Oleh: Hafis Azhari
Bermula dari kabar seorang sahabat dari Banten (sebut saja Farid) yang menceritakan pengalamannya sewaktu mengirimkan bantuan pangan untuk warga Palestina. Ia menembus pesisir kota Rafah hingga menuju perbatasan Jalur Gaza. Setelah beberapa hari berhasil mendistribusikan bantuan tersebut bersama teman-teman dari Indonesia dan Malaysia, Farid melintasi perbatasan dan menyelusup masuk ke kota Tel Aviv untuk bergabung bersama ribuan demonstran. Tak lama kemudian, ia terperangah kaget menyaksikan ratusan pendemo beragama Yahudi yang juga ikut meneriakkan yel-yel anti Zionisme.
Akhirnya, Farid mencoba berkenalan dengan Steven, salah seorang mahasiswa yang menyatakan dirinya penganut agama Yahudi. Ia menjelaskan, bahwa kaum Zionis sama sekali tidak membawa misi agama Yahudi, karena mereka memiliki paham sekularisme dan menganut ideologi kolonialisme dan imperialisme.
Tambah pusing saja Farid mendengar penjelasan tersebut, belum lagi ia menyaksikan puluhan orang Kristen yang juga ikut berdemo, dan merasa sangat dirugikan oleh serangan-serangan tentara Israel, yang tentunya dibayar dan disponsori oleh para pengusaha Zionis. “Bukankah orang-orang Zionis itu adalah Yahudi? Mengapa Trump dan para pendukungnya di Amerika, sebagian justru memihak Zionisme? Mengapa tidak setiap orang Yahudi menjadi pendukung negeri Israel? Mengapa pula orang-orang Yahudi yang religius cenderung menentang gerakan Zionisme hingga hari ini?” demikian bertubi-tubi tanda-tanya di benak Farid.
Bagi Steven, siapapun dan pihak manapun yang mendukung gerakan Zionisme, memiliki kepentingan atas berdirinya negeri Israel yang cenderung sekuler dan liberal. Sedangkan, para penganut paham sekulerisme jelas-jelas menentang dan memusuhi penduduk pribumi Palestina yang religius dan mayoritas muslim. Selain itu, para penganut Kristen yang religius juga dianggap batu sandungan oleh kaum Zionis yang mendambakan suatu bangsa sekuler yang berdiri di atas stabilitas keamanan. Mereka telah dilindungi oleh tentara-tentara bersenjata, dengan mengandalkan kekuatan-kekuatan sains dan teknologi canggih.
Menarik sekali mengkaji identitas Steven yang lahir pada 12 November 2001 di negeri Israel yang telanjur diakui dunia internasional. Padahal, Indonesia setelah era kemerdekaan RI hanya mendukung negeri Palestina, dan tidak mengakui berdirinya Israel yang jelas-jelas disponsori kaum imperialis dan neo-kolonialis, yang (menurut Soekarno) cepat atau lama, akan memarjinalkan penduduk pribumi Palestina sebagai pemilik tanah air yang sah.
Sejak memimpin Indonesia, Presiden Soekarno sangat mewanti-wanti munculnya penjajah-penjajah baru, sebagaimana peringatan sastrawan Pramoedya Ananta Toer, “Berhati-hatilah, karena bom waktu kolonial di negeri ini, kapan saja bisa meletus.”
Generasi akhir zaman
Seorang mahasiswi Katolik, Fransisca yang ikut menggelar yel-yel anti berdirinya negeri Israel, tampak memiliki visi yang berbeda dengan Steven yang cenderung anti Zionisme. Mendiang ayah Fransisca tewas di tahun 2005 akibat serangan tentara Israel di tepi barat Jalur Gaza, ketika kaum Zionis bersikeras mendominasi wilayah tersebut. Padahal, pihak keluarga dari generasi kakek Fransisca, dulunya hidup aman dan tentram, sebagai warga pribumi Palestina, di saat orang-orang Israel masih menjadi kelompok minoritas yang dilindungi oleh stabilitas negeri Palestina.
Seketika itu, Fransisca bertanya-tanya, mengapa keturunan Nabi Yakub (Israel), yang dulu pernah dikorbankan Firaun dan NAZI untuk kepentingan Jerman Raya, kini telah tega menjelma firaun-firaun baru terhadap warga Palestina demi kejayaan negeri yang disebutnya “Israel Raya”? Netanyahu sendiri sudah membentangkan peta untuk wilayah-wilayah yang akan dikuasai Israel di sepanjang sungai Eufrat hingga menembus Kota Madinah. “Apa yang kami cita-citakan, selalu akan ada jalan untuk memperjuangkannya,” demikian ambisi Netanyahu dan panglima tempurnya, seakan tidak melibatkan peran Tuhan dalam menjalankan obsesi yang angkuh itu.
Beberapa dekade lalu, di bawah kepemimpinan Yasser Arafat, Palestine Liberation Organization (PLO) telah berbaik hati mengadakan perundingan damai untuk berbagi wilayah dengan Israel. Biarpun Arafat mendapat serangan dari ekstrim kanan dan kiri, baik dari warga Palestina yang ortodoks, gerakan bawah tanah, maupun dari tentara-tentara Zionis yang bersikeras memperluas wilayah pendudukannya.
Bagi Farid sendiri, apakah layak orang Indonesia memelihara pemikiran purba, dengan berpretensi tentang Bani Israel yang harus dimusnahkan dari muka bumi ini? Bukankah keberadaan mereka atas kehendak Allah juga, sebagai ujian ketakwaan bagi kaum muslimin dan umat manusia di seluruh dunia, seberapa kuat manusia berpegang-teguh pada kebenaran dan kesabaran. Sebab, kebenaran yang diyakini oleh pikiran manusia hari ini, boleh jadi bukan menjadi kebenaran hakiki bagi pemikiran manusia di masa yang akan datang.
Sekarang suasananya memang makin berbeda dan super kompleks. Tak terkecuali bagi Farid, sebagai seorang muslim kelahiran Banten yang berhasil menembus perbatasan, dan kini sedang bergabung dengan ribuan muda-mudi, orang tua dan anak-anak yang menggelar yel-yel berwarna-warni, menyuarakan motif dan tujuan yang berbeda-beda. Bila diterjemahkan secara bebas, spanduk-spanduk di sepanjang jalan protokol Tel Aviv itu berbunyi: “Kami Anti Zionisme”, “Kami Menolak Berdirinya Israel”, “Usir Israel dari Palestina”, “Usir Zionisme dari Israel”, “Hanya Ada Palestina”, “Kami Menolak Manuver Netanyahu dan Trump”, “Palestina Harus Merdeka”, “Ganyang Israel, hidup Iran!” dan seterusnya.
Sejak bulan-bulan lalu, serangan rudal-rudal Iran, sebagai balasan atas kekejaman tentara Zionis yang melakukan genosida, juga ditafsirkan berbeda-beda oleh masyarakat dunia, tak terkecuali Indonesia. Kaum Wahabi menyangsikan peran Iran yang membela saudara sesama muslim yang diperlakukan sewenang-wenang di Jalur Gaza. Di sisi lain, sebagian kelompok yang membanggakan diri paling Sunni (Aswaja), menganggap remeh atas keberanian tentara-tentara Iran di bawah komando Ayatullah Ali Khamenei. Bahkan, tidak jarang menganggap sebagai gerakan kaum Syiah yang menyimpang.
Padahal, yang diperjuangkan oleh Iran adalah nilai-nilai kebenaran dan keadilan, sebagai amr ma’ruf dan nahi munkar, juga sebagai teladan kaum muslim yang harus tampil sebagai umat penengah (wasatha).
Dalam ajaran Islam ditegaskan, jika seorang mukmin diperlakukan sewenang-wenang, maka sebagai orang beriman, seharusnya kita menjadi satu tubuh yang senyawa merasakan kepedihan yang sama. Karena itu, yang dibela dan dilindungi adalah rasa keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan, bukan perkara apa suku agamanya, partainya maupun ideologinya. Di era 1940-an, ketika NAZI Jerman memberlakukan Holocaust terhadap ribuan penduduk Yahudi di eropa, Amerika dan sekutunya menentang tindakan militerisme yang biadab itu. Tetapi, kenapa saat ini mereka diam saja ketika kebrutalan itu justru dilakukan oleh kaum Zionis terhadap warga Palestina?
“Masyarakat Gaza telah diperlakukan secara zalim,” tegas Ali Khamenei, “dan kita sebagai umat muslim harus bersatu dan berjuang bersama, untuk melawan kezaliman tersebut.”
Menurut Ali Khamenei, di era milenial yang menandai sinyal akhir zaman ini, terlampau banyak orang yang salah jalan tetapi mereka merasa gembira karena banyak temannya. Untuk itu, rakyat Iran harus berani memilih jalan yang benar, meskipun hanya berjuang sendirian. Bangsa Iran tak akan menjajah dan memperbudak bangsa mana pun. Mereka akan selalu berjiwa independen, dan tak mau diperbudak oleh siapapun.
Kilas balik sejarah
Di era pasca kenabian Muhammad, pernah terdapat gerakan separatis dari kaum Khawarij yang mengaku muslim, lalu berteriak-teriak “Allahu Akbar” demi untuk kepentingan politisnya. Kala itu, penguasa Muawiyah bin Abi Sofyan mengambil “keuntungan” dari kekisruhan politik seraya menggulingkan kepemimpinan Imam Ali bin Abi Thalib. Beberapa dekade setelah pembunuhan Imam Ali oleh Abdurrahman bin Muljam, nasib serupa menimpa anaknya Saydina Husein, yang juga terbunuh di Padang Karbala, di bawah pemerintahan Yazid bin Muawiyah.
Mereka yang mengumbar fitnah dan kebencian kepada keluarga Nabi (ahlul bait), sejatinya hanyalah orang-orang yang menunggangi Tuhan dan Islam sebagai alat politik demi kepentingan cita-cita duniawi semata. Mereka meneriakkan yel-yel dengan membesarkan nama Tuhan, padahal hakikatnya hanya memperalat agama demi memuaskan ego dan hawa nafsunya. “Mereka menggunakan kata-kata kebenaran, untuk tujuan yang tidak benar,” demikian tegas Imam Ali bin Abi Thalib.
Kini, setelah berjam-jam Farid dan ribuan massa menggelar demonstrasi di sekitar puing-puing reruntuhan Tel Aviv yang dibombardir Iran, ia memutuskan untuk rehat dan duduk di sebuah trotoar jalan. Farid mengeluarkan isi ranselnya, kemudian menawarkan pada Steven dan Fransisca yang duduk di sebelahnya sambil mengeluarkan beberapa botol air mineral. Mereka tampak kelelahan dan berkeringat, saling duduk dan berbincang-bincang dengan tatapan menerawang, sambil menghela nafas panjang.
Ketiga pemuda penganut agama Samawi itu menengadah ke atas, menyaksikan beberapa gedung pencakar langit yang porak-poranda, setelah beberapa minggu lalu dihantam rudal Balistik pada jarak ribuan kilometer dari perbatasan negeri Iran. Dalam bayangan mereka, gedung-gedung megah hasil rancangan para arsitek Yahudi itu, seakan menjadi impian manusia modern, sebagai teknologi canggih di jantung pusat ekonomi dan kebudayaan Israel. Bangunan-bangunan itu seakan memiliki makna spiritual, juga simbol kreasi dari kepongahan dan kebrutalan manusia-manusia hiper modern yang berjiwa hedonistik.
Barangkali, atas dasar nilai-nilai spiritual yang dianggap kudus itu, para tetua Yahudi ikut merestui keberadaan negeri Israel dengan ibukota Yerusalem sebagai tanah yang dijanjikan. Dalam sejarahnya, bangsa Israel memang tak pernah memilih eksodus (hijrah) menuju pulau Kalimantan, Selandia Baru maupun benua Afrika dan Australia yang lebih luas, ketimbang wilayah Palestina yang luasnya hanya beberapa ribu kilometer persegi.
Sekarang persoalannya semakin jelas bagi Farid. Ketika ia membicarakan perbedaan antara kaum Zionis, bangsa Israel dan umat Yahudi, tampaknya sama rumit dan kompleksnya dengan membedah polemik antara sahabat Nabi, ahlul bait, Sunni, Syiah, Rafidhah, kaum Khawarij dan lain-lain.
Jika yang diperjuangkan adalah agama, Quran dan Sunnah, bukankah kaum Khawarij yang membunuh Ali bin Abi Thalib juga berjuang dengan mengatasnamakan demi agama dan kitab suci? Jikapun yang diperjuangkan demi kemanusiaan, bukankah Trump dan Netanyahu juga merasa berjuang dengan mengatasnamakan nilai-nilai kemanusiaan? Bukankah Firaun juga kerap menimang-nimang balita di depan rakyatnya, untuk menunjukkan dirinya sebagai Raja yang simpatik dan peduli pada anak-anak.
Farid menolak untuk membicarakan lebih jauh. Tatapannya berkaca-kaca, diam dan hening. Ketika Fransisca mengulik persoalan konflik antara kaum Khawarij, Ali dan Muawiyah, ia memutuskan untuk tidak menjawabnya. Juga ia merahasiakan polemik berlarut-larut antara penganut Sunni, Syiah, Wahabi dan seterusnya. Sebab, hal tersebut menyangkut citra dan nama baik agama Islam yang dianutnya, sebagaimana Fransisca yang juga merasa riskan mempersoalkan pecahnya Kristen Katolik dan Protestan.
Dalam hal ini, dapat dipahami ketika Steven menolak gerakan Zionisme yang brutal, namun demikian ia tak memiliki visi untuk menentang negeri Israel, di mana ia telah lahir di kota Tel Aviv, sebagai jantung ekonomi negara yang kadung dinamakan “Israel” tersebut.
Kalaupun tentara Israel dan Amerika menyerang Iran atas dasar kebenaran, lalu siapa yang berhak mengklaim kebenaran di atas pembenaran? Kelompok mana yang layak menyatakan dirinya paling benar di atas kesalahan? Kalaupun Ayatullah Ali Khamenei memutuskan berperang melawan kezaliman, bukankah Trump dan Netanyahu juga mengklaim dirinya bertempur melawan penjahat yang mesti ditumpaskan?
Apakah layak bagi Trump dan dunia internasional untuk menyejajarkan posisi Ali Khamenei, sebagaimana hukuman yang pernah ditimpakan kepada Muammar Khadafi (Libya) dan Saddam Husein (Irak) beberapa dekade lalu?
Pengikut Imam Mahdi
Sesungguhnya, tugas hidup manusia berikhtiar memperjuangkan kebaikan dan kebenaran, sedangkan kebenaran yang sejati, hakikatnya hanyalah milik Tuhan Sang Pencipta dan Penggenggam jagat semesta ini. Meskipun demikian, kita tidak layak menganggap kehidupan dunia ini sebagai main-mainan dan senda gurau semata. Tuhan bukan hendak bermain dadu, karena setiap planet dan milyaran galaksi di jagat makrokosmos, bahkan setiap sel dari milyaran sel-sel di dalam jagat mikro tubuh manusia, seluruhnya mutlak dalam kendali dan manajemen Allah Swt.
Dengan kualitas religiusitas yang baik dari figur Ali Khamenei dan tentara-tentara Iran, mereka akan selalu terkoneksi dengan “perbuatan” Allah, di mana satu korban manusia sudah diperhitungkan dalam catatan takdir-Nya. Mereka takkan tega membunuh seekor burung atau kupu-kupu yang hinggap, sebagaimana peringatan Rasulullah agar jangan membunuh orang tua dan anak-anak di medan perang. Bahkan, mereka tak boleh mengusik satu batang pohon pun yang sedang berbuah.
Namun demikian, barangkali akan selamanya kita jumpai sosok-sosok seperti Musa dan Firaun di dunia yang fana ini. Sebagaimana Isa dan Raja Herodes, atau Muhammad dan antagonisnya Abu Lahab dan Abu Jahal, yang konon akan menjelma sebagai sosok Dajjal dan figur protagonis Imam Mahdi di akhir zaman. Lalu, jika pun sosok Imam Mahdi dilantik (bai’at) pada waktunya di depan Ka’bah, apakah kita akan “terbang” dalam jarak ribuan kilometer menuju kota Mekah? Ataukah cukup menyamakan frekuensi dengan jiwa-jiwa terpilih (Satrio Piningit), yang sebenarnya selaras dengan massage sang Imam Mahdi yang membawa misi keadilan dan kebaikan ilahi (global)?
Sekarang tinggal peran kita sebagai khalifah dan hamba Tuhan di muka bumi, yang ditakdirkan hidup dan lahir di negeri ini, dan di zaman ini. Apakah kita mau ikut-serta berbaris bersama para perusak, ataukah bersama para pejuang dan pembangun peradaban? Apakah sama orang yang mencari kebenaran walaupun belum dicapainya, ketimbang mereka yang sibuk mencari kesalahan walaupun sudah berhasil diraihnya? Tentu saja beda orang yang ingin menempuh kebahagiaan sejati (di akhirat), ketimbang mereka yang mengejar-ngejar kesenangan duniawi, yang hanya ilusi dan fatamorgana belaka.
Apakah akan kita biarkan sebatang pohon itu tergeletak, tanpa sempat menanamnya, hanya karena kita mendengar kabar burung bahwa hari esok akan datang kiamat?
Sanggupkah kita berbaik sangka pada Tuhan di tengah pikiran galau dan hidup berkekurangan? Sanggupkah kita konsisten menghibur dan mengajak orang-orang agar berbaik sangka pada Tuhan, di tengah badai prahara dan kekacauan?
Apakah kita akan menjadi manusia yang berpijak di atas rel-rel kebenaran dan keadilan, ataukah sekadar manusia yang “merasa” dirinya sebagai pencipta pembangunan? Bukankah saat ini semakin mudah ditebak, bahwa tidaklah sama orang yang benar-benar berbuat baik, ketimbang orang yang merasa dirinya berbuat baik? (*)
Penulis adalah Pegiat dan Peneliti historical memory Indonesia, juga penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten







