Dari Ruang Kuliah ke Ruang Kelas

oleh -204 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Heri Isnaini

Setiap awal semester, saya sering bertemu mahasiswa yang penuh semangat membicarakan teori-teori pendidikan. Mereka mengenal berbagai pendekatan pembelajaran. Mereka memahami konsep konstruktivisme, pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran berbasis proyek, hingga berbagai istilah yang menjadi bagian dari diskursus pendidikan kontemporer. Mahasiswa pendidikan bahasa Indonesia juga cukup akrab dengan teori linguistik, teori sastra, teori membaca, teori menulis, dan berbagai konsep kebahasaan lainnya.

Namun ada satu momen yang selalu menarik untuk diamati. Momen itu terjadi ketika mereka pertama kali berdiri di depan kelas sebagai calon guru. Di hadapan tiga puluh atau empat puluh siswa yang memiliki karakter berbeda-beda, berbagai teori yang sebelumnya tampak begitu jelas tiba-tiba berhadapan dengan kenyataan yang jauh lebih kompleks. Ada siswa yang antusias, ada yang pasif, ada yang sulit berkonsentrasi, ada yang sangat kritis, dan ada pula yang tampak tidak tertarik pada pelajaran yang sedang berlangsung.

Pada saat itulah banyak calon guru mulai menyadari bahwa mengajar bukan sekadar menerapkan teori. Mengajar adalah menghadapi manusia. Kesadaran semacam ini penting karena selama bertahun-tahun pendidikan guru sering terjebak dalam dikotomi yang tidak produktif: teori di satu sisi dan praktik di sisi yang lain. Seolah-olah keduanya merupakan dua dunia yang terpisah. Mahasiswa belajar teori di kampus, lalu menerapkannya di sekolah. Jika berhasil, teori dianggap benar. Jika gagal, praktik dianggap bermasalah.

Padahal, kenyataannya jauh lebih rumit. Mengajar bukanlah pekerjaan mekanis yang dapat dijalankan dengan mengikuti petunjuk langkah demi langkah. Mengajar adalah aktivitas profesional yang penuh pertimbangan, keputusan spontan, interpretasi situasi, dan respons terhadap berbagai kemungkinan yang muncul di dalam kelas. Sebab itu, guru bahasa Indonesia tidak lahir dari hafalan teori linguistik atau sastra semata. Mereka tumbuh melalui pengalaman menghadapi keragaman siswa, keragaman teks, dan keragaman situasi pembelajaran yang terus berubah.

Saya teringat pada pengalaman seorang mahasiswa praktik mengajar yang pernah bercerita kepada saya. Ia telah menyiapkan pembelajaran puisi dengan sangat baik. Rencana pembelajarannya lengkap. Media pembelajarannya menarik. Ia bahkan sudah membayangkan bagaimana siswa akan menikmati puisi yang akan dibahas bersama. Namun, kenyataan di kelas tidak sepenuhnya sesuai harapan. Ketika puisi dibacakan, sebagian siswa tampak tidak tertarik. Beberapa siswa menganggap puisi terlalu sulit. Sebagian lainnya hanya diam tanpa memberikan respons. Mahasiswa tersebut pulang dengan perasaan kecewa. Ia merasa pembelajaran yang dirancangnya gagal.

Ketika kami mendiskusikan pengalaman itu, saya bertanya satu hal sederhana. “Menurutmu, apa yang sebenarnya dipelajari hari ini?” Ia menjawab, “Saya belajar bahwa mengajar puisi tidak cukup hanya memilih puisi yang bagus.” Jawaban itu menarik. Pada hari itu, mungkin siswa belajar tentang puisi. Namun, calon guru tersebut belajar sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu bagaimana memahami pembaca. Pengalaman itu tidak ia dapatkan dari buku teori. Pengalaman itu lahir dari perjumpaan langsung dengan kenyataan di ruang kelas. Di sinilah praktik menjadi sumber pengetahuan profesional.

Dalam dunia pendidikan, kita sering menganggap pengalaman sebagai sesuatu yang biasa. Padahal pengalaman adalah laboratorium terbesar bagi seorang guru. Setiap kelas adalah ruang penelitian. Setiap siswa adalah sumber pembelajaran. Setiap pertemuan adalah kesempatan untuk memahami kembali hakikat pendidikan.
Guru bahasa Indonesia, misalnya, tidak hanya mengajarkan bahasa sebagai sistem. Mereka mengajarkan bahasa sebagai pengalaman manusia. Mereka mengajarkan siswa membaca, tetapi setiap siswa memiliki pengalaman membaca yang berbeda. Mereka mengajarkan menulis, tetapi setiap siswa membawa latar belakang, minat, dan kemampuan yang berbeda pula.

Tidak ada satu formula yang selalu berhasil untuk semua kelas. Sebab itu, guru terus belajar. Seorang guru mungkin menemukan bahwa metode yang berhasil di satu kelas tidak selalu berhasil di kelas lain. Ia mungkin menyadari bahwa teks yang sangat menarik bagi satu kelompok siswa ternyata tidak menarik bagi kelompok yang berbeda. Kesadaran-kesadaran semacam itu tidak lahir dari teori semata. Ia lahir dari dialog yang terus-menerus antara teori dan pengalaman.

Dalam konteks inilah saya sering merasa bahwa kampus dan sekolah seharusnya tidak dipandang sebagai dua dunia yang terpisah. Kampus menyediakan kerangka berpikir. Sekolah menyediakan pengalaman. Keduanya saling membutuhkan. Teori tanpa pengalaman berisiko menjadi abstrak. Pengalaman tanpa refleksi teoretis berisiko menjadi rutinitas yang tidak berkembang. Guru yang baik lahir dari pertemuan keduanya.

Bagi calon guru bahasa Indonesia, pengalaman praktik memiliki makna yang sangat penting karena mata pelajaran yang mereka ajarkan berkaitan langsung dengan kehidupan. Bahasa bukan sekadar objek studi. Bahasa adalah alat manusia untuk berpikir, berkomunikasi, dan membangun makna.

Sastra pun demikian. Sastra bukan sekadar kumpulan teks yang harus dianalisis. Sastra adalah pengalaman kemanusiaan yang dihadirkan melalui bahasa. Sebab itu, mengajarkan bahasa Indonesia selalu melibatkan aspek-aspek yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi. Ketika seorang siswa menulis cerpen, misalnya, guru tidak hanya berhadapan dengan struktur naratif atau kaidah kebahasaan. Guru juga berhadapan dengan pengalaman hidup siswa yang masuk ke dalam cerita tersebut.

Ketika siswa membaca puisi, guru tidak hanya mengajarkan majas atau citraan. Guru juga berhadapan dengan cara siswa memaknai dunia. Situasi-situasi semacam ini menuntut kepekaan yang tidak selalu dapat diajarkan melalui kuliah. Kepekaan tumbuh melalui pengalaman. Kepekaan berkembang melalui refleksi. Kepekaan diperhalus melalui praktik yang terus-menerus.

Sebab itu, saya sering mengatakan kepada mahasiswa bahwa menjadi guru bukanlah proses yang selesai ketika mereka lulus dari perguruan tinggi Kelulusan hanyalah salah satu tahap perjalanan. Menjadi guru adalah proses belajar sepanjang hayat. Dalam banyak profesi, seseorang dapat mencapai titik ketika ia merasa telah menguasai seluruh aspek pekerjaannya. Dalam dunia pendidikan, titik semacam itu hampir tidak pernah benar-benar ada. Mengapa? Karena objek pendidikan adalah manusia. Dan manusia selalu berubah.

Siswa yang dihadapi guru hari ini berbeda dengan siswa sepuluh tahun yang lalu. Cara mereka membaca berbeda. Cara mereka berkomunikasi berbeda. Cara mereka memperoleh informasi pun berbeda. Guru yang berhenti belajar akan segera tertinggal. Sebaliknya, guru yang terus belajar akan melihat setiap perubahan sebagai kesempatan untuk bertumbuh.

Di sinilah praktik mengajar menjadi sekolah yang sesungguhnya bagi seorang guru. Setiap tahun ajaran baru menghadirkan pelajaran baru. Setiap kelas menghadirkan tantangan baru. Setiap siswa menghadirkan perspektif baru. Dengan demikian, profesi guru pada dasarnya adalah profesi pembelajar. Guru mengajar karena belajar. Dan guru belajar karena mengajar.

Dalam konteks Pendidikan Profesi Guru (PPG), gagasan ini menjadi sangat relevan. Selama ini praktik lapangan sering dipahami sebagai tahap penerapan teori yang telah dipelajari sebelumnya. Pandangan semacam ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak cukup. Praktik lapangan seharusnya dipahami sebagai ruang pembelajaran profesional. Mahasiswa tidak datang ke sekolah hanya untuk menunjukkan bahwa mereka mampu mengajar. Mereka datang untuk belajar menjadi guru. Perbedaan antara keduanya sangat penting.

Jika praktik dipahami sebagai ujian kemampuan, fokus mahasiswa akan tertuju pada penilaian. Namun, jika praktik dipahami sebagai proses belajar, fokus mereka akan tertuju pada pertumbuhan profesional. Mereka akan lebih terbuka terhadap masukan. Mereka lebih berani merefleksikan kesalahan. Mereka lebih siap belajar dari pengalaman. Dalam perspektif ini, guru pamong memiliki peran yang sangat penting.

Guru pamong bukan sekadar penilai. Ia adalah mentor. Ia membantu mahasiswa membaca pengalaman yang sedang dijalani. Ia membantu mereka memahami mengapa suatu pembelajaran berhasil atau tidak berhasil. Ia membantu mereka melihat bahwa setiap pengalaman mengajar mengandung pelajaran profesional yang berharga. Dengan kata lain, guru pamong membantu mahasiswa mengubah pengalaman menjadi pengetahuan.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa kualitas seorang guru bahasa Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak teori yang dikuasainya. Yang lebih penting adalah bagaimana ia menghidupkan teori itu dalam praktik yang nyata. Teori linguistik penting. Teori sastra penting. Teori pendidikan penting. Namun, semua teori itu memperoleh maknanya ketika bertemu dengan kehidupan di ruang kelas.

Di sanalah bahasa tidak lagi menjadi konsep abstrak, melainkan alat komunikasi yang digunakan siswa setiap hari. Di sanalah sastra tidak lagi menjadi materi pelajaran, melainkan pengalaman yang membantu siswa memahami dirinya dan dunia di sekitarnya. Di sanalah pendidikan tidak lagi menjadi wacana, melainkan tindakan yang menyentuh kehidupan manusia.

Sebab itu, jalan menjadi guru bahasa Indonesia sesungguhnya bukan perjalanan dari ketidaktahuan menuju pengetahuan semata. Ia adalah perjalanan dari ruang kuliah menuju ruang kelas, lalu kembali lagi ke ruang refleksi. Perjalanan itu tidak pernah benar-benar selesai.

Setiap pengalaman mengajar akan melahirkan pertanyaan baru. Setiap pertanyaan akan mendorong pencarian baru. Setiap pencarian akan memperkaya pemahaman tentang profesi guru.

Mungkin itulah sebabnya guru yang baik selalu tampak rendah hati. Semakin lama mengajar, semakin ia menyadari betapa banyak hal yang masih perlu dipelajari. Ia tidak lagi melihat kelas sebagai tempat untuk menunjukkan apa yang diketahuinya. Ia melihat kelas sebagai ruang tempat dirinya dan siswanya bertumbuh bersama. Dan pada titik itulah seorang guru benar-benar belajar menjadi guru. Bukan karena ia telah menguasai semua teori, melainkan karena ia terus belajar dari praktik, dari pengalaman, dari refleksi, dan dari manusia-manusia yang setiap hari ditemuinya di ruang kelas.

Penulis adalah Dosen Sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.