Memperjuangkan Sanad Keilmuan Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari

oleh -264 Dilihat
banner 468x60

Oleh: K.H. Ahmad Rafiuddin

Ada tiga calon terkuat yang tampaknya layak menduduki Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ketiganya masih dari kalangan “darah biru” keluarga besar NU, yakni Gus Kikin (K.H. Abdul Hakim Mahfudz), Gus Rozin (Abdul Ghaffar Rozin) dan Gus Yahya (K.H. Yahya Staquf) sebagai incumbent. Namun, dari ketiganya saya menilai Gus Kikin adalah calon dari Dzurriyah yang sangat kental dengan keluarga besar Tebuireng, Jombang. Artinya, masih termasuk ahlul bait dengan keluarga besar Gus Dur dan sang kakek Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari.

Gus Kikin tadinya adalah ketua PWNU Jawa Timur, juga pernah berkiprah selaku pengusaha migas di ibukota Jakarta. Tentu saja beliau dapat diandalkan agar kelak membawa gerbong NU agar menjadi kaya dan makmur di akhirat, tetapi juga tidak melupakan kemakmuran hidup di dunia ini. Selain itu, Gus Rozin juga dikenal netral dan inklusif. Sebagai lulusan Monash University (Australia) tentu saja kenetralan beliau tak layak duikategorikan sebagai akademisi atau kiai yang menganut paham liberalisme Barat.

Dari ketiganya, saya menilai Gus Kikin cukup supel dan loyal untuk bertandang dan bersilaturahmi ke pesantren-pesantren alumni Tebuireng di seluruh wilayah Indonesia. Beberapa waktu lalu, pesantren kami di Rangkabitung, Banten (Tebuireng 09) juga disowani oleh beliau, sambil digelar pula acara bedah bukunya yang genuine berjudul “Pemersatu Umat Islam Indonesia”. Gus Kikin membahas bagaimana peran sentral Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari, dalam menggalang kesatuan kaum muslimin yang selaras dengan kekuatan nasionalis selevel Bung Karno dan Hatta.

Perjuangan profetik pesantren Tebuireng sulit dicarikan pembenarannya bagi pihak penjajah yang menyebutnya “pemberontakan”. Memang, sebelum Orde Baru memakai istilah GPK, pihak Belanda telah menggunakan istilah “Gerakan Pengaco Keamanan” untuk membangun legitimasi dalam upaya menangkapi tokoh-tokoh pergerakan Indonesia, termasuk Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari.

Padahal, hak-hak asasi manusia yang digaungkan secara internasional, pada hakikatnya selaras dengan nilai-nilai Islam universal, yang juga sesuai dengan Qanun Asasi NU, bahwa Nahdlatul Ulama sebagai organisasi sosial keagamaan, bertumpu pada paham Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja).

Menurut Gus Kikin, Islam Ahlussunnah memiliki kekuatan sanad keilmuan yang menjurus langsung kepada teladan hidup Rasulullah, baik secara teologis, filosofis maupun historis. 

Sanad Keilmuan

Menurut Gus Kikin, warisan penting para pendiri NU (muassis) yang harus dirawat secara lintas generasi adalah pentingnya menjaga sanad keilmuan dan menjaga kepemimpinan NU yang mementingkan semangat persatuan. Pemikiran dan pergerakan yang diprakarsai Hadratussyaikh dan pendiri NU merupakan inspirasi besar dalam membangun persatuan umat Islam di republik ini. Rekam jejak Hadratussyekh menunjukkan bagaimana ulama mampu menjadi perekat kebangsaan dan pemersatu umat di tengah berbagai perbedaan.

Sejak tahun 1942, tercatat sekitar 20.000 tokoh besar maupun kecil, termasuk para santri Tebuireng di Jombang, yang menunjukkan luasnya pengaruh sanad keilmuan Hadratussyaikh Hasyim Asyari. Beberapa tahun sebelum kemerdekaan RI, Pesantren Tebuireng secara konsisten menyoroti munculnya berbagai paham dan pemikiran baru yang berkembang di tengah masyarakat.

Menurut Gus Kikin, tantangan terbesar hari ini bukan sekadar perbedaan pandangan, melainkan bagaimana umat tetap memiliki pijakan yang jelas dalam beragama melalui sanad yang tersambung kepada jejak-langkah perjuangan hidup Rasulullah Saw.

Karena bagaimana pun, ilmu yang lahir dari pemikiran manusia semata, tanpa keterhubungan dengan sanad kenabian berpotensi menjauhkan umat dari akar tradisi Islam yang otoritatif. Dalam konteks yang sama, kita mengingat proses kebangkitan spiritual pada diri sang ilmuwan Albert Einstein, yang di usia senjanya menegaskan: “Segala sesuatu yang tercapai oleh kekuatan otak manusia, tidak boleh dikerjakan menurut kemauan hawa nafsu belaka.”

Terminologi Kebangsaan

Jika kita perhatikan kata-kata islami dalam butir-butir Pancasila, seperti “adil”, “adab”, “hikmah”, “musyawarah”, “wakil”, bahkan kata “rakyat” yang secara sentral digaungkan oleh Soekarno-Hatta dalam tulisan maupun pidato-pidatonya, maka tak lepas dari sanad keilmuan dari para tokoh pergerakan kaum muslimin, khususnya di lingkungan pesantren.

Menurut Gus Kikin, ketika proklamasi digaungkan (1945), umat Islam tetap konsisten dalam kesatuan nasion dengan populasi yang sudah mencapai 95 persen. “Karena itu, mengenali Hadratussyiakh Hasyim Asy’ari tidak cukup sebatas proklamator dan pendiri NU, tetapi beliau adalah tokoh muslim terdepan yang sanggup mempersatukan umat Islam Indonesia dari Sabang sampai Merauke,” tegas Gus Kikin.

Lebih tajam lagi, Gus Kikin menegaskan, bahwa gerakan perlawanan Hadratussyaikh bersama kalangan ulama dan santri, untuk mendobrak dominasi kaum penjajah justru digaungkan setelah menuntut ilmu dari Mekah, yang tentunya peran Syekh Nawawi selaku guru (mursyid), sangat memengaruhi ide dan pemikiran progresifnya.

Untuk itu, dapat dipahami jika terungkap berbagai motivasi yang mendorong penulisan kitab-kitab Hadratussyaikh, lebih bertajuk soal perlawanan terhadap kesewenangan dan ketidakadilan. Ini tercermin jelas dari goresan penanya yang mengusung spirit untuk merebut kemerdekaan, yang selaras dengan konsep penegakan keadilan dalam ajaran Islam.

“Spirit perjuangan Islam semakin kentara manakala kita membuka sejarah perintisan dan pendirian pesantren Tebuireng di Jombang. Hanya beberapa ratus meter dari tanah yang dibeli, terdapat pabrik gula Cukir yang biasanya masyarakat berpesta-pora setelah menerima gaji dari pabrik Belanda. Berbagai macam candu dan ketergantungan pada minuman keras, judi, prostitusi, sangat marak di mana-mana,” tandas Gus Kikin. Tetapi, setelah munculnya dakwah dan pendidikan Islam di Pesantren Tebuireng, segala kriminalitas dan kemaksiatan, yang dalam konteks saat ini identik dengan ajaran Satanisme (Freemasonry) perlahan-lahan semakin terkikis.

Tampaknya Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari bergerak secara independen, dengan perangkat teknologi yang sangat minim pada masa itu. Beliau tekun menulis kitab, menggoreskan pena, menggelar pengajian, bahkan terus berupaya menggelorakan semangat rakyat. Untuk itu, selaku pengasuh Tebuireng 09 di Rangkasbitung, Banten, secara pribadi saya sangat mengapresiasi pemikiran progresif dari Gus Kikin sebagai Dzurriyah Tebuireng, sekaligus calon terkuat Ketua Umum Tanfidziyah PBNU yang akan digelar pada akhir Agustus 2026 ini. Salam perjuangan! (*)

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng 09, Rangkasbitung, Lebak, Banten, juga penulis buku best seller Marwah Pesantren

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.