Tim Ekspedisi Patriot UNDIP Mengajar di SMP Negeri 2 Wewewa Barat SBD

oleh -1428 Dilihat
Siswa-siswi SMP Negeri 2 Wewewa Barat Sumba Barat Daya saat mengikuti kegiatan Tim Ekspedisi Patriot UNDIP Mengajar (Foto: Hani)
banner 468x60

RADARNTT, Tambolaka – Tim Ekspedisi Patriot UNDIP kerjasama Kementerian Transmigrasi berkenan memenuhi undangan Pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Wewewa Barat kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan yang dikemas Tim Ekspedisi Patriot UNDIP Mengajar dihadiri 446 siswa-siswa ini berlangsung pada Jumat (14/11/2025) di Aula SMP Negeri 2 Wewewa Barat, Jl. Kelembu Kutura, Desa Marokota, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya.

Tim Ekspedisi Patriot UNDIP terdiri atas Hani, Shafna dan Dara. Kegiatan Tim Ekspedisi Patriot UNDIP mengajar turut mendampingi Wakil Kepala Sekolah dan Koordinator Pengurus Bidang OSIS, Antonius Exceferi Billi, S.Pd.K.,gr.

Ia mengatakan, kedatangan Tim Ekspedisi Patriot UNDIP membawa warna baru dan menjadi kegiatan perdana Pengurus OSIS tahun 2025.

“Kedatangan Tim Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi membawa warna baru di kepengurusan OSIS terpilih, ini menjadi salah satu kegiatan perdana OSIS di tahun 2025,” ujarnya.

Materi yang diberikan kepada Siswa-Siswi SMP 2 Wewewa Barat adalah “BELAJAR MEMIMPIN TANPA MENINDAS” menjadi Pemimpin yang dihormati bukan ditakuti. Pemimpin sejatih adalah pemimpin yang bisa memimpin dirinya sendiri, Disiplin waktu, mengatur emosi, menghargai orang lain, dan berani bilang “Maaf” dan “terima Kasih”.

Apa itu menindas? Contoh ringan yang sering terjadi di sekolah adalah ngejek terus menerus, menyuruh teman terus menerus, mengucilkan orang lain dan ngecap kamu tidak bisa.

Salah satu sisiwi pengurus OSIS, Ariance Yuslidia mengatakan sering di sekolah terjadi pembulian atau penindasan dari teman-teman, mereka tidak bisa menghargai satu sama lain.

“Sehingga kami berinisiatif untuk mengundang kakak-kakak Tim Eksedisi Patriot Kementerian Transmigrasi untuk memberikan waktu sekaligus adanya edukasi terhadap sisiwa-siswi di SMP Negeri 2 Wewewa Barat,” kata Ariance Yuslidia.

Pemateri dari Tim Ekspedisi Patriot UNDIP, Hani S. Sawasemariai, S.Sos, M.Pwk menyampaikan, hal menindas perlu menjadi perhatikan seluruh generasi, sehingga ini menjadi tolak ukur untuk bisa menghargai orang lain ketika menjadi pemimpin atau dipimpin. Terutama hal dasar ini disikapi oleh seluruh anak-anak sekolah.

Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang mempunyai tanggung jawab dalam membentuk peserta didik mencapai perkembangan optimal. Sekolah bertanggung jawab dalam membentuk siswa agar menjadi pribadi yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab.

“Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, merunjuk dalam pasal 3 UU Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003, yaitu Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab,” beber Hani.

Fenomena bullying telah lama menjadi bagian dari dinamika sekolah. Umumnya orang lebih mengenalnya dengan istilah-istilah seperti penggencetan, pemalakan, pengucilan, intimidasi dan lain-lain. Istilah bullying sendiri memiliki makna lebih luas, mencakup berbagai bentuk penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti orang lain sehingga korban merasa tertekan, trauma dan tak berdaya. Praktik bullying bisa terjadi diberbagai tingkat sekolah baik SD, SMP, SMA bahkan Perguruan Tinggi.

Bullying adalah suatu tindakan negatif yang dilakukansecara berulang-ulang dimana tindakan tersebut sengaja dilakukan dengan tujuan untuk melukai dan membuat seseorang merasa tidak nyaman,” jelas Hani.

Pemahaman moral adalah pemahaman individu yang menekankan pada alasan mengapa suatu tindakan dilakukan dan bagaimana seseorang berpikir sampai pada keputusan bahwa sesuatu adalah baik atau buruk. Pemahaman moral bukan tentang apa yang baik atau buruk, tetapi tentang bagaimana seseorang berpikir sampai pada keputusan bahwa sesuatu adalah baik atau buruk.

“Peserta didik dengan pemahaman moral yang tinggi akan memikirkan dahulu perbuatan yang akan dilakukan sehingga tidak akan melakukan menyakiti atau melakukan bullying kepada temannya,” tandas Hani.

Selain itu, lanjut Hani, keberhasilan remaja dalam proses pembentukan kepribadian yang wajar dan pembentukan kematangan diri membuat mereka mampu menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupannya saat ini dan juga di masa mendatang. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.