Sufistik bagi Etika Kewarganegaraan

oleh -820 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Mu’min Roup

Sering kita melihat orang-orang dari berbagai aliran dan mazhab saling bersilat lidah, baik di layar teve, kanal YouTube, Facebook, Instagram dan lain-lain. Mereka boleh dibilang sebagai ahli kalam dan akal, namun tidak tergolong ahli qalbu, yang biasanya dimiliki kalangan sufi. Memang dunia sufistik telah melampaui ahli akidah maupun kaum teolog, yang banyak berkutat di wilayah pencarian kebenaran, sementara sufistik lebih pada upaya menelusuri dan mengarungi jalan kebenaran itu sendiri.

Pada prinsipnya, sehebat apapun seorang sufi maupun filosof mencari kebenaran, hakikat kebenaran sejati tak dapat ditemukan. Manusia hanya akan sanggup “mendekati” kebenaran, karena hanya Allah Yang Maha Tahu kebenaran mutlak. Selama manusia masih terbelenggu oleh berbagai kemelekatan, seperti jabatan, kedudukan, harta dan kekuasaan, tampaknya jiwa manusia akan sulit memasuki alam ruhani. Bagi kaum sufi, memperbanyak zikir adalah upaya melepaskan ikatan jasmani, yang akan meningkatkan resonansi gelombang otak dalam diri manusia.

Tidak jarang kalangan sufi berpendapat, bahwa makanan ruhani adalah ilmu makrifat (tauhid). Memang cukup tinggi derajat orang berilmu, bahkan dalam suatu hadis Nabi, tidurnya orang berilmu akan membuat para setan ketakutan. Lebih tendensius lagi, dinyatakan dalam hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, bahwa seorang yang berilmu memiliki kemuliaan melebihi para ahli ibadah, bagaikan terangnya sinar bulan purnama yang melebihi ribuan bintang di angkasa.

Tetapi, secerdas apapun manusia, pada akhirnya ia harus menyadari bahwa ilmunya hanyalah setetes air di lautan samudera. Untuk itu, kaum sufi menekankan pentingnya “tobat” dari merasa banyak ilmu. Mereka yang suka berdebat dan bertengkar merasa dirinya yang paling benar, seyogyanya dapat meluangkan waktu tertentu untuk diam dan hening, mengunci pendengaran, penglihatan dan ucapan, lalu menyadari ilmu yang dimiliki hakikatnya datang dari Allah Yang Maha menguasai ilmu pengetahuan.

Ketika manusia sanggup mematikan pendengarannya, niscaya akan muncul pendengaran batin, suara-suara dari hati nuraninya sendiri, yang melampaui hati yang zulmani (kegelapan). Terkait dengan ini, ulama dan cendekiawan muslim Buya Hamka pernah mengakui dirinya, ketika menjadi “hampa” dalam keheningan, justru di situlah wujud hakiki tentang dirinya semakin nyata.

Tepat jika dinyatakan, bahwa para sufi seakan meneladani karakter dan qalbu Nabi, sedangkan para ahli fiqih baru sebatas meneladani dzahir dari perbuatan Nabi (fi’liyah). Untuk itu, diceritakan melalui surah al-Hujurat dalam Al-Quran, bahwa ketika orang-orang Arab Baduy bertanya pada Rasulullah, apakah mereka sudah masuk dalam kategori “manusia beriman?” Maka, Rasulullah dengan tenang menjelaskan, bahwa mereka baru “berislam”, karena keimanan membutuhkan pemikiran mendalam, serta ujian-ujian yang dapat dihadapi dengan rasa syukur dan kesabaran.

Untuk itu, penting bagi setiap umat beragama agar mendalami ilmu yang dapat meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan. Seorang pencari ilmu (kebenaran), jika pun tergelincir dalam seribu kegagalan, Allah berjanji bahwa pada waktunya ia akan menemukan jalan-jalan menuju Tuhan. Di dalam Al-Quran dinyatakan (al-Ankabut: 69): “Bagi mereka yang beritikad menempuh jalan Tuhan, maka akan Ku-tunjukkan jalan-jalan itu.”

Alkisah tentang Salman Alfarisi yang selama puluhan tahun mencari guru-guru spiritual. Ia lahir di Iran (Persia) sebagai penganut agama Zoroaster (Majusi Otodoks), lalu pergi ke Syam dan Romawi Timur untuk mencari kebenaran dari agama Nasrani, kemudian ia mendalami agama Yahudi pada seorang pendeta dari Bani Israel. Sampai kemudian, ia berhijrah menuju Madinah dan menemukan sosok Muhammad, yang selama ini banyak dibicarakan oleh guru-guru spiritualnya.

Salman Alfarisi kemudian menjadi sahabat setia Rasulullah, yang banyak memberi masukan dalam strategi Perang Khandaq, ketika para pengikut Nabi dikepung oleh kaum Qurays Mekah dan Bani Israel. Kecerdasan Salman Alfarisi menunjukkan, bahwa orang yang memiliki kualitas keilmuan sebelum hijrah, niscaya ia akan semakin mengalami kematangan spiritual dan intelektual, pada saat ia sudah menjalani hijrah. ***

Penulis adalah Peneliti dan Staf UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, menulis opini dan prosa di berbagai media luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.