajar, buku profil daerah, modul pelatihan, menjadi narasumber atau juri lomba, hingga menggarap proyek-proyek penulisan pemerintah.
Semua itu menuntut keterampilan baru: komunikasi, lobi, jejaring, kemampuan digital, hingga kemampuan pemasaran (branding) diri.
Branding bukan perkara sombong. Branding adalah cara agar pembaca menemukan karyanya, lalu membelinya. Tanpa itu, penulis hanya menjadi legenda dalam kesepiannya—dikenal oleh sedikit orang dan cepat hilang ditelan arus zaman.
Salah satu pekerjaan rumah terbesar negeri ini adalah menghargai penulis sebagaimana mestinya. Gerakan literasi bukan hanya seremonial, tetapi harus menghadirkan dukungan nyata kepada para penulis: penghargaan, royalti yang layak, ekosistem penerbitan yang sehat, serta pembaca yang menghormati karya.
Menjadi penulis tidak mudah. Dibutuhkan keberanian untuk melawan rasa malas, keteguhan untuk terus berkarya meski dihantam badai hidup, dan keikhlasan untuk menulis tanpa jaminan materi.
Namun, di situlah letak kemuliaannya.
Penulis bekerja bukan hanya untuk dirinya. Ia bekerja untuk orang banyak—yang membaca, belajar, lalu mungkin mengubah hidupnya karena sebuah tulisan.
Penulis adalah mereka yang menyalakan lampu di jalan gelap, bahkan ketika mereka sendiri berjalan dengan cahaya yang redup.
Selama masih ada orang yang menulis, peradaban tidak akan padam. Kata-kata adalah jejak yang tidak hilang. Ia melampaui usia manusia, menolak dilenyapkan oleh waktu, dan menjadi benteng terakhir melawan lupa.
Memang bisa hidup dari pekerjaan menulis?
Sangat bisa! Tetapi tidak banyak orang memilihnya. Dan dalam proses menulis, keluaran akhirnya tidak harus menjadikan seseorang sebagai penulis. Pekerjaan apa pun jika dibarengi kemampuan menulis, hasilnya akan dahsyat sekali.
Tidak percaya? Silakan mencoba. Tapi dalam proses kreatif itu, jangan sekadar coba-coba. Karena yang sungguh-sungguh menulis akan menemukan dirinya—dan menemukan pintu-pintu rezeki yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. []
Artikel ini sudah terbit di majalahelipsis.id







