Oleh: Muhammad Subhan
BERTAHAN di titik terendah tidak pernah mudah. Tidak ada manusia yang benar-benar siap ketika ujian datang bertubi-tubi. Namun, saya percaya, jika titik itu kuat dijalani—meski terseok, meski merangkak—pada saatnya akan berubah menjadi sesuatu yang indah.
Luka, suatu hari akan menjadi pelajaran, dan pedih perlahan akan menjadi kekuatan.
Setiap orang punya titik terendahnya masing-masing. Setiap orang menyimpan badai dalam batinnya sendiri-sendiri.
Ada yang terpuruk jatuh sejatuh-jatuhnya hingga tak sanggup berdiri, ada yang melakukan tindakan fatal karena pikirannya buntu sementara hatinya remuk. Ada juga yang tetap memilih bertahan, melawan segala rasa sakit dan ketidakpastian, hingga akhirnya Tuhan membuka jalan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Titik terendah itu bentuknya bermacam-macam. Ada orang yang menjadi korban bencana dan kehilangan segalanya seketika—rumah, harta, keluarga, bahkan arah hidup. Ia berdiri di antara puing-puing bukan hanya bangunan, tetapi juga masa depannya yang ikut runtuh.
Ada orang yang terjerat utang, bekerja tak berhenti, menguras seluruh tenaga, hanya untuk melihat harta yang ia kumpulkan bertahun-tahun habis dalam hitungan hari. Ada yang diimpit pekerjaan, dipecat, dibohongi rekan sendiri, dan jatuh sebangkrut-bangkrutnya. Juga badai-badai yang lain.
Semua itu memukul dan menghantam bagai godam di kepala, berulang-ulang, hingga seseorang merasa tak sanggup lagi bernapas.
Ada yang tetap berdiri. Ada yang lututnya goyah. Ada yang dadanya sesak. Ada pula yang jatuh tersungkur dan tak mampu bangkit dalam waktu lama.
Titik terendah memang begitu: ia datang tanpa mengetuk pintu, menggerus perlahan, cukup lama hingga membuat seseorang merasa hidup berhenti di situ saja.
Namun, titik terendah juga punya sisi lain: ia bisa menjadi titik balik. Ia bisa mengubah seseorang menjadi lebih bijak, lebih arif, lebih kuat, lebih tangguh, lebih utuh. Asalkan ia terus bertahan.
Saya sendiri pun punya titik terendah dalam hidup. Saya bukan pengecualian dari hukum alam itu. Di titik itu, saya benar-benar merasa dunia ini tidak adil. Saya merasa dihajar oleh keadaan, dan batin saya porak-poranda.
Titik itu terjadi ketika saya kehilangan ayah menjelang tamat SMA. Ayah meninggal dunia. Dunia saya runtuh. Hidup yang sebelumnya masih punya harapan, tiba-tiba berubah gelap. Dan dalam sekejap, semua beban berpindah ke pundak saya.
Sejak itu, saya harus menafkahi ibu yang tiba-tiba sakit parah, dan tiga adik yang saat itu masih kecil-kecil, masih butuh perhatian, pendidikan, makanan, dan masa depan.
Saya ingat malam-malam ketika saya tak bisa tidur. Bukan karena tidak mengantuk, tetapi karena pikiran saya penuh dengan pertanyaan: bagaimana caranya bertahan? Bagaimana menenangkan ibu? Bagaimana memberi makan adik-adik? Bagaimana saya, seorang remaja yang belum tamat sekolah, dapat mengemban beban sebesar itu?
Tak ada pilihan lain selain memikul semua itu, meski saya sendiri rapuh. Dengan segala konsekuensinya, saya harus dewasa sebelum waktunya.
Saya pun memutuskan hijrah, meninggalkan Aceh menuju Padang—empat orang di belakang saya; ibu dan tiga adik, ikut bersama saya. Sebuah keputusan besar untuk seorang remaja yang kehilangan pegangan.
Sepuluh tahun lamanya saya terpuruk. Sepuluh tahun saya dihantam badai hidup, satu berganti satu, sampai saya merasa hidup saya seperti perahu kecil yang dikejar ombak di lautan lepas.
Di rantau itu—yang juga kampung halaman ibu—saya bekerja apa saja, berpindah-pindah tempat, jatuh bangun, jatuh lagi, berkali-kali saya merasa ingin menyerah.
Ada masa-masa ketika saya hanya bisa berdoa agar esok tidak lebih berat dari hari ini. Ada juga masa ketika saya tak lagi tahu harus meminta tolong kepada siapa.
Tetapi satu hal yang akhirnya menyelamatkan saya adalah kemampuan untuk tetap bertahan, meski tertatih. Saya memilih memperkuat syukur dan sabar—dua hal yang menjadi pelampung ketika hidup berusaha menenggelamkan saya ke dasar lautan paling dalam. Saya belajar menerima bahwa hidup tidak selalu memberi apa yang kita mau. Saya belajar berdamai dengan luka, belajar mengasah diri, belajar menunggu waktu yang tepat.
Dan ternyata saya mampu melewatinya. Meski tidak mudah. Meski air mata sering menjadi teman di pengujung malam. Meski hati sering terasa seperti diremas-remas. Namun, waktu bergerak, dan saya bergerak bersamanya.
Pelan-pelan, kehidupan membuka celah-celah kecil yang bisa saya masuki. Peluang datang tanpa saya duga. Pertolongan muncul dari arah yang tidak saya sangka.
Saya mulai menemukan bentuk hidup yang lebih stabil, meski perjalanan menuju itu sangat panjang, berliku, dan melelahkan.
Ketika menoleh ke belakang, saya kadang tidak percaya bahwa saya pernah berada di titik yang begitu rendah. Serendah-rendahnya. Saya pernah merasa tidak ada lagi harapan dan tidak ada lagi masa depan. Namun ternyata, saya masih tetap di sini—berdiri, bekerja, menulis, dan melanjutkan hidup.
Ada rasa syukur yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ada rasa lega karena badai tidak selamanya mendera.
Itulah mengapa saya percaya, titik terendah bukan akhir cerita. Ia hanya bagian dari jalan panjang seseorang menuju versi terbaik dirinya yang lebih kuat.
Pada titik terendah, seseorang diuji bukan untuk dipatahkan, melainkan untuk ditempa. Pada titik itulah seseorang belajar tentang arti ketabahan, arti kemandirian, arti kehilangan, arti pengorbanan, dan arti harapan.
Dan akhirnya, saya sampai pada kesimpulan yang selalu saya pegang: Tuhan tidak pernah keliru menempatkan seseorang di titik tertentu dalam hidupnya. Ujian diberikan bukan karena Dia benci. Tidak diberi bukan tanda tidak disayang. Kadang kita hanya diminta menunggu waktu yang tepat, waktu ketika kita benar-benar siap menerima apa yang kita inginkan.
Ketika waktunya tiba, semua yang dulu terasa pahit berubah menjadi pelajaran yang manis. Dan pada akhirnya, hidup menjadi lebih indah karena kita pernah bertahan.
Yang penting adalah terus berjalan. Terus menggenggam harapan, walaupun kecil. Terus percaya bahwa badai tak selamanya, bahwa titik terendah bukan tujuan akhir, tetapi persinggahan sementara sebelum kita naik ke tempat yang lebih tinggi.
Suatu hari nanti, ketika kita menatap kembali perjalanan itu, kita akan berkata pada diri sendiri: “Saya pernah di titik paling rendah, tetapi saya tidak menyerah. Dan itu membuat hidup saya hari ini jauh lebih indah.”
Demikianlah, kebahagiaan dan keindahan pada akhirnya adalah sesuatu yang kita ciptakan sendiri, bukan yang datang dari orang lain. Orang-orang di sekitar kita hanya menjadi pelengkap perjalanan, menjadi bayang-bayang yang sesekali menguatkan atau sekadar menemani langkah, tetapi sumber cahaya tetap berasal dari dalam diri kita sendiri.
Dan, teruslah merawat cahaya itu—sekalipun redup, tetap jaga agar ia tak padam—sebab dari sanalah kekuatan untuk melangkah dan bertumbuh selalu bermula. []
Arikel ini sudah terbit di majalahelipsis.id








