Merawat Budaya Pribadi yang Harmoni Dalam Dinamika Sosial

oleh -1326 Dilihat
banner 468x60


Oleh: Aprianus Paskalius Taboen

Saya memulai tulisan ini dengan pertanyaan, dimanakah posisi individu sebagai pribadi yang hidup berdampingan secara kolektif dengan kebudayaan masyarakatnya?, Apakah pribadi berperan memengaruhi budaya atau budayalah yang memengaruhi individu?.

Secara gamblang kita bisa berpendapat bahwa pada umumnya –memang– budaya sebagai hasil cipta karsa manusia secara kolektif adalah yang paling dominan memengaruhi individu. Istilah memengaruhi dalam konteks ini adalah proses “merangkul” individu agar terbentuk menjadi pribadi yang sesuai dengan harapan ideal suatu masyarakat berdasarkan warisan budaya yang dianggap adiluhung.

Namun apakah proses internalisasi budaya kolektif selalu berhasil membawa pribadi kepada kondisi yang ideal?. Mengapa kita tidak mencoba alternatif lain yang merujuk pada kemungkinan bahwa individu juga dapat –berusaha– memengaruhi arah kebudayaan kolektif bahkan eksistensinya dalam dinamika sosial.

Di era globalisasi dan digitalisasi yang serba cepat, manusia dihadapkan pada arus informasi yang begitu deras. Hal ini dapat memicu rekonstruksi pada budaya pribadi yang meliputi sistem nilai, norma, dan perilaku. Hal tersebut memengaruhi identitas dan cara pandang individu. Upaya untuk merawat budaya pribadi yang harmoni menjadi semakin penting untuk menjaga keseimbangan dan keutuhan budaya kolektif di tengah dinamika sosial.

Budaya pribadi yang terbentuk dari kombinasi warisan nilai-nilai leluhur, pendidikan, perkembangan teknologi, adaptasi, dan kondisi mental psikologis kini dihadapkan pada sejumlah kompleksitas yang berpotensi menghasilkan wujud kebudayaan yang baru (transformasi). Wujud kebudayaan baru tersebut adalah kumpulan dari sejumlah budaya pribadi masyarakat dunia yang telah mengalami penyebaran (difusi) secara global. Contohnya: budaya digital, budaya virtual, budaya masyarakat tontonan berbasis teknologi, dan budaya komunitas dan konsumsi berbasis daring.

Fenomena transformasi lahir dari perkembangan budaya pribadi di tengah arus teknologi dan informasi yang beragam dan terus berkembang. Budaya pribadi kini menjadi penentu arah dinamika sosial sekaligus unsur pembentuk budaya kolektif masa kini. Bagaimana individu bertindak dan menanggapi isu-isu kehidupan baik di dunia nyata maupun maya adalah satu contoh cerminan dari budaya pribadi yang bersifat dinamis.

Upaya merawat budaya pribadi yang harmoni

Merawat budaya pribadi yang harmoni adalah upaya yang tidak mudah demi menciptakan kehidupan yang penuh kedamaian dan toleransi ditengah dinamika sosial. Dengan kedamaian dan toleransi, kita dapat membangun kebersamaan yang kokoh tanpa harus khawatir pada isu-isu perpecahan.

Menjadi harmoni berarti bersedia untuk belajar dan berkembang. Dunia memang terus berubah dan kita perlu mengikuti perkembangan zaman agar tidak tertinggal. Namun, dalam belajar dan berkembang, kita tetap perlu berpegang pada nilai-nilai luhur yang telah lama diwarikan dari budaya kolektif. Mengadopsi nilai-nilai leluhur membawa kita pada situasi keselarasan.

Keselarasan dibutuhkan sebagai kendaraan dalam mengarungi dinamika sosial. Terutama yang penuh dengan perubahan dan ketidakpastian. Untuk dapat mencapai keselarasan dibutuhkan hati, budi, dan pikiran luas yang penuh pertimbangan dan penilaian segala sesuatu agar tidak tergesa-gesa dalam perilaku dan tindakan.

Bagaimana pun juga, budaya kolektif dihasilkan dari keterlibatan hubungan antara himpunan budaya pribadi yang mengalami pembauran (asimilasi) dengan segala realitas dinamika sosial yang bergerak relatif cepat. Untuk menjaga keharmonian budaya kolektif maka kita perlu memulainya dari penataan budaya pribadi terlebih dahulu. Demi tujuan dan kepentingan bersama secara arif bijaksana kita membutuhkan tiga hal yakni kesadaran diri, empati, dan Saling Menghormati.

Kesadaran Diri

Kesadaran diri dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengenali dan memahami diri sendiri, termasuk nilai-nilai, tujuan hidup, kekuatan, kelemahan, dan bagaimana kita berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Dalam konteks dinamika sosial, kesadaran diri menjadi penting karena membantu kita untuk: 1) Memahami peran, hak, dan kewajiban kita dalam masyarakat; 2) Mempertahankan jati diri dan nilai-nilai yang kita yakini, sekaligus terbuka untuk menerima perubahan dan belajar dari pengalaman baru; 3) Menyikapi perubahan dengan bijak, adaptif, dan proaktif, tanpa terjebak dalam ketakutan yang berlebihan; 4) Memahami kebutuhan dan batasan diri, serta kebutuhan dan batasan orang lain.

Pepatah kuno yang dikemukakan oleh Delphic seorang filsuf Yunani “Kenali Dirimu Sendiri” menyiratkan bahwa mengenali diri sendiri merupakan proses yang berkelanjutan dan penuh perenungan. Mengenali diri sendiri akan membawa pribadi pada kesadaran akan dirinya sendiri. Memiliki kesadaran diri artinya memahami dirinya dengan sebaik-baiknya, terhadap pikiran, evaluasi diri, dan perasaan. Seorang pribadi perlu terus mengembangkan dan mempertajam kesadaran diri untuk dapat hidup dengan lebih bermakna dan harmoni.

Empati

Edward Bradford pada 1909 memperkenalkan konsep empati sebagai terjemahan dari kata bahasa Jerman Einfuhlung yang memiliki arti “memasuki perasaan orang lain” adalah aspek fundamental dari hubungan manusia yang sehat. Empati dianggap sebagai kemampuan yang melibatkan kepekaan emosional. Sebagai fondasi untuk membangun masyarakat yang satu kesatuan (koheren) dan merangkul berbagai kelompok (inklusif).

Menumbuhkan empati dalam konteks dinamika sosial adalah proses yang penting untuk membangun hubungan yang harmoni dan saling pengertian. Empati memungkinkan kita untuk memahami perspektif orang lain, merasakan apa yang mereka rasakan, dan bereaksi dengan cara yang mendukung dan penuh perhatian.

Sifat empati adalah kunci dari segala harmoni di dunia dengan porsi yang tepat dan tepat sasaran. Memahami kenyataan hidup orang lain sangat penting untuk pengembangan diri kita dan hubungan dengan orang lain. Meskipun pada kenyataannya memang tidak semua orang memiliki tingkat empati yang sama. Ada yang mudah berempati dan ada pula yang kesulitan.

Secara sederhana empati dimulai ketika seseorang menetapkan niat untuk mendengarkan dan mengamati dengan penuh perhatian situasi dihadapannya. Menjadi pendengar dan pengamat yang baik, membantu memperkuat rasa dan emosi yang partisipatif. Dengan mendengarkan dan mengamati berarti kita mencoba memahami bagaimana perasaan pribadi lain berdasarkan situasi mereka. Ini juga membantu kita untuk berlatih perspektif. Wujud dari empati adalah tindakan nyata yang tepat dalam menanggapi situasi tertentu. Tindakan nyata yang tepat tersebut diperoleh dari kemampuan mengidentifikasi apa yang dibutuhkan orang lain demi keharmonisan bersama.

Saling Menghormati

Saling menghormati merupakan sikap yang merujuk pada tindakan menghargai dan menerima perbedaan dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati. Ini bukan berarti kita harus setuju dengan semua pendapat atau perilaku orang lain, tetapi kita harus menghormati hak mereka untuk memiliki pandangan yang berbeda. Menghormati berarti mengakui bahwa setiap individu memiliki nilai dan potensi yang unik dan kita harus menghargai kontribusi mereka dalam membangun masyarakat.

Dalam konteks dinamika sosial, rasa saling menghormati menjadi semakin penting. Di era informasi yang serba cepat, mudah bagi kita untuk terjebak dalam perdebatan yang sengit dan terpolarisasi. Menghormati perbedaan pendapat dan menjaga komunikasi yang santun menjadi penangkal utama dari konflik yang tidak perlu.

Wujud sikap saling menghormati yang paling umum adalah adanya respons yang sesuai dan terukur seperti: perilaku sopan santun, bahasa tubuh yang menghargai, perhatian dan pikiran yang berusaha untuk memahami tanpa memedulikan status sosial dan latar belakang budaya seseorang. Sikap saling menghormati selalu mengedepankan prinsip bahwa semua orang layak dihormati selama individu tersebut adalah makhluk rasional yang sadar dan mampu mengenali nilai-nilai dengan bertanggung jawab.

Persoalannya adalah terkadang rasa hormat yang besar hanya ditunjukan terhadap orang-orang yang dianggap sebagai teladan dan kehilangan rasa hormat terhadap orang-orang yang dianggap tidak berguna. Kita cenderung menunjukkan prinsip spontan bahwa reputasi dan status sosial yang melekat pada seseorang menjadi variabel penting dari sikap hormat terhadap seseorang.

Dalam pandangan ini, rasa hormat memang diatur oleh alasan: kita tidak bisa menghormati individu lain dengan tanpa alasan sama sekali. Sebaliknya, kita menghormati seseorang karena alasan bahwa seseorang memiliki karakteristik yang layak dan pantas menerima rasa hormat. Dengan kata lain, sikap menghormati itu adalah pilihan. Rasa hormat itu disengaja, bersifat terarah dan bukan untuk menarik perhatian tetapi merupakan pertimbangan dan penilaian yang reflektif.

Jalan tengah untuk mengatasi dua pandangan tentang prinsip saling menghormati –entah itu menghormati karena alasan dan pilihan rasional atau menghormati karena memang harus saling menghormati tanpa memandang status sosial dan reputasi– adalah terletak pada penghormatan yang bijaksana. Menghormati dengan bijaksana berarti menghargai martabat dan hak setiap individu, terlepas dari alasan yang mendasari sikap hormat kita. Prinsip yang digunakan adalah hak asasi manusia.
Setiap orang memiliki hak asasi manusia yang sama, seperti hak untuk hidup, hak untuk kebebasan, dan hak untuk berpendapat. Menghormati hak asasi manusia berarti menghormati setiap individu sebagai manusia. Menghormati individu sebagai manusia adalah sifat yang bermartabat dan dasar bagi kehidupan yang damai dan harmoni.

Penutup

Kita bisa bayangkan, jika setiap orang dapat menumbuhkan kesadaran diri, empati, dan sikap saling menghormati, maka peluang untuk menghadapi dinamika sosial yang menyimpan banyak kemungkinan –konstruktif atau destruktif– dapat dilalui dengan keselarasan (harmoni).

Kembali pada pertanyaan awal, dimanakah posisi individu sebagai pribadi yang hidup berdampingan secara kolektif dengan kebudayaan masyarakatnya?, Apakah pribadi berperan memengaruhi budaya atau budayalah yang memengaruhi individu?.

Jawabannya adalah: keduanya saling memengaruhi. Budaya kolektif –warisan leluhur– pertama-tama pasti diterima dan diserap oleh individu melalui sosialisasi. Kemudian warisan budaya kolektif yang melekat pada diri seseorang, lambat laun mengalami perubahan bentuk. Individu akan tiba pada fase dimana tidak lagi mengikuti segala hal yang ditawarkan oleh budaya kolektif warisan leluhur.

Pada akhirnya akan kita sadari bahwa keberadaan individu –yang bersifat dinamis dan membawa budaya pribadi masing-masing– dapat memengaruhi eksistensi dan arah kebudayaan kolektif warisan leluhur.

Penulis adalah Dosen Sosiologi FISIP Universitas Nusa Cendana (UNDANA)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.