Tebuireng Anak Ideologis Banten

oleh -1279 Dilihat
banner 468x60

Oleh Alfaqir Ahmad Rafiuddin

Salah satu pemikiran Syekh Hasyim yang jarang dibahas oleh kebanyakan penulis dan intelektual adalah dunia sains dan teknologi yang memang harus dirangkul untuk memenuhi hajat hidup orang banyak. Bahkan, untuk pemenuhan kebutuhan dan rasa aman bagi populasi jutaan kaum muslim beribadah ke kota suci Mekah.

Tentu saja jutaan jamaah haji dan umroh yang terus bertambah setiap tahun, bulan, hari, bahkan setiap detik mengumandangkan kebesaran “asma Allah” di sekitar Ka’bah, adalah omset ziarah milyaran dollar, yang tak mungkin tertandingi oleh tempat-tempat peziarahan sekelas Sion di Israel, Mahameru di India, Pagoda di Rangoon, Piramida di Mesir, Menara Katedral di Eropa, Kubah di Roma dan Turki, Fuji di Jepang, Gunung Olimpia di Yunani, termasuk Candi Borobudur dan pohon beringin di alun-alun kota Yogyakarta, yang akhirnya tumbang dalam beberapa tahun terakhir ini.

Syekh Hasyim telah melanglang buana, hingga berjumpa dan belajar dari sang guru Syekh Nawawi Al-Bantani di kota suci Mekah. Semangat dan jiwa nasionalisme telah dipupuk dari sang guru, hingga sampai pada kesimpulan bahwa penjajahan di atas muka bumi identik dengan perilaku yang tidak beradab, tak adil dan tak manusiawi, menyimpang dari rel-rel ketakwaan pada kebesaran Sang Ilahi.

Proses sekularisasi yang terkait dengan pembangunan kota suci Mekah tak ubahnya dengan proses islamisasi sains yang saat ini sedang digalakkan. Syekh Hasyim mengajarkan para muridnya agar tidak mudah terjebak dalam term-term asy’ariyah-mu’tazilah, jabariyah-qadariyah, syiah-sunni-wahabi, ekstrim kiri-kanan-tengah, dan seterusnya. Pola pikirnya sangat sederhana, tak pernah terkecoh oleh semangat intelektualisme dan kerumitan berfilsafat yang kemudian menjelma kepada ilmu-ilmu positif hingga memasuki era modernitas. 

Di sisi lain, Syekh Hasyim selalu menolak kedangkalan, terutama bagi mereka yang sibuk mencari-cari dalil (hadits dla’if) untuk politisasi dan pembenaran pemikiran serta kepentingan kelompoknya. Sementara itu, dalam mengamati peranan kaum penjajah dan gerakan pemecah-belahan umat, Syekh Hasyim selalu mengantisipasi upaya mereka dalam politik devide et impera. Ia seakan meneropong mereka dengan lensa kacamata rontgen (spiritualitas Islam), hingga mudah menebak gaya intelektualisme Barat, yang sebenarnya berpangkal dari kerancuan dalam berfilsafat dan berlogika tentang prinsip ketuhanan.

Sebagai salah seorang murid dari Syekh Nawawi, Syekh Hasyim dikenal sebagai santri yang mampu mengamalkan tirakat tingkat tinggi. Sehingga layak di kemudian hari, ia tampil sebagai pemimpin yang mumpuni, baik secara dzahir maupun bathin, intelektual maupun spiritual.

Syekh Hasyim selalu konsisten dengan ungkapan-ungkapan religius yang berbobot, bertenaga, hingga paralel antara apa yang dinyatakan dengan apa yang diperbuatnya. Ia tak mau terjebak dalam perkara-perkara khilafiyah, tetapi sanggup tampil selaku penengah dari berbagai ahli-ahli kitab yang selalu bersengketa.

Validitas pemikirannya tetap diandalkan, bahkan mudah dielaborasi ke dalam konteks kekinian, keindonesiaan, bahkan terus dibedah para penulis muda di era milenial saat ini.

Perjumpaan dengan Syekh Nawawi di Mekah, menciptakan wahana tersendiri dalam pola pikirnya yang semakin menentang arus kolonialisme Barat (Belanda). Setelah pihak Belanda gagal mengkriminalisasi Syekh Nawawi yang harus dikucilkan sebagaimana Pangeran Diponegoro, akhirnya pihak Belanda kecewa setelah mendengar kabar kepergian (hijrah) Syekh Nawawi ke kota suci Mekah.

Karena kepiawaiannya melafalkan ayat-ayat Al-Quran, serta kecakapannya dalam literasi keislaman, Pemerintah Arab Saudi tak ayal memposisikan Syekh Nawawi selaku guru dan mursyid, bahkan dipercaya selaku pengganti Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi sebagai imam masjidil Haram. Ia pun semakin mengakrabi para penuntut ilmu dari wilayah Jawa dan Nusantara yang bertandang ke Mekah, di antaranya Syekh Hasyim Asyari dan Syekh Khalil Bangkalan (Madura).

Di India, guru dari Syekh Hasyim itu dikenal sebagai ulama besar dari tanah Jawa (Nawawi al-Jawwi). Setelah Syekh Hasyim ikut berguru, maka berdatangan puluhan hingga ratusan murid yang kemudian dikenal sebagai ulama dan waliullah, di antaranya Syekh Arsyad Thawil (Cilegon) hingga Abuya Asnawi Caringin (Labuan), yang juga merupakan buyut dari Kiai Rifai Arief, pendiri ponpes Daar el-Qolam di provinsi Banten.

Selain materi-materi keislaman, kepada Syekh Hasyim diajarkan pula makna kemerdekaan, bahkan anti imperialisme dengan cara-cara elegan, sesuai dengan akhlak Rasulullah Saw. Sampai kemudian, kita mengenal bahwa Syekh Hasyim telah banyak mencetak kader patriotik yang mampu menegakkan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan.

Perjuangan yang dilakukannya memang bukan dalam bentuk revolusi fisik, akan tetapi lewat revolusi pendidikan dalam menumbuhkan semangat kebangkitan dan jiwa nasionalisme, yang kesemuanya berpangkal dari nash-nash kitab suci Al-Quran.

Mulai sejak kehadiran Syekh Hasyim ke kota suci Mekah, maka orang-orang Jawa (al-Jawwi) menjadi perhatian serius. Melalui bimbingan dan pembinaan Syekh Nawawi, telah dimunculkan kader-kader yang mumpuni, para alumni yang memiliki integritas keilmuan, agama dan semangat nasionalisme.

Lagi-lagi, pihak Belanda menjadi kalang kabut dan ketar-ketir untuk ke sekian kalinya. Terutama dengan kemunculan tokoh-tokoh proklamator yang berjiwa nasionalis seperti Soekarno-Hatta. Namun demikian, semua pergerakan itu tak lepas dari semangat tokoh sentral yang membawa marwah pesantren, yakni Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, sang perintis dan pendiri pesantren Tebuireng dan Republik Indonesia kita. (*)

Penulis adalah Penulis buku “Marwah Pesantren”, pengasuh ponpes Nurul Falah, Rangkasbitung, Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.