Jangan Biarkan Beton Mengubur Kebijaksanaan Leluhur

oleh -153 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Matheus Tnopo

Setiap kali gempa mengguncang Flores, kita selalu menyaksikan pemandangan yang sama: dinding beton retak, rumah coran roboh, keluarga kehilangan tempat tinggal, dan masyarakat kembali memulai hidup dari nol. Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi dan pembangunan modern, kita justru semakin rentan terhadap bencana. Kita bangga dengan rumah permanen bercor beton, tetapi sering kali lupa bahwa rumah-rumah yang diwariskan leluhur kita dahulu dibangun bukan sekadar untuk tempat tinggal, melainkan sebagai hasil kebijaksanaan panjang dalam membaca alam.
Modernitas telah mengubah cara pandang masyarakat Flores terhadap rumah.

Rumah panggung yang dahulu menjadi simbol identitas budaya dianggap kuno, sementara rumah beton dipandang sebagai tanda kemajuan dan status sosial. Namun pertanyaan filosofis yang perlu diajukan adalah: apakah semua yang modern selalu lebih bijaksana daripada yang diwariskan nenek moyang? Ataukah kita sedang mengalami apa yang oleh filsuf Martin Heidegger disebut sebagai “kelupaan terhadap asal-usul”, yaitu ketika manusia terlalu terpesona oleh kemajuan sehingga kehilangan hubungan dengan kebijaksanaan yang telah menghidupinya selama berabad-abad?

Ketika Alam Mengajarkan Kebijaksanaan

Nenek moyang masyarakat Flores hidup berdampingan dengan alam yang keras. Mereka mengenal gunung api, gempa bumi, angin kencang, dan musim yang tidak selalu bersahabat. Dari pengalaman panjang itulah lahir rumah-rumah panggung berbahan kayu, bambu, ilalang, dan berbagai material lokal lainnya.

Rumah panggung tradisional bukanlah simbol keterbelakangan. Sebaliknya, ia merupakan hasil pengetahuan ekologis yang sangat maju. Struktur kayu yang lentur mampu mengikuti guncangan gempa sehingga tidak mudah runtuh. Sambungan-sambungan kayu yang tidak sepenuhnya kaku memungkinkan bangunan bergerak secara alami ketika tanah berguncang. Jika ada bagian yang rusak, perbaikannya pun relatif mudah dan murah dibandingkan rumah beton yang retaknya sering kali berujung pada keruntuhan total. Dalam perspektif filsafat lingkungan, manusia tidak dipanggil untuk menaklukkan alam, melainkan hidup selaras dengannya. Rumah tradisional Flores lahir dari kesadaran ini. Leluhur tidak membangun melawan alam, tetapi membangun bersama alam. Mereka memahami bahwa keselamatan tidak selalu lahir dari kekuatan material yang keras, melainkan dari kemampuan untuk lentur dan beradaptasi.

Menariknya, pelajaran ini juga berlaku bagi kehidupan manusia. Pohon yang paling kuat belum tentu yang paling kokoh, melainkan yang mampu melentur ketika badai datang. Begitu pula rumah. Beton memang terlihat kuat, tetapi kekakuannya sering menjadi sumber keruntuhan ketika berhadapan dengan gempa.

Mitos Kemajuan yang Menyesatkan

Salah satu masalah terbesar masyarakat Flores saat ini adalah kecenderungan mengukur kemajuan dari tampilan fisik bangunan. Rumah beton dianggap lebih bergengsi, sedangkan rumah kayu dianggap identik dengan kemiskinan. Akibatnya, banyak keluarga rela menghabiskan biaya besar untuk membangun rumah coran meskipun tinggal di wilayah rawan gempa. Di sini kita melihat paradoks modernitas. Kita mengejar simbol kemajuan, tetapi justru mengabaikan keselamatan. Kita membangun rumah yang terlihat megah, tetapi sering kali kurang sesuai dengan karakter geografis tempat kita hidup.

Padahal, banyak negara maju seperti Jepang justru mengembangkan teknologi bangunan yang meniru prinsip-prinsip tradisional: fleksibel, ringan, dan tahan terhadap guncangan. Sementara itu, sebagian masyarakat Flores malah meninggalkan warisan arsitektur lokal yang telah terbukti bertahan selama generasi. Kemajuan sejati bukanlah meniru apa yang datang dari luar tanpa pertimbangan. Kemajuan sejati adalah kemampuan menggabungkan pengetahuan modern dengan kebijaksanaan lokal. Modernitas yang memutus hubungan dengan akar budaya hanya akan menghasilkan masyarakat yang kehilangan identitas sekaligus kehilangan ketahanan.

Jalan Kembali ke Kearifan Leluhur

Karena itu, Flores perlu memulai gerakan baru untuk menghidupkan kembali arsitektur rumah panggung berbasis material lokal. Ini bukan ajakan untuk menolak modernitas, melainkan mengoreksi arah pembangunan yang kurang bijaksana.Pemerintah daerah, akademisi, arsitek, tokoh adat, dan masyarakat perlu bersama-sama mengembangkan desain rumah panggung modern yang tetap mempertahankan prinsip-prinsip tradisional tahan gempa. Kayu lokal, bambu, dan material ramah lingkungan dapat dipadukan dengan teknologi konstruksi masa kini agar rumah menjadi lebih aman, sehat, dan ekonomis. Selain itu, pendidikan budaya perlu menanamkan kembali kebanggaan terhadap warisan arsitektur Flores. Anak-anak harus memahami bahwa rumah adat bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan sumber pengetahuan yang sangat relevan bagi masa depan.

Gempa bumi akan terus menjadi bagian dari realitas Flores. Yang dapat kita ubah bukanlah alam, melainkan cara kita hidup bersamanya. Sudah saatnya masyarakat Flores berhenti menganggap rumah panggung sebagai simbol keterbelakangan. Justru di dalam tiang-tiang kayu, sambungan bambu, dan kearifan para leluhur tersimpan pelajaran penting tentang bagaimana manusia dapat hidup aman di tanah yang terus bergerak. Mungkin kemajuan yang sesungguhnya bukanlah membangun lebih banyak beton, melainkan keberanian untuk kembali belajar dari kebijaksanaan yang telah lama kita tinggalkan. Sebab terkadang masa depan yang lebih aman tidak ditemukan dengan melupakan masa lalu, melainkan dengan kembali mendengarkannya.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.