RADARNTT, Maumere – Pasca bencana gempa Flores, 15 Agustus 2026 – banyak relawan kemanusiaan membantu masyarakat terdampak. Tak ketinggalan organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) cabang Sikka. Secara spontan IDI Sikka yang diketuai oleh dr. Thedius Watu, Sp.M., mengorganisir bantuan baik berupa obat-obatan maupun tenaga kesehatan: Dokter dan perawat diterjunkan ke berbagai lokasi. Sampai saat ini, ketika berita ini diturunkan hanya satu dokter yang ada di Palue.
dr. Hyatsintus Patrisius Don atau yang sering dikenal dengan panggilan dokter Sintus adalah satu-satunya dokter yang masih bertahan di Palue. Sejak kehadirannya di Palue pada 28 Agustus yang lalu, ketika banyak dokter relawan telah kembali, dr. Sintus bersedia bertahan di Palue, melayani masyarakat di sana. Di Palue dr. Sintus berjalan dari rumah ke rumah bertemu dengan masyarakat.
Dengan kemampuan yang ada dan bersama Kepala Puskesmas Uwa dan Tuanggeo, dr. Sintus melayani masyarakat Palue. Tanpa mengenakan pakaian seragam dan keruwetan birokrasi, dr. Sintus berusaha melayani masyarakat Palue. Ketika ditanya, mengapa beliau memilih sikap ini? Dengan tenang beliau katakan bahwa ini adalah panggilan kemanusiaannya.
Dia teringat mata kuliah Prof. K. Bertens, SJ tentang Etika. Ujarnya, “Panggilan kemanusiaan mesti berada di atas segala keruwetan birokrasi.” Dokter yang tamatan Universitas Atmajaya-Jakarta, 2005 ini mengatakan, dalam situasi seperti ini masyarakat Palue sangat membutuhkan pelayanan kesehatan.
Menurutnya pelayanan kesehatan tidak hanya saat bencana, tapi juga pasca bencana, guna memastikan pemulihan yang terjadi. Dorongan untuk membantu masyarakat Palue lahir dari panggilan nuraninya untuk benar-benar melakukan apa yang bisa dilakukan.
Selain itu, ada dorongan kuat dari keluarga, istri dan anak-anakya. Istri dan putrinya dalam beberapa hari ini ada bersama di Palue, sedangkan putranya yang sekarang di seminari Mataloko mengirim pesan supaya bapaknya konsentrasi melayani masyarakat Palue, sambil jangan lupa mengirim foto-foto kerusakan di Palue akibat gempa.
Selama di Palue sejak 28 Agustus sampai saat ini ada berbagai masalah kesehatan yang ditangani, mulai dari sakit batuk, pilek akibat debu longsoran dan angin sampai dengan penangan pertama bagi yang infeksi dan stroke. Kebutuhan obat-obatan juga sangat mendesak baik obat tablet maupun injeksi untuk berbagai penyakit.
“Dalam masa-masa ini saya melihat ada satu kebutuhan mendesak bagi masyarakat Palue yakni ketersediaan air bersih,” ujar dokter Sintus.
Diketahui, Palue adalah sebuah pulau vulkanik berukuran kecil yang masuk Kecamatan Palue Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pada Agustus 2013, Pulau Palue mulai ditinggalkan oleh penduduk karena meletusnya Gunung Rokatenda yang menutupi sebagian besar lahan dan kebun dengan abu vulkanik.
Namun, masih banyak warga yang memilih bertahan di Pulau Palue yang terdapat delapan desa: Ladolaka, Tuanggeo, Rokirole, Nitunglea, Maluriwu, Rerewairere, Kesokoja, dan Lidi. Jumlah penduduk lebih kurang 11.000 jiwa. Letak pulau itu berada paling dekat episentrum gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah itu pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pagi. (TIM/RN)







