Pejuang Demokrasi Itu Telah Pergi

oleh -5614 Dilihat
banner 468x60

(Mengenang sahabat Hipol Mawar)

Di tengah sorak-sorai demokrasi prosedural yang makin kehilangan ruhnya, kabar duka datang dari Liliba – Kupang. Hipolitus Mawar—pendidik rakyat, penggerak komunitas, pembela hak-hak warga—telah berpulang. Ia pergi diam-diam, seperti biasanya ia hidup: tak mengejar sorotan, tapi penuh makna. Kepergiannya menyisakan lubang dalam, bukan hanya di lingkaran aktivisme dan pemberdayaan masyarakat, tapi juga di hati mereka yang pernah disentuh oleh semangat dan keteladanannya.

Hipol bukan nama besar di panggung nasional. Tapi ia besar di mata mereka yang tahu bahwa perjuangan sejati tidak membutuhkan panggung. Ia tidak hanya bicara soal perubahan, tapi hadir dan bekerja dalam perubahan itu sendiri—dari kampung ke kampung, dari komunitas ke komunitas, dari generasi ke generasi.

Sebagai Direktur Lembaga Advokasi dan Penelitian Timoris (LAP Timoris), Hipol memimpin berbagai program pendidikan politik rakyat. Salah satu warisan pentingnya adalah Sekolah Demokrasi yang ia bangun dan kembangkan di Lembata, Belu, dan Manggarai Barat. Sekolah ini bukan lembaga formal, melainkan ruang belajar bersama—di balai warga, teras rumah, bahkan di bawah pohon. Ia mengajak warga untuk mengenal hak-haknya, memahami anggaran desa, dan berani bersuara.

Bagi Hipol, demokrasi bukan pesta lima tahunan. Demokrasi adalah kesadaran sehari-hari—dalam menyampaikan pendapat, dalam mengawasi anggaran, dalam mengambil bagian dalam keputusan bersama. Ia menanamkan pemahaman bahwa rakyat bukan obyek janji politik, melainkan pemilik sah dari kedaulatan itu sendiri.

Pendidikan politik bagi Hipol bukanlah dogma. Ia lebih seperti petani: sabar menabur benih kesadaran, menyirami dengan diskusi dan refleksi, dan menanti tumbuhnya keberanian dari rakyat sendiri.

Di balik aktivitas advokasinya, Hipol juga adalah kakak pembimbing yang penuh kasih. Ia aktif mendampingi mahasiswa dari berbagai latar belakang organisasi. Di antaranya adalah API Renya—sebuah organisasi pembentukan karakter mahasiswa yang menonjolkan aspek pembinaan iman Katolik yang kritis dan progresif.

Di PMKRI Kupang, (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), ia kerap menjadi mentor yang selalu mengajak berpikir melampaui slogan. Ia tak hanya memberi jawaban, tapi mendorong pertanyaan. Di sela-sela pelatihan atau aksi massa, ia membuka ruang renung bersama tentang ketegangan antara idealisme dan realitas politik, perjuangan agraria dan konsistensi moral, bahkan kesunyian hidup sebagai pejuang yang sering kali ditinggalkan.

Ia juga terlibat aktif dalam membimbing mahasiswa asal Adonara dan Lembata, dua wilayah yang selalu dekat di hatinya. Dalam komunitas-komunitas ini, Hipol tak sekadar menjadi narasumber, tetapi menjadi kakak, pembuka jalan, dan pemantik api perjuangan. Banyak anak muda hari ini yang berdiri tegak karena dulu pernah ditopang oleh tangan Hipol yang sabar dan tak menghakimi.

Hipol memiliki gagasan besar tentang pengelolaan sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan. Bersama para keleganya seperti Ipi Bediona, Fredy Wahon, Pruden Maring, ia menggagas Pertemuan Multi Pihak di Kabupaten Lembata, di mana masyarakat adat, pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha bisa duduk bersama dalam relasi yang setara. Ia percaya bahwa konflik sosial tak bisa diselesaikan hanya dengan regulasi, tapi dengan dengaran yang tulus dan saling menghormati.

Ia punya kemampuan luar biasa menjembatani dunia akademik dan dunia rakyat. Ia bisa berdiskusi dengan Dr. Ignas Kleden soal sosiologi dan filsafat kebudayaan, berdialog dengan Dr. Daniel Sparingga tentang demokrasi dan reformasi, atau berbagi gagasan dengan Prof. Dr. Anita Lie tentang pendidikan kritis. Tapi ia selalu kembali ke kampung, ke petani, ke nelayan, ke rakyat kecil—sebab di sanalah pikirannya berakar dan visinya tumbuh.

Bagi Hipol, pemikiran besar tidak berguna jika tidak bisa dimengerti dan dimanfaatkan oleh rakyat biasa. Ia berjuang menerjemahkan gagasan-gagasan itu ke dalam bahasa tindakan—agar demokrasi tidak hanya menjadi wacana elit, tetapi kenyataan yang membumi.

Salah satu perjuangan yang sangat membekas adalah keterlibatannya di Buraen, tempat di mana warga berjuang mempertahankan tanah leluhur mereka dari perampasan. Hipol tidak datang dengan selebaran atau orasi. Ia datang dengan telinga yang mendengar, hati yang mengerti, dan strategi yang matang.

Ia membantu warga menyusun peta partisipatif, mendampingi audiensi ke DPRD, dan mengurai jalur-jalur hukum. Ia tahu betul bahwa kekuasaan bisa menyakiti, dan bahwa perjuangan bisa mengorbankan nama baik bahkan nyawa. Tapi ia tidak gentar.

Hipol sering berkata: “Jika kita diam, maka ketidakadilan akan menjadi budaya.” Dan karena itu, ia memilih untuk tidak diam. Ia berdiri, berjalan, dan bersuara—meski pelan, meski sendiri.

Hari ini, Hipol telah tiada. Tapi api yang dia nyalakan tak padam. Ia hidup dalam semangat anak-anak muda yang kini berdiri berani menyuarakan keadilan. Ia hidup dalam warga-warga kecil yang kini percaya bahwa suara mereka berharga. Ia hidup dalam setiap percakapan yang jujur tentang kebenaran dan keberpihakan.

Hipol tidak meninggalkan harta, jabatan, atau nama besar. Tapi ia meninggalkan jejak nilai. Ia telah menunjukkan bahwa dalam dunia yang serba instan dan gemar sensasi, kesetiaan pada perjuangan dan integritas pribadi adalah cahaya yang tak bisa dipadamkan.

Selamat Jalan, sahabat Hipolitus Mawar. Engkau telah menyelesaikan perlombaanmu dengan setia. Dalam hidup yang sunyi tapi berdaya, engkau menorehkan makna. Dalam dunia yang terus berisik tapi sering kosong, engkau hadir sebagai suara nurani. Engkau memang tak sempurna, tapi engkau setia. Dan itu cukup bagi kami yang kini meneruskan perjuanganmu.

Selamat jalan, pejuang. Terima kasih atas hidupmu yang telah memberi makna bagi banyak orang.

Oleh: Vitalis Wolo, aktivis sosial, tinggal di Naimata Kota Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.