Kerukunan dan Integritas Seorang Ulama

oleh -2295 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Enzen Okta Rifai, Lc.

Menanggapi artikel tentang program kaderisasi ulama Banten yang ditulis pengasuh pesantren “Thariqul Akhor”, saya akan coba mengulas pandangan K.H. Bazari Syam, Ketua MUI Banten (akrab disapa Abah Bazari), bahwa nilai-nilai solidaritas dan ukhuwah dalam Islam tidak memberikan peluang bagi seorang ulama untuk bersikap ekstrim, atau apriori memihak ke Timur maupun Barat.

Bagi Abah Bazari, mental para ulama yang memperjuangkan kerukunan, akan mudah menyerap kebenaran dari berbagai sentuhan cahaya ilmu. Mereka tidak menerima segala bentuk pemikiran yang berdasarkan dugaan dan prasangka buruk, ghibah maupun fitnah (hoaks). “Demikian Islam menawarkan konsep ummatan wasatha yang harus selalu tampil sebagai penengah dan pemersatu umat,” tegas Abah Bazari.

Lebih lanjut Abah Bazari menjelaskan, bahwa ulama pejuang akan sanggup membangun dan menjaga benteng kerukunan agar tidak apriori memihak perseorangan maupun golongan, tetapi senantiasa melayani dan menolong siapapun yang membutuhkan. Tak memandang apa agama, suku maupun keturunannya. “Ulama seperti ini mestinya akan merasa pilu dan sedih bila menyaksikan para pemikir dan intelektual berdiam diri terhadap maraknya kesewenangan dan ketidakadilan,” tandas Abah Bazari..

Seperti yang diungkap dalam hadits Nabi, bahwa rasa sakit yang diderita seorang mukmin, ibarat sakitnya salah satu anggota tubuh yang merupakan bagian dari sistem anatomi tubuh lainnya. Untuk itu, lanjut Abah Bazari, semangat ulama harus merasa tergugah untuk menggiring kembali orang-orang yang berpaling dari khittah kesatuan, kemudian mengangkat mereka dari jaring-jaring yang membuatnya terperosok ke dalam polemik, persengketaan dan perpecahan massa (khilafiyah).

Ulama yang merakyat

Sebagaimana tajuk utama bukunya, “Jihad Pendidikan (Psiko Religiusitas Abah Thowil), Abah Bazari menampilkan jejak langkah sosok ulama terkenal  di wilayah Serang Timur yang kini telah melahirkan ribuan murid yang berkiprah di dunia pendidikan Islam. Dialah K.H. Muhammad Thowil sang pendiri pesantren Assalamiyah, yang kini diteruskan jejaknya oleh Abah Bazari dengan mendirikan perguruan tinggi STAI Assalamiyah di daerah Jawilan, Serang.

Digambarkan dalam bukunya yang kini ramai menjadi perbincangan publik, bahwa figur Abah Thowil memang dikenal para muridnya sebagai kiai dan ulama yang merakyat. “Biarpun banyak keistimewaan dalam pengorbanan harta dan jiwa, Abah Thowil senantiasa rela untuk hidup di tengah masyarakat, bergaul mesra dengan rakyat kecil, menanggung rasa pedih penderitaan mereka serta membantu memecahkan kesulitan mereka. Selain itu, ia pun ikut-serta mengungkap aspirasi dan dukacita rakyat, karena ia sendiri merasa menjadi bagian dari komunitas masyarakat yang dilayaninya,” tutur sang ketua MUI Banten.

Meskipun dalam keterasingan di tengah masyarakat dan zamannya, Abah Thowil sanggup berdiri tegak menghadapi berbagai kritik dan serangan fitnah, biarpun dari kubu status quo maupun masyarakat konservatif yang ortodoks. Beliau bahkan rela mengalokasikan gajih yang diterimanya selaku pegawai negeri, demi untuk kepentingan membiayai pesantren Assalamiyah, hingga para asatidz yang mengajar di dalamnya.

Ulama seperti itu akan senantiasa tenang dan sabar dalam menghadapi perang pemikiran (ghozwul fikri) yang ditebarkan musuh-musuhnya. Serbuan pemikiran justru akan dilawannya dengan menanam pohon kasih serta menolak untuk menyemai bibit angkara murka. Ia senantiasa menyebarluaskan berita-berita gembira, sikap optimistis, dan yakin akan kasing sayang Allah. Ia akan senantiasa menyederhanakan urusan dan kepentingan umat.

Mengedepankan umat

Menurut Abah Bazari, sosok Abah Thowil yang dikenalnya selama beberapa dekade, tak lain merupakan sosok ulama yang tak rela menghamburkan waktu dan jerih-payahnya hanya untuk memperdebatkan soal furu’iyah dan perbedaan mazhab. Ia tak mau menonjolkan kepura-puraan serta kesia-siaan bersilat-lidah. Ia akan menolak untuk mengekor pada bisik-bisik orang yang mendasarkan diri pada dugaan dan prasangka buruk, tetapi selalu berpikir lapang sebelum mengambil keputusan.

“Banyak tokoh-tokoh yang berkepentingan dengan Abah Thowil di Desa Curug Sari, Serang Timur. Beliau pernah didatangi menteri sosial Ibu Nani Sudarsono di masa Orde Baru, namun Abah Thowil tetap memilih konsisten untuk melayani umat dan memprioritaskan pendidikan bagi rakyat Banten,” tegas Abah Bazari.

Nilai-nilai kerukunan yang ditebarkan senantiasa mengacu pada pemikiran bahwa cita-cita luhur akan terwujud dengan kesungguhan, pembangunan solidaritas dan kerjasama untuk mewujudkan kesadaran kolektif. Bukan dengan menghasut, mengkritik tanpa dasar, bahkan menebarkan benih separatisme dan radikalisme.

Selain itu, ia yakin bahwa keimanan yang sebenarnya adalah apa yang dinyatakan dalam kalbu dan dibenarkan oleh tingkah-laku. Ia senantiasa mengasah kepakaan hatinya, hingga mudah baginya untuk menerima cahaya-cahaya ilahiyah.

Demikian pula khutbah-khutbah Abah Bazari selaku anak ideologis dari Abah Thowil, senantiasa beliau menebarkan rahmat yang mewakili kepentingan dan kemaslahatan umat. Jiwa dan mental kerukunan, saling tolong-menolong dalam kebaikan serta mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Di samping itu, dengan menyaksikan berbagai fakta di era milenial ini, ulama yang menebar kerukunan akan senantiasa mencari kawan seperjuangan yang sama-sama mendambakan tegaknya persatuan dan kesatuan. “Dengan mental ukhuwah yang sudah terpateri dalam kalbunya,” tambah Abah Bazari, “ia rela melangkahkan kaki menuju kerja kolektif, bersatu-padu untuk menyemai dan menanam benih-benih persatuan dan kesatuan bangsa yang dicita-citakan bersama.”

Kesadaran kolektif

Di era presiden Prabowo ini, selaku Ketua MUI Banten, Abah Bazari senantiasa menekankan pentingnya semangat juang yang disertai keikhlasan, baik di tingkat pusat maupun daerah. Tanpa disertai keikhlasan, segala sesuatu yang dilakukan dalam hidup akan terasa sebagai beban berat untuk dipikul. Tapi, bila keikhlasan dan jiwa gotong-royong dikedepankan, maka seberat apapun beban akan terasa ringan di pundak kita.

Titik tekannya pada teladan yang mumpuni terhadap akhlak Rasulullah sebagai pembangun dan penjaga benteng kerukunan. “Ketika akan menolong seseorang,* tegas Abah Bazari, “Rasulullah dan para sahabatnya tidak pernah bertanya tentang identitas orang yang akan ditolongnya. Bantuan diberikan kepada siapapun yang membutuhkan, tidak pandang agama, suku maupun keturunan.”

Lebih tendensius, sang penulis buku Jihad Pendidikan itu menandaskan, bahwa tidak sedikit mereka yanag merusak bangunan kerukunan itu melakukannya dengan mengatasnamakan agama, bahkan menggotong semboyan “demi kerukunan”. Padahal, siapapun tahu, tak satu pun agama yang memerintahkan pemeluknya untuk membuat angkara murka. Semua agama membawa pesan-pesan kasih sayang. Lalu, bagaimana mungkin kita membangun kerukunan dengan cara merobek-robek kerukunan itu senddiri?

Baginya, tidak sedikit masyarakat kita yang tangan kanannya mengibarkan bendera Islam, tetapi pada saat yang sama tangan kirinya melempar sana-sini. “Banyak di antara mereka yang setiap detik membaca tasbih dan tahmid, tetapi pada saat yang sama lidahnya menyebar bisa ke mana-mana. Hal itulah yang dimaksud oleh Syekh Muhammad Abduh, bahwa citra Islam tidak boleh dirusak oleh orang Islam sendiri (al-islamu mahjubun bil muslimin),” ujar Abah Bazari.

Kelembutan Islam

Kini, saatnya kita menghadirkan keramah-tamahan dan kelembutan Islam seperti yang diajarkan Rasulullah. Minimal kita menghadirkan keramah-tamahan Muhammad dalam diri dan keluarga kita masing-masing. Sebab, hakikatnya kerukunan hanya bisa terbangun jika setiap individu mampu rukun terhadap dirinya sendiri. Jika dengan diri sendiri saja tidak bisa rukun, maka kerukunan antar individu tidak mungkin bisa terwujud.

Lebih tegas lagi, Abah Bazari menyatakan bahwa kita harus membiasakan berbaik sangka terhadap diri sendiri. Setelah sukses rukun kepada diri sendiri, kita dapat menularkan kerukunan kepada orang lain, yakni menularkan prasangka baik kepada orang lain. Sebab, prasangka adalah kunci kerukunan. Prasangka baik akan membangun kerukunan, sedangkan prasangka buruk akan merusak bangunan kerukunan.

Kerukunan tidak mengenal agama, suku maupun keturunan. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah tak pernah membeda-bedakan tamunya. Setiap tamu yang datang dilayani bak seorang tuan besar. Dalam beberapa kesempatan pertemuan dengan sahabat, Rasulullah sering berpesan, “Bangunlah keakraban dan kerukunan di antara sesama.”

Terkait dengan ini, Abah Bazari memaparkan terminologi Islam, perihal kemesraan hubungan vertikal dan horisontal yang tak boleh dipisah-pisah. “Kita tak bisa hanya mesra secara vertikal, tapi individualis secara horisontal. Dengan kata lain, kesalehan vertikal dan sosial harus selaras dan sejajar. Kesalehan sosial akan terwujud jika kita mampu membangun kebersamaan, baik dalam pikiran maupun tindakan,” tegasnya lagi.

Tidak ragu-ragu Abah Bazari mengutip ungkapan Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, Kiai Kholil Bangkalan, hingga Syekh Nawawi Al-Bantani. Baginya, sejak dahulu kala, nenek moyang kita mempraktekkan kesalehan sosial, termasuk dengan mereka yang berbeda suku dan agama sekalipun. Bukti-bukti kerukunan yang dicontohkan nenek moyang, masih bisa kita saksikan hingga saat ini.

Kegigihan nenek moyang membangun kebersamaan dan kerukunan masih dipegang teguh oleh segenap masyarakat kita. Tentu saja kita berharap bangunan kerukunan itu akan terus berdiri tegak, tanpa seorang pun yang bisa merobohkannya. Oleh sebab itu, kita perlu tetap waspada dan terus meningkatkan kualitas kesalehan sosial. Kita wajib menjaga dan mempertahankan agar warisan nenek moyang berupa kerukunan itu tetap bertahan.

Kita memiliki tanggungjawab besar untuk menjaga, mengawal, membela, mempertahankan, dan mengisi pembangunan di negeri ini berdasar wawasan Islam rahmatan lil ‘alamin. “Sebagai ketua umum MUI Banten, senantiasa saya berpesan agar masyarakat yang terlibat dalam kancah politik untuk dapat mengembangkan praktek politik yang ber-akhlaqul karimah, serta meninggalkan praktek politik yang menghalalkan segala cara. Kepada para ulama dan mubalig, hendaknya terus berkiprah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan tetap menjaga komitmen untuk mendidik masyarakat pada nilai-nilai religiusitas yang dewasa,” demikian Abah Bazari menutup pembicaraannya. ***

Penulis adalah Alumnus International University of Africa (Republik Sudan), menulis esai dan kritik sastra di berbagai media lokal dan nasional.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.