Oleh: Hafis Azhari
Dalam serangkaian acara PATSUN (Pengajian Alumni Tebuireng Sarasehan Untuk Negeri), K.H. Fahmi Amrullah Hadziq, salah seorang cucu dari Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari, mengisi ceramah setelah mengadakan roadshow dan ziarah ke makam Abuya Dimyathi Cidahu, Pandegelang, yang dipandu oleh K.H. Ahmad Rafiuddin (Pengasuh Ponpes Tebuireng 09) dan menantunya, Gus Aziz Nawawi, salah seorang cicit dari ulama Banten, Syekh Nawawi al-Bantani.
K.H. Fahmi Amrullah (akrab disapa Gus Fahmi) menerangkan kitab At-Tibyan karya Syekh Hasyim Asy’ari, bahwa esensi dari silaturahmi adalah kedekatan soal jiwa dan hati nurani. Sebab, dekat di mata tetapi jauh di hati akan sulit terjalin ukhuwah dan silaturahmi. Namun sebaliknya, seberapa jauh jarak yang harus ditempuh, jika hati ini dekat, maka tak ada penghalang yang membatasi kita untuk memencet nomor ponsel yang ada di genggaman kita.
Tentu sangat dibutuhkan sikap rendah hati untuk dapat leluasa dan terampil untuk menjalin hubungan silaturahmi. Bagi Gus Fahmi, kitab At-Tibyan tergolong salah satu kitab unik dan langka di zamannya, karena Syekh Hasyim seakan mempu menghubungkan kemaslahatan kitab tersebut dengan era digital saat ini. Tantangan paling utama dalam menjalin ukhuwah adalah ego dan hawa nafsu, justru pada saat seseorang berada di puncak kesuksesan.
Untuk itu, Syekh Hasyim menampilkan ayat-ayat penting dari Al-Quran, terkait godaan dan tantangan tersebut, di antaranya surat Muhammad ayat 22-24: “Apakah seandainya berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah. Lalu, Dia menulikan (pendengaran) dan membutakan penglihatan mereka. Tidakkah mereka merenungkan Alquran ataukah hati mereka sudah terkunci?”
Banyak orang di era distraksi informasi ini, yang menganggap pencapaian duniawi seakan langgeng dan abadi. Sebaliknya, tidak sedikit dari mereka yang dikuasai ego, sehingga menganggap kegagalan sebagai pukulan telak yang sulit untuk diterima. Padahal, dengan kegagalan seseorang akan mendapat hikmah untuk banyak belajar dan menimba ilmu, memperbaiki diri, dan tumbuh dengan lebih tangguh dan bijaksana.
Sebagian sufi justru menilai, bahwa ujian di saat sukses dan berada di atas, jauh lebih membahayakan ketimbang ujian di saat gagal atau berada di bawah. Ayat yang saya sebutkan di atas, telah memperingatkan dengan tegas, betapa banyak orang yang angkuh dan memutus tali silaturahmi, justru setelah mereka berhasil menjadi penguasa. Sampai kemudian, ia menjadi sombong setelah ditutup mata-hatinya oleh Allah, lalu berbuat kerusakan di muka bumi ini.
Gus Fahmi lebih jauh mengulas, bahwa dampak dari keangkuhan akan mengakibatkan seseorang memutus tali silaturahmi, lalu muncul rasa dengki dan dendam kesumat. Kelak, ketika orang itu memegang kendali kekuasaan (sukses), sangat rawan untuk tergelincir pada perbuatan yang merusak atau membalas dendam. Jika hal tersebut muncul dalam jiwa seorang penguasa, maka akan sangat rentan untuk berbuat tidak adil dan sewenang-wenang kepada rakyat yang dipimpinnya.
Penguasa yang angkuh dan sombong akan melahirkan degradasi moral yang disebabkan adanya banyak perbedaan, serta maraknya celah-celah terjadinya perpecahan (iftiraq). Syekh Hasyim Asy’ari dalam kitab At-Tibyan tidak hanya membahas hukum-hukum fiqih tentang pentingnya menjalin persaudaraan, tetapi diulas secara cermat dalam risalah “al-Mawaidh” yang menjadi bagian penting dari kitab tersebut.
Gebrakan Syekh Hasyim dalam risalah al-Mawaidh, di antaranya menekankan pentingnya persatuan umat Islam, apapun organisasi, mazhab maupun tarekatnya. Dengan semangat mencari titik temu, dan mentoleransi munculnya berbagai aliran keagamaan di Indonesia, Syekh Hasyim segera mengomandoi terbentuknya organisasi kenfederasi Islam, dengan nama Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) pada 21 September 1937. Kemudian, di masa penjajahan Jepang (1942), organisasi tersebut diubah menjadi Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia).
Pemberian Gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno (1964) sangat terkait dengan konsistensi perjuangannya dalam membela persatuan dan kesatuan RI. Beliau mengeluarkan fatwa jihad pada saat Belanda sedang kuasa-kuasanya, bahkan berani menolak anugerah bintang jasa dari Belanda, serta menolak menghormat ke arah Tokyo pada saat pendudukan Jepang.
Tampaknya, aktualisasi nilai-nilai perjuangan untuk menegakkan prinsip keadilan, serta upaya mempersatukan kekuatan nasion, terus diperjuangkan dan diimplementasikan hingga wafatnya, sebagai jihad pendidikan dan perjuangan moral yang terus melekat dalam sanubari rakyat Indonesia. (*)
Tulisan ini disarikan dari hasil tausiyah dan wawancara bersama Gus Fahmi Amrullah Hadziq, cucu Syekh Hasyim Asy’ari pada Jumat, 7 November 2025 di Pesantren Tebuireng 09 (Nurul Falah), Rangkasbitung, Banten.
Penulis adalah Peneliti historical memory Indonesia, juga penulis novel Pikiran Orang Indonesia








