Tragedi Prada Lucky: Sebuah Krisis Hospitalitas

oleh -1975 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Gian Ribhato

Peristiwa kematian Prada Lucky mengejutkan banyak orang sekaligus menciptakan luka yang dalam bagi keluarga besar korban, institusi TNI dan juga semua orang yang memiliki rasa kemanusiaan. Kematian yang dialami oleh Prada Lucky menimbulkan satu pertanyaan besar; Dalam keadaan normal, mengapa harus ada kekerasan yang berujung pada kematian? Apakah memang keberadaan orang lain merupakan suatu ancaman sehingga solusi yang ada hanyalah menghabisinya?

Pertanyaan yang diajukan ini menimbulkan banyak jawaban, salah satunya yang akan diuraikan dalam tulisan ini adalah krisis hospitalitas. Tanpa adanya hospitalitas, kehadiran yang lain adalah suatu persoalan (autrui comme question), yang lain adalah bahaya potensial, yang lain adalah alien yang perlu dialienasi.

Hospitalitas berasal dari bahaya Prancis hospitalite dan bahasa Italia ospitalita yang memiliki makna sikap penuh kasih dan ikhlas untuk menerima siapa saja. Kata hospitalite dalam bahasa Prancis maupun ospitalitas dalam bahasa Italia berakar dari kata Latin hospitari yang berarti menyapa, menerima, menyambut, menampung dan bahkan memberi makan kepada orang-orang di mana saja bahkan orang yang tidak dikenal. Jika disimpulkan semuanya, hospitalitas berarti mengakui keberadaan orang lain, bertanggung jawab atas orang lain dan bahkan berkewajiban menjaga hak asasi orang lain.

Hospitalitas adalah respect

Hospitalitas selalu mengandaikan adanya respect. Keduanya berjalan bersama bahkan lebih jauh, keduanya identic. Respect berarti mengakui keberadaan atau eksistensi yang lain dalam seluruh keberlainannya. Menurut Paul Ricoeur, eksistensi yang lain adalah eksistensi nilai. Artinya di dalam diri yang lain, terdapat nilai yang tidak boleh dieksploitasi atas dasar apa saja. Eksistensi nilai selalu termuat di dalamnya unsur penting yang menegaskan kemanusiaan setiap orang yakni martabat (dignitas).

Paul Riceour membedakan antara martabat dan harga. Nilai dari martabat adalah kemutlakan, sedangkan harga berkaitan dengan kalkulasi untung dan rugi. Berhadapan dengan orang lain, artinya berjumpa dengan martabat yang membawa serta suatu obligasi etis atau kewajiban etis untuk diakui. Ketika relasi dengan orang lain dibangun atas dasar pertimbangan untung dan rugi, maka pada saat yang bersamaan martabat orang lain dijadikan sebuah harga dan dengan demikian melawan obligasi etis. Ini adalah kejahatan yang tidak disadari.

Obligasi etis melampaui kalkulasi dalam bentuk apa saja. Siapapun dia, apapun statusnya, dalam dirinya ada martabat yang harus diakui. Sekali lagi, respect selalu dalam pengertian pengakuan akan eksistensi yang lain, karena di dalamnya ada martabat yang tidak boleh dikalkulasi demi apapun.

Hospitalitas bukan undangan, tetapi kedatangan

Un benvenuto, si, un benvenuto (kedatangan, ya, suatu kedatangan). Kalimat ini digaungkan oleh Jacques Derida, seorang filsuf Prancis. Derida mengidentikan hospitalitas dengan kedatangan (visitasi). Untuk menjelaskan maksudnya, Derida membedakan antara kedatangan dengan undangan. Dalam sebuah pesta, tuan pesta akan melakukan undangan. Dengan melakukan undangan, ada dua kenyataan yang pasti, yakni ada yang diundang dan ada yang tidak diundang.

Tuan pesta tentu memiliki alasan-alasan tertentu dalam menentukan orang yang diundang. Alasannya berbagai macam, misalnya alasan kekerabatan, kekeluargaan, rekan bisnis, orang yang pernah berbuat baik untuk dirinya dan lain-lain. Pada intinya dalam peristiwa undangan, ada kategorisasi-kategorisasi. Dalam menentukan jumlah undangan, tuan pesta akan menyesuaikannya dengan persiapan-persiapan yang ada, misalnya stok makanan, luasnya tempat dan jumlah kursi yang disediakan. Pada prinsipnya, sifat dari undangan adalah adanya kategorisasi dan bergantung pada kondisi (conditionnelle).

Berbeda dari undangan, kedatangan berada di luar kategorisasi dan tidak bergantung pada kondisi (unconditionnelle). Kedatangan adalah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba. Dia terjadi di luar prediksi apapun. Satu hal yang pasti, bahwa orang lain sekarang berada di depan saya tanpa saya telah menentukan sebelumnya siapa yang harus berjumpa dengan saya, apa statusnya dan seperti apa persiapan saya. Saya benar-benar mengalami peristiwa yang berada di luar segala perhitungan saya. Tanpa saya tahu, orang itu sekarang berada di depan saya.

Menurut Derida, sifat dari hospitalitas identic dengan pengalaman kedatangan dan bukan undangan. Ketika hospitalitas terjadi karena adanya suatu alasan tertentu maka itu bukan pengalaman hospitalitas sesungguhnya. Hospitalitas berarti menerima orang lain dalam seluruh alteritasnya di luar kategori apapun. Krisis hospitalitas terjadi karena, pengakuan akan yang lain berada dalam kategori-kategori tertentu.

Saya mengasihi atau mengakui keberadaannya karena dia seangkatan saya, karena dia kerabat saya atau karena-karena yang lain. Pengakuan yang dibarengi dengan “karena” adalah krisis hospitalitas. Hospitalitas berarti mengatasi abstraksi apapun yang disematkan pada orang lain. Hospitalitas berarti membuang segala bentuk objektifikasi atau definisi apapun terhadap orang lain yang menjadikan alasan mengapa dia harus diakui eksistensinya. Prinsip tertinggi dari hospitalitas adalah visitasi tanpa invitasi.

Tragedi yang dialami oleh Prada Lucky tidak lain sebuah krisis hospitalitas. “saya senior dan anda junior, maka saya berhak menganiaya dan membunuh anda”, munkin ini yang dipikirkan oleh para pelaku kekerasan terhadap Prada Lucky. Inilah bentuk krisis hospitalitas, ketika orang lain dilihat sebagai sebuah abstraksi (junior) dan bukan sebagai pribadi dengan seluruh martabat dalam dirinya yang perlu diakui eksistensinya. Ketika balutan abstraksi, objektifikasi dan kategorisasi terhadap orang lain menutupi kenyataan yang lain sebagai pribadi dengan nilai yang harus diakui, maka potensi yang paling besar terjadi adalah brutalitas, kekerasan dan bahkan pembunuhan.

Dari kasus Prada Lucky, kita harus belajar bahwa keberadaan yang lain bukan hasil abstraksi, tetapi keberadaan seorang pribadi. Yang lain harus diakui sepenuhnya karena dia datang (bukan diundang) dengan martabat yang harus dijaga dan diakui. Bagaimana kesadaran ini bisa dimiliki oleh semua orang? Di sinilah peran pendidikan. Pendidikan bukan hanya menyalurkan pengetahuan, tetapi membentuk pribadi yang bisa melihat yang lain sebagai pribadi. Pendidikan sebagai TNI bukan hanya membentuk pribadi disiplin dan cinta tanah air, tetapi pribadi yang mampu mengakui keberadaan yang lain sebagai pribadi.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat-Unwira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.