Orang-orang berziarah di atas gundukan makam yang entah kuburan siapa. Pohon beringin yang rindang di sebelah makam itu dapat melindungi ratusan peziarah dari terik sinar matahari. Pada malam Jumat Kliwon, sesajen-sesajen berupa nasi tumpeng, lauk-pauk, kue-kue dan buah-buahan segar terhampar mubasir di sekitarnya. Beberapa hari kemudian, hamparan sesajen itu habis berantakan dimakan tikus, ulat dan codot, hingga ayam-ayam kampung yang berkeliaran di sekitar makam tersebut.
Ustaz Maman (biasa dipanggil “Uman”) yang sering berceramah di masjid kampung sudah mewanti-wanti mengenai tindakan dan perilaku sebagian masyarakat yang berbuat di luar nalar dan akal sehat. “Lebih baik menyedekahkan harta, baik dalam bentuk makanan maupun sandang-pangan kepada fakir miskin dan yatim piatu, ketimbang mengumpulkan bahan makanan yang kemudian dibuang sia-sia seperti itu.”
Sebagian besar masyarakat setuju dengan pendapat Uman, hingga menghimpun kesepakatan untuk menebang pohon beringin yang berdiri di atas lahan tanah wakaf itu. Mereka sepakat pula untuk meratakan kuburan yang gak jelas itu, malahan seorang mantan pejabat tinggi yang sudah uzur, yang dulu pernah mengabdi pada pemerintahan Soeharto, kini sudah tidak lagi mengumbar desas-desusnya, bahwa konon di bawah pohon beringin terdapat sebuah lubang yang di dalamnya hidup seorang wali yang menjelma seekor buaya putih.
Barangkali kisah edan itulah yang membuat banyak masyarakat percaya dengan julukan “Lubang Buaya Putih”.
Rencana penebangan pohon beringin sudah matang, rapatnya diadakan secara terbuka di masjid kampung. Uman akan memimpin langsung prosesi penebangan itu, lalu sebuah beko telah dipinjam masyarakat dari perusahaan di sebelah utara kampung, untuk dimanfaatkan guna meratakan tanah yang dijadikan tempat ziarah dan menyimpan rupa-rupa sesajen tersebut.
Suatu hari di siang bolong, rumah Uman didatangi seorang tamu asing yang mengaku bernama “Ustaz Barsisa”. Dia datang dari daerah Banten, dan mengaku dirinya mampu terhubung dengan alam arwah. Mulanya Uman tidak paham apa-apa yang diomongkan ustaz tersebut. Tapi kemudian, ketika sang ustaz mengusulkan agar pohon beringin itu tetap berdiri di tempatnya, Uman jadi paham juga maksud kedatangannya.
“Rencana kami sudah matang, dan masyarakat sudah sepakat semuanya,” tegas Uman kepada orang asing itu.
“Saya kira, pendapat sebagian besar masyarakat tergantung pada pendapat Pak Uman sendiri, iya kan?”
“Tapi hasil kesepakatan dalam rapat sudah final, dan besok kami akan meratakan tanah setelah menebang pohon beringin itu.”
“Sebaiknya Pak Uman tahan dulu. Saya kira dalam rapat itu hanya disepakati oleh duabelas orang utusan masyarakat. Nah, untuk duabelas orang, masing-masing sepuluh juta, saya kira bisa mengubah pendirian mereka.”
Sebelum pembicaraan dilanjutkan, Ustaz Barsisa memohon dulu menunaikan salat zuhur di rumah Uman. Ia mengambil air wudlu lalu melaksanakan salat lama sekali, hingga mencapai setengah jam lebih. Sementara, Uman sedang berunding dengan istrinya perihal datangnya orang asing yang menawarkan kompensasi agar penebangan pohon beringin dibatalkan.
“Lalu, jatah buat Bapak sendiri, apakah sama dengan mereka, sepuluh juta juga?” protes sang istri.
“Saya kurang paham mengenai itu,” kata Uman menggeleng.
“Tentu Bapak harus minta tiga atau lima kali lipatnya dari sepuluh juta,” desak sang istri.
“Coba nanti kami bicarakan lebih lanjut.”
Seusai salat dan berdoa dengan menadahkan kedua tangannya, Ustaz Barsisa kembali ke ruang tamu. Ia membetulkan posisi sorbannya, hingga nampak sebagai orang saleh yang membuat Uman bersimpati dengan kekhusyukannya.
“Lalu, jatah buat saya dan keluarga, bagaimana, Ustaz Barsisa?” tanya Uman, setelah istrinya mempersilakan sang tamu untuk meminum teh dan menyantap kue-kue yang terhidang di atas meja.
Ustaz Barsisa berdehem beberapa kali, dan katanya, “Untuk Bapak tentu lebih dari itu.”
“Maksudnya?”
Sambil menunjuk ke kamar depan, tempat Uman berbaring di tempat tidur, Ustaz Barsisa memastikan, “Bapak lihat saja di bawah bantal tidur, nanti Pak Uman akan dapatkan uang satu juta rupiah setiap harinya.”
“Setiap hari?” tanya Uman dengan terperangah. “Sampai kapan?” bisiknya lagi.
“Tidak terbatas, artinya Pak Uman akan mendapatkan satu juta setiap bangun tidur.”
Uman merasa dirinya telah mendapat karomah dengan kedatangan tamu istimewa yang kelihatan saleh tersebut. Hari itu juga, ia menerima uang seratus duapuluh juta untuk dibagi-bagikan kepada duabelas utusan masyarakat agar mengubah pendiriannya.
Keesokannya, mulut-mulut mereka akhirnya tersumpal oleh uang sepuluh juta yang diterima atas pemberian langsung dari tangan Uman. Ia berdalih adanya pihak pengembang yang akan memanfaatkan beberapa ratus meter tanah wakaf itu untuk dijadikan gudang, lalu pihak pengembang sudah memberikan persekot berupa uang muka yang dibagi-bagikan untuk duabelas utusan tersebut.
Di pagi hari, setelah bangun tidur, dugaan Uman tidak meleset. Ia benar-benar menemukan uang satu juta rupiah dari bawah bantalnya. Tawa sumringah menghiasi bibirnya. Ia pun memberikan sebagian uang itu untuk keperluan belanja istrinya, berikut kesenangan anak-anaknya pun selalu terpenuhi.
Hari kedua, hari ketiga begitu juga. Pola hidup keluarga meningkat drastis. Setiap hari istrinya memasak daging dan membuat rupa-rupa penganan dan kue kesukaannya. Kulkasnya selalu dipenuhi makanan-makanan enak. Pakaiannya serba mewah dan glamor, segala produk yang ditawarkan melalui belanja online, terus dipesannya, dan Uman selaku suami selalu memenuhi kemauan dan hawa nafsunya, hingga terkesan sebagai wanita muda sosialita.
Namun kemudian, di hari yang kesebelas. Uang yang dijanjikan di bawah bantal itu tidak datang satu rupiah pun. Kedongkolan mulai timbul. Istri dan anak-anaknya menagih janji. Pada hari keduabelas, ketika menemukan kekosongan di bawah bantal, amarah Uman kian menjadi-jadi. Akhirnya, pada hari kelimabelas, ia pun memutuskan untuk mengambil kampak dan berangkat menuju pohon beringin untuk menebangnya dengan paksa.
Saat kampak diayunkan dengan penuh kedengkian, tiba-tiba Ustaz Barsisa, sosok yang ditunggu-tunggu selama beberapa hari ini muncul di belakangnya. “Pak Uman, tenang dulu, sabar dulu, Pak.”
“Sabar apanya? Kau telah memberi jatah yang sama untuk saya dan untuk mereka juga?”
“Berapa?”
“Hanya sepuluh juta. Berarti kau pembohong!”
Ketika Uman menghantamkan kampak itu ke batang pohon beringin, akhirnya Ustaz Barsisa turun tangan menghentikannya. “Jangan kau lakukan, Pak Uman! Stop, jangan coba-coba kau berani melakukan ini!”
Tenaga Ustaz Barsisa kuat sekali saat merebut kampak itu dari genggamannya. Ia pun melemparkan kampak itu ke tengah empang yang berada di sebelah timur kuburan itu. “Sekarang Pak Uman tak memiliki tenaga sekuat saya, iya kan? Karena apa yang Bapak perjuangkan selama ini karena ingin memiliki lebih dan lebih.”
“Tapi kau sendiri yang menjanjikan itu?”
“Janji tinggal janji,” gumam Ustaz Barsisa. “Beberapa minggu lalu, Bapak berencana menebanag pohon ini karena ketulusan berdasarkan kesepakatan bersama, tetapi apa yang Bapak lakukan saat ini demi uang dan pendapatan yang berlebihan.”
Uman mengepalkan tangan kanannya hendak menghajar muka lawan bicaranya. Tetapi, tangan Ustaz Barsisa segera memelintir kedua lengannya dan menjatuhkannya ke tanah. “Kau tidak akan sanggup melawan saya, Uman. Untuk itu, jangan coba-coba menebang pohon beringin ini kalau Bapak ingin selamat. Jika Bapak bersikeras melakukannya, saya tidak akan membiarkan Bapak dan keluarga Bapak untuk hidup tenang sampai kapan pun, paham?”
Setelah Uman menyatakan dirinya paham, Ustaz Barsisa, yang ternyata penjelmaan dari makhluk jin itu pun pergi dan menghilang di kejauhan. []
Oleh: Mu’min Roup
Penulis adalah Peneliti dan pengamat sosial kemasyarakatan, menulis esai dan prosa di berbagai media cetak dan online.







