Jejak para Misionaris SVD, berkenaan dengan perayaan 150 Tahun SVD.
Cornelis Hendricus Vermolen, atau yang lebih akrab disapa Pater Cor, lahir di Breda, Belanda, pada 21 Juli 1917. Ia berasal dari keluarga sederhana, anak dari Hendricus Vermolen dan Huberdina Scheijderberg. Masa kecilnya ditempa dalam suasana kesederhanaan, kerja keras, dan iman yang kokoh—nilai-nilai yang kelak mewarnai seluruh hidup dan pelayanannya.
Pater Cor menempuh pendidikan di Sekolah Guru Santu Fransiskus di Breda. Namun krisis ekonomi 1930-an membuat profesi guru tidak banyak dibutuhkan. Demi membantu keluarganya, ia bekerja serabutan, hingga akhirnya menjadi pelayan di sebuah toko kue. Dari pekerjaan sederhana itu, ia belajar kerendahan hati, ketekunan, dan kesabaran.
Benih panggilan religius tumbuh perlahan. Pada tahun 1939 ia masuk Novisiat Serikat Sabda Allah (SVD), mengikrarkan kaul pertama pada 1941, dan ditahbiskan menjadi imam pada 30 September 1944 di Teteringen, Belanda. Moto imamatnya diambil dari Surat Santo Paulus: Caritas Christi urget me — Kasih Kristus mendorong aku (2 Kor 5:14).
Setelah Perang Dunia II usai, ia diutus ke tanah misi di Indonesia. Pada Januari 1948 ia berlayar dari Belanda, tiba di Flores pada Februari tahun yang sama. Penugasan pertamanya adalah mendirikan dan memimpin SMP Katolik Ndao di Ende, sekolah menengah Katolik pertama di Flores. Dua tahun kemudian, ia dipercaya ikut membangun Seminari Menengah San Dominggo Hokeng di Larantuka, Flores Timur.
Hokeng—sebuah lembah sejuk di kaki Gunung Lewotobi—segera menjadi rumahnya. Di sanalah ia berkarya lebih dari empat dekade (1950–1994), mendampingi ratusan calon imam, guru, dan pemimpin awam, serta menjadi saksi pertumbuhan Gereja Katolik di Nusa Tenggara Timur.
Guru, Perawat dan Pawang Cerita
Sebagai pendidik, Pater Cor dikenal disiplin dan penuh dedikasi. Ia mengajar banyak mata pelajaran: Matematika, Fisika, Kimia, Bahasa Belanda, Bahasa Jerman, hingga Agama. Tetapi ia bukan hanya guru di kelas. Hampir setiap malam ia berubah menjadi perawat: merawat luka, membagi obat, dan menjaga kesehatan para seminaris.
Di luar itu, ia juga dikenal sebagai pawang cerita. Dengan humor dan spontanitas, ia kerap berbagi pengalaman hidup. Ia memainkan harmonika, memutar gramofon, dan menayangkan film untuk menghibur anak-anak seminari. Kehadirannya membuat suasana Hokeng penuh keceriaan dan rasa kekeluargaan.
Pelayanannya melampaui pagar seminari. Ia menjadi bapa pengakuan di biara SSpS Hokeng dan rajin mengunjungi umat di paroki sekitar, dari Hokeng hingga Lewotobi. Dengan sepeda tuanya, ia menempuh jalan berbatu dan gelap malam. Pernah ia pulang dengan senter di mulut karena lampu sepeda padam, atau jatuh dari kuda sepulang dari pelayanan. Semua kisah kecil itu memperlihatkan kesetiaannya sebagai imam yang hadir tanpa pamrih.
Dalam pelayanan baptis, ia mencatat nama anak-anak yang dibaptisnya. Suatu ketika, ketika sebuah keluarga menamai anak mereka “Vermolen”, ia kaget dan berujar: “Bagaimana kamu pakai saya punya nama?. Kalau begitu, Molen saja, Tuan.” Dari situlah namanya dikenang, bukan sebagai orang asing, tetapi sebagai bagian dari keluarga umat Hokeng.
Pada 1994, setelah lebih dari 40 tahun berkarya, ia pensiun dari tugas mengajar. Namun ia tetap dipercaya sebagai pembimbing rohani di seminari. Setahun kemudian, ia merayakan Pesta Emas Imamat—50 tahun persembahan hidup bagi Tuhan dan sesama.
Meski sempat pulang ke Belanda pada 1998, hatinya selalu tertambat pada Flores. Ia kembali dan menjalani masa tuanya di Ledalero, Maumere, bersama para misionaris senior SVD.
Akhir Ziarah Hidup
Kesehatannya melemah sejak 1999. Pada pertengahan 2002 ia sempat dirawat di RS St. Elisabeth Lela. Pada 31 Juli 2002, pukul 23.03, Pater Cor menghembuskan napas terakhir. Flores Pos menurunkan tulisan in memoriam berjudul “Guru Sang Kelana, Itu Berkelana ke Rumah Bapa”, menyebutnya pengembara yang akhirnya pulang ke rumah sejati.
Sesuai permintaannya, jenazahnya dimakamkan di Seminari San Dominggo Hokeng pada 2 Agustus 2002. Ribuan umat mengiringinya dengan doa dan tangis. Misa requiem dipimpin oleh Mgr. Frans Kopong Kung, Uskup Koajutor Larantuka saat itu. Di lembah kecil yang ia cintai, ia beristirahat selamanya.
Lebih dari dua dekade sejak kepergiannya, nama Pater Cor tetap hidup dalam ingatan para imam, alumni seminari, dan umat Hokeng. Ia dikenang sebagai “Bapak di Seminari”—guru, sahabat, dan ayah rohani yang menanamkan nilai kesetiaan, kerja keras, kesederhanaan, dan cinta kasih.
Hidupnya adalah bukti nyata bahwa misi bukanlah soal kemegahan, melainkan kesediaan hadir dan mengabdikan diri bagi orang-orang kecil di tempat terpencil. Suara sepedanya mungkin tak terdengar lagi, tetapi jejak kasihnya akan selalu abadi.
Pater Cor Vermolen, SVD (1917–2002), Guru Sang Kelana di Lembah Hokeng—telah pulang, namun tetap hadir dalam hati mereka yang pernah disentuhnya.
(Disadur dari buku : Indahnya Kaki Mereka (Telusur Jejak Para Misionaris Belanda) karya P. John Dami Mukese, SVD dan Rm. Eduard Jebarus, Pr.)
Oleh: Vitalis Wolo







