Rosario dan Pancasila

oleh -349 Dilihat
banner 468x60

OKTOBER membuka dirinya dengan dua momen yang penuh makna. Bagi Gereja Katolik, hari ini, 1 Oktober menandai awal Bulan Rosario, saat umat beriman menyatukan hati dalam doa bersama Bunda Maria. Bagi bangsa Indonesia, 1 Oktober dikenang sebagai Hari Kesaktian Pancasila, saat diteguhkan kembali dasar negara sebagai penjaga persatuan dan keadilan.

Dua peristiwa ini, meski berasal dari ruang spiritual dan kenegaraan yang berbeda, sesungguhnya saling menyapa dalam kedalaman makna. Keduanya mengajak kita untuk kembali kepada akar kasih, pengorbanan, dan solidaritas.

Rosario adalah doa yang berulang. Tapi tidak hanya terbatas pada repetisi rohaniah. Ia adalah irama cinta yang mengalir dari kegamangan dunia menuju harapan surgawi. Dalam setiap butirnya, kita diajak merenungkan kehidupan Yesus dan Maria. Ya…kehidupan yang dibingkai oleh tema seperti penderitaan, pengabdian, dan kebangkitan.

Di sisi lain, Pancasila adalah butir-butir nilai yang membentuk kehidupan berbangsa dalam 5 tema besar yakni Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan. Ia lahir dari sejarah yang berdarah. Ia hadir sebagai pelita di tengah gelapnya ideologi yang memecah.

Karena itu, ketika umat Katolik berdoa Rosario dan bangsa mengenang Kesaktian Pancasila, maka sesungguhnya mereka sedang berjalan di dua jalan yang sama. Pertama, jalan pengharapan yang dibangun di atas pengorbanan. Dan kedua, jalan persatuan yang tumbuh dari keberanian untuk saling memahami.

Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, doa dan nilai menjadi benteng terakhir. Bulan Rosario mengingatkan kita bahwa kekuatan tidak selalu datang dari suara keras, tetapi dari hati yang berserah. Dan, hari Kesaktian Pancasila mengingatkan kita bahwa bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tak pernah terluka, tetapi bangsa yang mampu bangkit dan bersatu.

Mari kita jalani Oktober ini dengan semangat ganda. Berdoa bersama Bunda Maria untuk dunia yang damai, dan menghidupi Pancasila sebagai kompas moral dalam kehidupan sosial kita. Karena dalam doa dan dalam nilai, kita menemukan kekuatan untuk menjadi manusia yang utuh. Utuh bagi Tuhan, bagi sesama, dan bagi bangsa.

Salam hormat ke seluruh penjuru dunia dari Kota Pancasila, Ende.

Oleh: Anselmus DW Atasoge

Penulis adalah Staf Pengajar di Stipar Ende Flotes

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.