Pendidikan Karakter: Dari Nilai Menuju Kepedulian

oleh -66 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Paskalis Setiawan Mamput

Visi Indonesia Emas 2045 merupakan gema harapan bangsa yang terus digaungkan sebagai gambaran terciptanya Indonesia yang adil dan sejahtera. Berbagai bidang kehidupan dipacu untuk mencapai impian tersebut, salah satunya bidang pendidikan. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam membentuk karakter generasi bangsa.

Sayangnya usaha meningkatkan karakter generasi bangsa diperhadapkan dengan kenyataan yang cukup memprihatinkan. Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat ada 55 kasus kekerasan di satuan pendidikan sepanjang Januari-Juni 2026. Jumlah tersebut hampir menyamai jumlah kasus sepanjang 2025 yang mencapai 60 kasus. Lebih memprihatinkan lagi, kekerasan seksual mendominasi kasus tersebut dengan persentase 78 persen. Realitas ini menjadi tanda tanya serius bagi pendidikan karakter di Indonesia. Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi digital, pendidikan karakter tidak cukup hanya mengajarkan apa yang baik tetapi perlu sungguh-sungguh membentuk manusia yang mampu menghargai martabat, mengendalikan diri dan bertanggung jawab terhadap sesamanya.

Realitas ini menimbulkan pertanyaan mendasar bahwa sejauh mana pendidikan karakter sungguh-sungguh telah membentuk peserta didik? Kita mungkin telah banyak mengajarkan kebaikan, toleransi, integritas dan gotong royong. Namun, meningkatnya kekerasan menunjukkan bahwa pengetahuan tentang nilai belum selalu berubah menjadi cara hidup. Persoalan pendidikan karakter Indonesia tampaknya bukan semata-mata kekurangan nilai, melainkan belum kuatnya relasi kepedulian dalam kehidupan pendidikan.

Berkaitan dengan masalah ini, Nel Noddings, seorang Filsuf Amerika menawarkan gagasan tentang pentingnya memasukkan etika kepedulian dalam ruang pendidikan. Kepedulian terhadap orang lain memacu seseorang untuk peka terhadap situasi. Etika kepedulian dapat terwujud melalui relasi. Menurutnya karena relasi dan ada untuk berelasi. Kemampuan membangun relasi antara guru dan murid di sekolah menjadi kunci terwujudnya proses pendidikan. Dalam tulisan ini, penulis akan menawarkan gagasan Nel Noddings tentang etika kepedulian dalam pendidikan sebagai upaya membangun karakter peserta didik di sekolah dan menuju Indonesia Emas 2045.

Urgensitas Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan maupun kebengsaan. Pengembangan karakter bangsa dapat dilakukan melalui perkembangan karakter Individu (Nopan Omeri, 2015). Relasi antara guru dan siswa sangat menentukan tercapainya pendidikan karakter. Ketika berada di sekolah, pendidikan karakter merupakan tanggung jawab semua guru.

Ada beberapa nilai yang ingin dicapai dalam pendidikan karakter yakni, religiusitas, nasionalis, integritas, mandiri dan gotong royong. Nilai religiusitas ditunjukkan melalui sikap taat pada ajaran agama dan menghargai umat beragama lain. Nasionalis dihidupi melalui sikap apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku dan agama. Integritas melalui sikap tanggung jawab, konsistensi antara tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran, menghargai martabat individu serta mampu menunjukkan keteladanan. Mandiri melalui sikap belajar sepanjang hayat, mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi, dan cita-cita. Gotong royong melalui sikap menghargai sesama, inklusif, tolong menolong, memiliki empati dan rasa solidaritas.

Namun persoalannya bukan sekadar apakah nilai-nilai tersebut telah diajarkan. Pertanyaannya apakah nilai-nilai tersebut sungguh-sungguh dihidupi dalam kehidupan harian di sekolah. Meningkatnya kasus kekerasan menunjukkan adanya jarak antara nilai yang dipelajari dan perilaku yang dijalankan.

Meningkatnya kekerasan di sekolah dapat menjadi tanda bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil membangun relasi yang manusiawi. Sekolah mungkin berhasil menghasilkan peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi keberhasilan tersebut kehilangan maknanya apabila tidak berjalan bersama kemampuan untuk menghargai martabat manusia. Pendidikan yang terlalu berorientasi pada prestasi akademik berisiko melupakan dimensi penting dalam pertumbuhan manusia, yaitu kemampuan untuk peduli.

Karena itu, pendidikan karakter perlu kembali melihat pentingnya relasi. Peserta didik tidak hanya membutuhkan guru yang mampu mengajar, tetapi juga pendidik yang mampu hadir, mendengarkan, memahami, dan mendampingi. Dalam relasi seperti inilah pendidikan karakter tidak lagi sekadar menjadi materi yang diajarkan, tetapi menjadi pengalaman hidup yang sungguh-sungguh dirasakan oleh peserta didik.

Membentuk Karakter Siswa Melalui Etika Kepedulian dalam Pendidikan Menurut Nel Noddings

Gagasan Nel Noddings tentang etika kepedulian tidak terlepas dari pentingnya relasi dalam dunia pendidikan. Relasi haruslah lahir dari kepedulian. Ada dua jenis kepedulian, yakni kepedulian alami (natural caring) dan kepedulian etis (ethical caring). Kepedulian alami muncul kurang lebih secara spontan karena kasih sayang. Kepedulian alami tidak memerlukan upaya etis khusus. Hal itu muncul secara langsung sebagai tanggapan terhadap kebutuhan yang dirawat dan tidak memerlukan mediasi pertimbangan etis-logis.

Kepedulian etis terjadi ketika seseorang bertindak dengan penuh perhatian. Noddings mengatakan bahwa kepedulian etis sangat bergantung pada kepedulian alami yang mana keduanya berfokus pada aspek relasional (Noddings, 2013). Dilihat dari perspektif relasional, bagaimanapun, kepedulian etis berkembang saat seseorang merenungkan pengalaman merawat, dirawat, dan berkomitmen untuk menanggapi orang lain dengan sikap peduli (Noddings, 1989).

Noddings menilai bahwa tujuan utama pendidikan saat ini bukanlah tujuan moral untuk menghasilkan orang-orang yang peduli. Tetapi dorongan yang tak kenal lelah dan sia-sia untuk kecukupan akademik. Prioritas pendidikan perlu ditata ulang. Tujuannya supaya semua anak peduli terhadap yang lain. Hubungan yang sesungguhnya terjadi dalam pendidikan salah satunya adalah sebuah dialog. Dialog atau komunikasi ini yang membuat kedua belah pihak sama-sama memberikan perhatian atau kepedulian.

Pendidikan bagi Noddings juga tidak semata berpusat pada guru atau pengajar. Jika sistem pendidikan ini yang digunakan di tengah masyarakat maka tujuan pendidikan dalam rangka penyelesaian masalah tidak pernah tercapai. Rupanya Noddings tidak ingin guru menjadi satu-satunya pihak yang bertanggung jawab dalam hal pembinaan moral bersama. Ada benarnya bila semua pihak menyadari bahwa tugas mengajar tidak hanya dibebankan kepada guru.

Pendidikan karakter seseorang untuk peduli terhadap sesamanya membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan. Jam sekolah belum cukup membentuk karakter peserta didik. Keluarga bisa menjadi pendamping tambahan untuk mencapai pembinaan karakter anak-anak. Tujuan pendidikan dalam etika kepedulian adalah membentuk moral seseorang menjadi individu yang peduli. Dalam pembahasan tentang moral, Noddings tidak menekankan aspek kognitif. Ia justru menggantikannya dengan afektif. Afektif menempati posisi yang lebih tinggi dalam hal pendidikan moral.

Ada empat komponen penting dalam menghidupi etika kepedulian di dunia pendidikan yakni keteladanan (modelling), dialog, praktek, dan konfirmasi. Pertama, Modeling. Artinya, seorang guru atau yang memberikan perhatian (one-caring) memberikan contoh bagaimana berperilaku kepada yang menerima perhatian (cared-for). Peserta didik tidak hanya belajar melalui apa yang dikatakan guru, tetapi juga melalui cara guru memperlakukan mereka. Guru tidak dapat mengajarkan penghormatan sambil mempermalukan peserta didik. Sekolah tidak dapat mengajarkan anti-kekerasan apabila budaya intimidasi dan penghinaan masih dibiarkan terjadi dalam lingkungan pendidikan.

Kedua, dialog. Dialog menjadi komponen penting dalam pembentukan karakter. Kedekatan antara one-caring dan cared-for menciptakan dialog yang pada akhirnya dapat membantu kedua belah pihak menemukan solusi dalam dunia pendidikan. Dialog sejati sifatnya terbuka, yaitu kesimpulan tidak dipegang oleh satu atau lebih pihak di awal (Noddings, 1988). Dalam hal perilaku menyimpang atau tindakan kekerasan, terkadang memiliki persoalan yang lebih dalam, seperti konflik keluarga, tekanan sosial, perundungan, atau pengalaman tidak diterima oleh lingkungan. Dialog memang tidak selalu langsung menyelesaikan persoalan, tetapi dialog dapat menjadi langkah awal untuk memahami manusia sebelum menghakiminya.

Ketiga, praktek. Pengajaran tentang pendidikan karakter tidak akan tercapai jika tanpa adanya praktek atau latihan. Latihan yang dilakukan memacu kepekaan seseorang setelah menerima pembelajaran. Menghargai perbedaan, toleransi, gotong royong, taat pada agama, dan berbagai nilai kebangsaan tidak akan tercapai tanpa adanya latihan. Keempat, konfirmasi. Konfirmasi mengacu pada reaksi timbal balik dari cared-for tentang kepedulian yang diberikan. Sebuah relasi boleh dikatakan tidak berhasil jika tidak mendengarkan konfirmasi dari cared-for.

Penutup

Data mengenai kekerasan di lingkungan pendidikan menjadi peringatan bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya berorientasi pada kecerdasan dan kompetensi. Bangsa ini membutuhkan generasi yang tidak hanya mampu bersaing, tetapi juga mampu peduli. Sebab, kemajuan bangsa akan kehilangan maknanya apabila tidak disertai dengan penghormatan terhadap kehidupan dan martabat sesama.

Dalam konteks inilah etika kepedulian Nel Noddings menawarkan perspektif yang penting. Pendidikan karakter harus melampaui pengajaran tentang apa yang baik menuju pengalaman nyata untuk mengalami dan memberikan kebaikan. Peserta didik tidak hanya perlu diajarkan untuk peduli, tetapi juga perlu mengalami bagaimana rasanya dipedulikan.

Pada akhirnya, tidak ada Indonesia Emas tanpa manusia-manusia yang menghargai martabat manusia. Generasi emas tidak hanya lahir dari ruang kelas yang menghasilkan peserta didik berprestasi, tetapi juga dari lingkungan pendidikan yang membentuk manusia-manusia yang memiliki hati untuk peduli. Sebab, bangsa yang benar-benar maju bukan hanya bangsa yang memiliki generasi cerdas, melainkan bangsa yang memiliki generasi yang mampu menggunakan kecerdasannya untuk merawat kehidupan bersama.

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Sanata Dharma

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.