Refleksi Takdir Tuhan dan Ikhtiar Manusia

oleh -47 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Hafis Azhari

Sering kita mendengar orang di era hiper modern ini, seakan memaksakan kehendak, bahwa hidup adalah soal pilihan. Padahal, meskipun kita berhak memilih apa pun yang kita sukai, sejatinya kita pun tidak sepenuhnya menjatuhkan pilihan secara mutlak, karena setiap pilihan manusia hakikatnya sudah berada dalam catatan Tuhan Yang Maha Pasti dan Absolut.

Siapa pun kita, bahkan para Nabi sekalipun akan selalu dihadapkan pada suatu hasrat dan cita-cita hidup yang diawali dari suatu kehendak dan ikhtiar, tetapi apakah kehendaknya itu tercapai ataukah tidak, sepenuhnya berada dalam rahasia dan keputusan Allah. Memang, manusia diberi kebebasan untuk berikhtiar dan memilih, tetapi tak ada makhluk manapun yang dapat “mengintip” kebenaran rahasianya, juga hasil akhirnya, kecuali hanya Allah saja Yang mutlak mengetahuinya.

Untuk itu, kualitas keimanan dan ketakwaan seseorang, dapat terbaca dari bagaimana ia menyikapi proses dan jalan hidupnya, atau bagaimana karakteristiknya di saat ia menghadapi rasa sakit (masa sekarat). Ada yang menghadapinya dengan tenang dan sabar, tetapi banyak pula yang menghadapinya dengan sikap arogan, marah dan mencak-mencak tak keruan.

Ribuan dan jutaan manusia yang terkena pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu, dapat dijadikan ukuran bagi suatu masyarakat (bangsa), bagaimana penyakit itu menggerogoti tubuh-tubuh manusia, serta bagaimana cara mereka menyikapi penyakit yang dideritanya.

Bagi mereka yang tak percaya pada Tuhan (atheis) akan dihinggapi rasa frustasi dan putus asa, hingga mereka memilih disudahi dari kehidupan dunia yang dianggap meresahkan dan mengecewakan ini. Tetapi, di antara mereka ada yang benar-benar wafat, ada juga yang dipanjangkan usianya oleh Allah, karena segala kehendak dan kemauan Tuhan akan sulit ditebak apa maksud dan tujuan-Nya yang hakiki. Ada juga hamba-hamba yang tenang dan sabar dalam menghadapi masa sekaratnya, tetapi Allah pula Yang berhak menentukan pilihan, apakah mereka akan bertahan hidup ataukah mengalami kematian.

Rahasia ajal dan kematian sepenuhnya dalam genggaman dan rahasia Allah. Sehingga, kita tak bisa menyalahkan pihak dokter yang telah berusaha secara optimal, meskipun sang pasien terlihat memiliki kamauan hidup yang tinggi, tetapi jika Allah menentukan ajal kematian baginya, tak ada yang dapat menghentikannya sedetik pun. Setelah daya dan upaya dikerahkan seoptimal mungkin, jika Allah menghendaki keluarga dan saudara-kerabat kita harus mati, maka sikap yang terbaik bagi kita adalah pasrah dan ikhlas pada ketentuan Allah.

Tak ada jalan lain. Kita diperintahkan untuk berbuat baik (bertakwa) semampu kita, dan upaya berbuat baik itu akan dinilai sebagai “ibadah”, meskipun pada akhirnya kita harus berpasrah sepenuhnya pada ketentuan Allah di dunia ini. Namun demikian, apakah sejatinya kita tidak memilih, karena pada akhirnya toh pilihan Allah yang pasti berlaku?

Seorang atheis yang frustasi menghadapi pertanyaan tersebut, masih bisa dipahami, tetapi akhir-akhir ini justru muncul gerakan Satanisme di mana-mana (termasuk Indonesia) yang mereka percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi memilih bersikap “brutal” untuk melawan ajaran-Nya. Konsekunsinya, ketika mereka memusuhi Allah Yang Esa, mereka pun akan memusuhi para penyembah Allah agar mereka menyingkir, musnah, sehingga permukaan bumi ini hanya dikuasai oleh mereka yang menyembah tuhan-tuhan palsu itu. Entah mereka menamakannya Dewa Ba’al, Manat, Latta, Uzza dan seterusnya.

Dasar pemikiran mereka adalah penderitaan atau luka-luka masa lalu, bahwa segala luka itu dimungkinkan menimpa dirinya dalam hidup ini lantaran Tuhan mengadakan dan menghadirkan dirinya di permukaan bumi secara sepihak, tanpa diminta terlebih dahulu oleh mereka. Atau tanpa diberi pilihan, apakah kita hendak memilih diciptakan sebagai tawon, semut, gajah, dedaunan ataukah makhluk manusia? Ataukah kita memilih dihidupkan di zaman Nabi Idris, Nabi Nuh, Firaun, Namrudz, ataukah di zaman Nabi Isa dan Muhammad?

Perlawanan atas ketentuan Tuhan memiliki garis sanad dari pemberontakan Iblis yang menolak bersujud kepada Nabi Adam. Karena itu, konsep pemikiran Satanisme pada dasanya berbanding lurus dengan musuh-musuh Tuhan, sejak zaman pembunuhan Kabil (Kain) atas Habil, kaum ‘Ad, Tsamud, Firaun, Herodes, Yudas Iskariot, Abu Lahab, hingga terus bermuara menjadi prinsip ajaran para elit global (dan lokal) yang memilih aliran Satanisme saat ini.

Kadang pikiran dan batin kita memprotes, mengapa para penjahat dan pelaku kezaliman itu tidak dimusnahkan saja sebagaimana dulu kaum Nabi Nuh atau balatentara Firaun ditenggelamkan?

Lagi-lagi, pola pikir semacam ini cenderung mendahului kehendak Tuhan, karena sejatinya manusia tak diberi kewenangan untuk “mengintip” rahasia dan agenda Tuhan yang sesungguhnya. Pada prinsipnya, otak penguasa yang bodoh dan dungu, telah lahir dari kondisi rakyat yang menghadirkannya. Tetapi, hal ini masih koma, belum titik. Sebab, dalam prinsip-prinsip Islam, pemimpin yang mendapat kewenangan berkuasa, sejatinya harus bertanggung jawab untuk mencerdaskan rakyat, serta tidak membiarkan mereka dalam kebodohan dan kedunguan.

Kita diperintahkan untuk meneladani jejak kehidupan Rasulullah yang konsisten pada keyakinan bahwa Allah Maha Adil, Maha Baik, dan Maha Pengasih dan Penyayang, bahkan sekalipun Rasulullah sedang dilanda kekalahan Perang Uhud, atau bahkan terluka saat dilempari batu oleh kaum Thaif. Karena pada hakikatnya, segala sesuatu yang diizinkan Allah, mesti akan terjadi, meskipun kita suka atau tak suka. Tetapi, sesuatu yang diridhoi oleh Allah, mungkin saja tidak terjadi jika Allah belum mengizinkan atau membatalkannya, atau waktunya belum pas.

Itulah yang membuat Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari (1250-1309) pernah berfatwa: “Orang akan cenderung tertutup mata hatinya, jika ia sibuk mengejar dan meraih popularitas, sebelum matang rohaninya.”

Hanya Allah Yang mutlak mengetahui, kapan kebaikan itu terjadi, dan kapan keburukan itu terjadi. Hanya Dia Yang Tahu, kapan doa-doa kita akan dikabulkan saat ini, ditunda, atau bahkan ditolak sama sekali, karena dianggap “tak rasional” dalam kerangka pemikiran Allah.

Orang yang bersabar dan selalu terkoneksi dengan Sang Khaliq, akan senantiasa optimis menjalani hidup ini; tidak akan skeptis dan apatis pada penciptaan Allah, termasuk pada apa yang dikehendaki oleh ciptaan-ciptaan-Nya. Jika pun keburukan yang dikehendaki mereka, kita hanya diperintahkan mencegah keburukan itu dalam batas-batas yang diperintahkan Allah. Itulah etika yang konsisten dijaga oleh akhlak Rasulullah, sehingga dalam situasi perang yang menggelora, ia senantiasa memperingatkan para sahabat agar jangan mengganggu anak-anak, wanita dan orang tua. Bahkan, jangan merusak pepohonan yang sedang berbuah. Padahal, boleh jadi pohon berbuah itu sedang bertengger di rumah keluarga sang musuh.

Itu artinya, dalam situasi perang yang berkecamuk pun seorang muslim hanya boleh membunuh berdasarkan haq (kebenaran), tetapi dilarang membunuh berdasarkan hawa nafsu. Bahkan, dalam Al-Quran ditegaskan, kebencian kita kepada suatu kaum tidak boleh membuat kita berlaku tidak adil kepada kaum tersebut.

Ada batas-batas wilayah yang menjadi hak prerogatif Allah, meskipun manusia diberi kebebasan untuk memilih dan menentukan kehendaknya. Banyak doa-doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim atau Nabi Muhammad, yang kemudian dikabulkan dan diijabah oleh Allah (pada waktunya), meskipun ada juga doa tertentu yang menjadi rahasia Allah untuk ditunda atau ditolak pengabulannya.

Suatu ketika Rasulullah memanjatkan doa di masjid Bani Muawiyah. Ada tiga perkara yang disampaikan Nabi dalam permintaannya, pertama agar Allah tidak mencampakkan umatnya ke dalam ujian kekeringan dan kelaparan; kedua agar Allah tidak menenggelamkan umatnya seperti kaum Nabi Nuh atau balatentara Firaun; ketika agar umatnya tidak mengalami perpecahan dan pertikaian. Namun, dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim itu, Allah tidak mengabulkan permintaan ketiga, seakan memberi pesan bahwa manusia harus selalu menjaga persatuan dan persaudaraan, karena Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri punya kemauan untuk mengubahnya.

Kembali kepada mereka yang pernah mengalami masa-masa sekarat di era Pandemi Covid-19 lalu. Ada yang meminta pada Tuhan agar disembuhkan dari masa-masa sakitnya; ada yang merasa frustasi hingga tidak merasa perlu untuk berdoa pada Tuhan; ada yang menganggap bahwa Tuhan tak peduli kepada nasib hidupnya; ada juga sebagian orang yang lebih percaya pada dokter dan obat ketimbang pada kekuasaan dan kasih sayang Allah.

Secara pribadi, saya menemukan juga pasien yang agak unik dalam memanjatkan doanya: “Ya Allah, berikan saya dokter dan obat yang cocok bagi penyakit saya, hingga saya dapat segera pulih dari Covid ini.” Mungkin ada juga seorang sufi yang telah mencapai tingkat ma’rifat, hingga lebih memiliki keberanian menghadapi maut, ketika dia berdoa: “Ya Allah, jika hidup saya memberi maslahat bagi banyak orang, panjangkanlah umur saya, tetapi jika hidup saya ini sudah tidak memberi manfaat, maka wafatkanlah saya sekarang juga.

”Kualitas doa seperti itu selaras dengan apa yang pernah dikemukakan Ali bin Abi Thalib: “Aku merasa bahagia jika doaku dikabulkan, tetapi justru aku lebih bahagia jika doaku tak terkabulkan. Yang pertama, aku merasa bahagia karena kehendakku telah tercapai, tetapi yang kedua justru kehendak Tuhan-lah yang tercapai.” (*)

Penulis adalah Peneliti historical memory, penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.