Apa yang dikehendaki Satanisme sejak masa pemberontakan Iblis yang menentang perintah Tuhan agar tunduk kepada Nabi Adam, adalah soal perjuangan Iblis agar manusia tidak menyembah Tuhan Yang Maha Esa (Ahad) dan tidak meneladani utusan-Nya yang terakhir (Ahmad atau Muhammad). Untuk itu, bisikan dan godaan Iblis dan para setan sebagai kaki-tangannya, agar manusia di muka bumi lebih mementingkan kehidupan dunia yang sementara, sambil mengorbankan kehidupan akhirat yang baka dan abadi.
Bagi dunia Iblis, singgah sebentar untuk meminum seteguk air, harus dioptimalkan fungsinya demi kenikmatan yang fana dan sesaat. Karenanya, manfaatkan kesenangan duniawi dengan menenggak minuman yang memabukkan, saling berlomba untuk meraih kesuksesan fana dalam kemegahan materi, wanita dan ilusi kekuasaan.
Dalam iklim “dunia bebas”, dakwah yang dipropagandakan Iblis dan para setan adalah pemberontakan terhadap Tuhan, bahwa manusia tidak minta diciptakan untuk hadir di muka bumi ini, sehingga berhak bagi mereka untuk memprotes, melawan, bahkan mengumbar amarah pada Sang Pencipta. Untuk apa kami diciptakan? Mengapa tidak diciptakan sebagai batu, pohon ataukah pasir saja? Untuk apa diciptakan neraka dan surga, kalau pada hakikatnya telah ditentukan dalam catatan-Nya, siapakah orang-orang yang akan menghuni kedua tempat itu?
Bukankah Tuhan mampu menciptakan manusia yang paling keji dan bengis, sehingga tak ada utusan mana pun yang sanggup menyadarkannya? Bahkan Tuhan sendiri pun tak sanggup melawan rencana dan agenda makarnya? Bukankah setiap manusia berhak menjadi atheis, agnostik, bahkan anarkisme fasistik?
Itulah yang dikehendaki Iblis di akhir zaman ini. Ia ingin merekrut para pengikut dan jamaah sebanyak-banyaknya, termasuk dari kalangan agamis maupun non-agamis, homo religius maupun non religius, bahkan theis maupun atheis. Tak peduli apakah Anda seorang pelaku maksiat ataukah ahli ibadah; tak ada urusan apakah Anda seorang ulama, ilmuan, maupun masyarakat awam yang tak berpendidikan.
Sampai pada akhirnya, Allah akan mengutus Sang Imam Mahdi yang akan membangun peradaban baru, serta merombak peradaban lama yang sarat ketidakadilan dan kesewenangan. Dialah satu-satunya utusan Allah di akhir zaman ini, yang tidak terputus sanad dan nasabnya. Dialah sosok manusia yang arif dan bijaksana, dari garis keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad Rasulullah Saw.
Ya, dialah Sang Imam Mahdi yang akan mendakwahkan kebenaran sejati yang diridhoi Allah. Adapun mereka yang menyiarkan aliran kepercayaan, kemajuan sains dan teknologi secanggih apa pun, kelak pada waktunya akan terputus sanad dan manhajnya, bahkan juga terputus garis nasab dan keturunannya. []
Oleh: Wawan Sanpala
(Praktisi dakwah dan pengurus Santri Pencinta Alam (Sanpala), menulis esai dan puisi di berbagai media sosial)






