Kepercayaan Paus Leo XIV kepada Putra NTT Paulus Budi Kleden: Amanat bagi Gereja Indonesia

oleh -115 Dilihat
banner 468x60

Pengangkatan Mgr. Dr. Paulus Budi Kleden sebagai Anggota Dikasteri untuk Evangelisasi, pada Seksi Evangelisasi Awal dan Gereja-Gereja Partikular Baru, oleh Paus Leo XIV merupakan kabar sukacita yang melampaui kebanggaan lokal. Pengumuman resmi yang disampaikan Kantor Berita Vatikan pada 30 Juni 2026 itu adalah sebuah pengakuan bahwa Gereja Indonesia, khususnya dari Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki sumber daya kepemimpinan yang dipercaya ikut menentukan arah pelayanan Gereja Katolik di tingkat dunia.

Banyak orang mungkin bertanya, apa arti menjadi anggota sebuah dikasteri? Dalam tata pemerintahan Gereja Katolik, dikasteri adalah departemen di Kuria Roma yang membantu Paus menjalankan pemerintahan Gereja universal. Jika dianalogikan dengan sebuah negara, dikasteri memiliki fungsi yang mirip dengan kementerian. Setiap dikasteri menangani bidang strategis tertentu, mulai dari evangelisasi, pendidikan, kebudayaan, pelayanan kasih, dialog antaragama, hingga urusan para uskup.

Karena itu, penunjukan Uskup Agung Paulus Budi Kleden bukanlah jabatan simbolik ataupun penghargaan seremonial. Sebagai anggota Dikasteri untuk Evangelisasi, khususnya pada Seksi Evangelisasi Awal dan Gereja-Gereja Partikular Baru, beliau akan ikut memberikan pertimbangan, pengalaman, dan pandangan dalam merumuskan kebijakan Gereja mengenai pewartaan Injil, terutama di wilayah-wilayah misi dan Gereja-Gereja muda yang sedang berkembang. Ini adalah bidang yang sangat penting karena masa depan Gereja Katolik justru banyak bertumbuh di Asia, Afrika, dan sebagian Amerika Latin.

Kepercayaan itu tentu tidak datang secara kebetulan. Rekam jejak Uskup Paulus Budi Kleden menunjukkan kapasitas yang diakui secara internasional. Sebagai imam dari Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD), ia menyelesaikan studi Magister Teologi di Wina, Austria, dan meraih gelar Doktor Teologi di Freiburg, Jerman. Kemampuannya menguasai tujuh bahasa asing membuatnya mampu menjembatani berbagai budaya dan tradisi Gereja di dunia.

Pengalaman pelayanannya juga sangat luas. Ia pernah menjadi pastor paroki di Eropa, dosen di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, serta dipercaya sebagai Superior General SVD, pemimpin tertinggi kongregasi misionaris yang berkarya di puluhan negara. Saat ini ia juga menjabat sebagai Wakil Ketua I Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Kombinasi pengalaman akademik, pastoral, kepemimpinan internasional, dan spiritualitas misioner itulah yang membuat kepercayaan Paus memiliki dasar yang kuat.

Bagi masyarakat NTT, pengangkatan ini mempunyai makna yang sangat mendalam. Selama ini daerah ini dikenal sebagai salah satu lumbung panggilan imam dan biarawan di Indonesia. Ribuan imam asal Flores, Timor, Sumba, Alor, dan Lembata melayani umat di berbagai negara. Kini, seorang putra NTT tidak hanya menjadi misionaris dunia, tetapi juga dipercaya ikut memberikan arah bagi pelayanan Gereja universal.

Lebih luas lagi, pengangkatan ini memperlihatkan wajah Gereja Katolik yang semakin universal. Kepemimpinan Gereja tidak lagi didominasi oleh Eropa semata. Pengalaman Gereja dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin semakin dihargai sebagai bagian penting dalam membaca tantangan zaman. Paus Leo XIV tampaknya ingin memastikan bahwa suara Gereja dari berbagai belahan dunia ikut terdengar dalam proses pengambilan keputusan di Vatikan.

Namun, kebanggaan ini tidak boleh berhenti pada rasa bangga. Kepercayaan selalu datang bersama tanggung jawab. Bagi Gereja Indonesia, momentum ini hendaknya menjadi dorongan untuk terus meningkatkan mutu pendidikan calon imam, memperkuat kehidupan religius, membangun tata kelola Gereja yang transparan, serta semakin berpihak kepada kaum miskin, masyarakat adat, dan mereka yang hidup di daerah-daerah terpencil.

Bagi generasi muda Indonesia, perjalanan hidup Uskup Paulus Budi Kleden juga memberikan pelajaran berharga. Beliau tidak dikenal karena mengejar jabatan, melainkan karena ketekunan belajar, kesederhanaan hidup, kedalaman spiritualitas, keluasan wawasan, dan kesetiaan melayani. Jabatan besar datang sebagai buah dari dedikasi panjang, bukan sebagai tujuan yang dikejar.

Akhirnya, pengangkatan Uskup Agung Paulus Budi Kleden ke dalam Dikasteri untuk Evangelisasi bukan hanya kemenangan pribadi atau kebanggaan NTT. Ini adalah kehormatan bagi Gereja Indonesia sekaligus amanat besar untuk terus menghadirkan Gereja yang misioner, rendah hati, terbuka terhadap dialog, membela martabat manusia, dan setia mewartakan Injil di tengah dunia yang terus berubah.

Kepercayaan Paus Leo XIV kepada putra NTT ini menjadi penanda bahwa dari sebuah daerah pinggiran di timur Indonesia dapat lahir pemimpin Gereja yang dipercaya ikut melayani umat Katolik sedunia. Sebuah kebanggaan yang patut disyukuri, sekaligus panggilan untuk semakin setia mengabdi bagi Gereja dan kemanusiaan.

TIM REDAKSI

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.