Generasi Emas dan Ironi Tawuran Pelajar

oleh -145 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Wilhelmus Tarsiani Alang

Orang muda kerap disebut sebagai Generasi Emas Indonesia 2045. Di pundak merekalah harapan besar bangsa diletakkan untuk membawa Indonesia menjadi negara yang maju, berdaya saing, dan bermartabat. Namun harapan tersebut justru berhadapan dengan kenyataan yang memprihatinkan. Di banyak tempat tawuran antarpelajar sering kali terjadi bahkan tidak jarang berujung pada hilangnya nyawa.

Ironi ini mengundang sebuah pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin generasi yang dipersiapkan menjadi penentu masa depan bangsa justru tumbuh dalam budaya kekerasan? Pertanyaan ini menunjukkan bahwa tawuran tidak dapat lagi dipahami sekadar sebagai kenakalan remaja, melainkan sebagai cermin dari persoalan yang lebih serius yaitu bagaimana pendidikan membentuk manusia.

Tawuran dan akar persoalan pendidikan
Setiap kali tawuran antarpelajar terjadi perhatian publik hampir selalu tertuju pada para pelakunya. Sebagian melihatnya sebagai ekspresi emosi yang tidak terkendali dan yang lain mengaitkannya dengan tekanan kelompok sebaya, pencarian identitas, pengaruh media sosial, atau lemahnya pengawasan orang tua. Penjelasan-penjelasan tersebut tentu tidak sepenuhnya keliru. Namun, apabila melihat persoalan hanya berhenti pada tataran semacam itu maka kita sebenarnya baru melihat gejalanya bukan akar persoalannya.

Berita berita laporan harian Kompas per 10 Juni 2026 menunjukkan bahwa tawuran antar kelompok remaja merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks dan melibatkan banyak faktor. Salah satunya adalah pendidikan. Pandangan ini penting karena pendidikan bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan melainkan juga proses membentuk manusia.

Sekolah tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu formal tetapi juga menjadi ruang tempat peserta didik belajar menghargai sesama, mengelola perbedaan, menyelesaikan konflik, dan hidup sebagai bagian dari masyarakat. Namun persoalannya, pendidikan hari ini lebih sibuk mengejar capaian akademik daripada membentuk watak. Pengetahuan diperlakukan sebagai ukuran utama keberhasilan sedangkan pembentukan karakter sering kali dianggap akan mengikuti dengan sendirinya. Cara pandang inilah yang patut dipertanyakan. Sebab, mengetahui apa yang baik tidak selalu berarti mampu melakukan yang baik.

Di titik inilah tawuran memperlihatkan persoalan yang sesungguhnya. Kekerasan yang dilakukan oleh para pelajar bukan hanya mencerminkan kegagalan mengendalikan emosi, tetapi juga menunjukkan adanya jarak antara pengetahuan yang diajarkan dan karakter yang dibentuk. Sekolah mengajarkan nilai-nilai yang baik bagi kehidupan anak, namun nilai-nilai tersebut kerap berhenti sebagai materi pelajaran yang dipahami, belum sungguh-sungguh bertumbuh menjadi cara hidup. Yang berkembang adalah kemampuan berpikir tetapi yang tertinggal adalah kedewasaan bertindak.

Keadaan ini tidak berarti bahwa pendidikan telah gagal sepenuhnya. Banyak sekolah tetap melahirkan peserta didik yang berprestasi dan berkarakter baik. Namun, maraknya tawuran menjadi tanda bahwa terdapat retakan yang tidak boleh diabaikan. Pendidikan masih berhasil mencerdaskan banyak anak tetapi belum selalu berhasil membentuk manusia yang mampu menggunakan pengetahuannya untuk membangun kehidupan bersama. Retakan inilah yang apabila terus dibiarkan akan menjadi ancaman bagi cita-cita besar Indonesia menyongsong Generasi Emas 2045.

Konfusius dan Hakikat Pendidikan
Silke Krieger dan Rolf Trauzettel dalam Confucianism and the Modernization of China menjelaskan tentang konsep pendidikan dalam filsafat Konfusius. Di sana dijelaskan bahwa pendidikan bukan sekadar memperoleh pengetahuan tetapi jalan membentuk manusia.

Tujuan akhirnya ialah melahirkan junzi yaitu pribadi yang berbudi luhur, mampu mengendalikan diri, menghormati sesama, serta bertindak berdasarkan kebajikan. Dengan demikian, seseorang tidak disebut sungguh terdidik karena banyak mengetahui melainkan karena pengetahuannya tampak dalam cara ia memperlakukan orang lain. Atas dasar itu, tradisi Konfusius menekankan pentingnya kesatuan antara xue (belajar) dan si (refleksi).

Belajar membantu memperluas pengetahuan sedangkan refleksi mengubah pengetahuan tersebut menjadi kebijaksanaan. Pengetahuan yang hanya berhenti pada hafalan tidak cukup membentuk manusia. Namun, ketika pengetahuan terus direfleksikan dan dipraktikkan maka ia perlahan menjelma menjadi watak. Dengan demikian, pendidikan bukan sekadar proses menambah informasi melainkan membentuk hati agar mampu membedakan yang benar, memilih yang baik, dan bertindak secara bijaksana.

Hemat penulis, pandangan Konfusius tersebut memberikan cara pandang yang menarik untuk membaca maraknya tawuran antarpelajar. Persoalannya bukan karena sekolah tidak mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan. Sebab hampir semua sekolah mengajarkan toleransi, gotong royong, kedisiplinan, bahkan penyelesaian konflik secara damai.

Namun, nilai-nilai tersebut sering kali berhenti hanya sebagai pengetahuan, dia belum sungguh-sungguh dihayati sebagai cara hidup. Akibatnya, ketika peserta didik berhadapan dengan konflik nyata mereka tidak selalu memiliki kebijaksanaan untuk menolak kekerasan sebagai jalan penyelesaian.

Di sinilah letak persoalannya. Pendidikan tidak kekurangan materi tentang nilai-nilai kehidupan tetapi sering kekurangan ruang yang memungkinkan nilai-nilai itu bertumbuh menjadi karakter. Pengetahuan berhasil ditransfer tetapi proses pembentukan diri belum sepenuhnya terjadi. Akibatnya, sekolah mencetak banyak peserta didik yang cerdas tetapi belum selalu berhasil membentuk manusia yang mampu menghidupi kecerdasannya secara bertanggung jawab.
Solusi

Dari penjelasan di atas penulis ingin menegaskan bahwa persoalan tawuran antarpelajar sesungguhnya tidak berhenti pada tindakan kekerasan itu sendiri. Tawuran hanyalah gejala yang tampak di permukaan sedangkan persoalan yang lebih mendasar terletak pada proses pendidikan yang belum sepenuhnya berhasil membentuk manusia. Oleh karena itu, adapun beberapa hal yang penulis tawarkan dalam menangani masalah tawuran antarpelajar, diataranya:

Pertama, pendidikan perlu kembali menempatkan pembentukan watak sebagai inti dari seluruh proses belajar. Pengetahuan harus berjalan seiring dengan pembiasaan hidup yang menghargai martabat manusia. Sekolah bukan hanya tempat peserta didik belajar menjadi cerdas tetapi juga tempat mereka belajar menjadi pribadi yang mampu menghormati perbedaan, mengendalikan diri, dan bertanggung jawab atas setiap tindakannya.

Kedua, proses belajar perlu memberi ruang yang lebih luas bagi refleksi. Pengetahuan tidak boleh berhenti sebagai materi yang dihafal tetapi harus terus dihubungkan dengan pengalaman hidup peserta didik. Melalui refleksi, mereka belajar memahami bahwa nilai itu penting bagi kehidupan. Seperti halnya dalam Filsafat Konfusius yang menekankan pentingnya kesatuan antara xue (belajar) dan si (refleksi).

Ketiga, menyitir pemikiran Nicolaus Driyarkara (1913-1967) bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah proses memanusiakan manusia. Pendidikan bukan sekadar usaha mencerdaskan akal budi melainkan membentuk pribadi yang mampu hidup bersama orang lain secara manusiawi. Manusia tidak lahir begitu saja sebagai pribadi yang utuh, sebab ia menjadi manusia melalui proses pendidikan yang membimbingnya mengenal dirinya, menghargai sesamanya, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan bersama. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari tingginya prestasi akademik tetapi juga dari kemampuannya melahirkan manusia yang berkeadaban.

Indonesia tentu tidak kekurangan cita-cita besar. Generasi Emas 2045 adalah salah satu harapan yang terus digaungkan sebagai arah pembangunan bangsa. Namun, cita-cita sebesar itu tidak akan berdiri kokoh apabila dibangun di atas fondasi pendidikan yang mulai memperlihatkan retakan. Tawuran antarpelajar menjadi pengingat bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Bangsa ini membutuhkan generasi yang bukan hanya mampu berpikir tetapi juga mampu hidup bersama dalam penghormatan terhadap martabat sesama.

Karena itu, tantangan terbesar pendidikan hari ini bukan semata-mata bagaimana melahirkan peserta didik yang unggul secara akademik melainkan bagaimana membentuk manusia yang mampu menggunakan pengetahuannya demi kebaikan bersama. Sebab, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa cerdas generasi mudanya tetapi juga oleh seberapa bijaksana mereka menghidupi kecerdasannya. Di situlah pendidikan menemukan makna yang paling hakiki: bukan sekadar mencerdaskan kehidupan bangsa, melainkan memanusiakan manusia.

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.