Pameran Lukisan Merayakan Masturbasi di Kedai Kopi Virgil Kupang

oleh -700 Dilihat
banner 468x60

Di masa sekarang, membicarakan masturbasi sebenarnya bukan hal yang tabu lagi merupakan hal alamiah yang terjadi pada manusia entah itu laki-laki atau perempuan. Dahulu masturbasi acap kali dianggap sebagai perilaku memalukan sehingga berdampak pada asumsi berbeda dan bagaimana cara memandang masturbasi tersebut. Hal ini tentu juga berdampak pada ruang diskusi yang sengaja diprivatisasi, maka tak heran bila masih banyak dijumpai masyarakat tertentu dengan pemikiran tersebut yang selalu mengaitkannya dengan hukum yang tertentu pula. Hukum yang dimaksud biasanya dikaitkan dengan agama dan budaya.

Bila dikaji dari sisi tumbuh kembang manusia dalam konteks psikoseksual; pengalaman di awal masa kanak-kanak membentuk kepribadian secara permanen (sementara waktu), melalui energi libido atau impuls seksual di berbagai area tubuh zona erogen, ada Sigmund Freud yang membagi perkembangan psikoseksual pada individu menjadi lima fase, yaitu fase oral, anal, falik, laten, dan genital. Fase falik terjadi ketika berusia 3–5 tahun, di mana anak akan penasaran dengan alat kelaminnya, menstimulasinya dengan ringan, dan kadang memegang atau memainkan alat kelaminnya kemudian merasa senang akan alat genitalianya..

Perilaku anak tersebut didasarkan baik pada rasa ingin tahu karena penglihatan pada alat kelaminnya, maupun mulai adanya edukasi seks yang diajarkan terkait jenis kelamin. Keingintahuan dan eksplorasi akan tubuh termasuk alat kelaminnya, tidaklah didasarkan pada hasrat seksual. Hal ini biasa disebut masturbasi anak. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mendampingi anak saat proses tumbuh kembang supaya sadar, mengenal dan menjaga dirinya salah satunya edukasi seks.

Dalam lakunya kini, apakah masturbasi sepenuhnya dipandang negatif? Tentu tidak. Dikatakan negatif apabila dilakukan secara berlebihan. Bahkan sesuatu yang menarik lainnya dari masturbasi ialah pemusatan pemikiran eksploratif dari seseorang untuk mencapai tingkat kenikmatan dalam seksual hanya dengan menggunakan alat genitalia sendiri.

Pemusatan pemikiran eksploratif inilah yang kemudian diadopsi pada ranah lain, memusatkan pemikiran untuk mendapatkan kenikmatan seperti ketika melakukan pengkaryaan untuk menciptakan sebuah karya seni. Seniman akan berkonsentrasi memusatkan pemikiran, memberi keleluasan ruang imajinasi. Di tahap selanjutnya, ialah tahap menikmati proses pengkaryaan tanpa ada gangguan dari manapun yang ada hanya diri sendiri, dengan demikan karya yang lahir berasal dari pemikiran liar dan perasaan yang jujur.

Manyala Alus; sebuah event organizer berbasis di Kota Kupang berfokus pada pelaksanaan kegiatan kesenian, mencoba perlihatkan sudut pandang berbeda dan menarik dari masturbasi dengan menghadirkan Pameran Lukisan Merayakan Masturbasi di Kedai Kopi Virgil Kupang. Karya-karya yang ditampilkan merupakan proses dari ‘masturbasi’ oleh seniman itu sendiri. Manyala Alus membawakan pameran lukisan dengan model instalasi yang unik yaitu ‘Semrawut Yang Terpola’ didesain Angella Petrusz menggambarkan ekosistem seni yang sementara terjadi di Kota Kupang lewat simbol-simbol yang diwakili oleh benang hitam, benang wol merah dan putih, tali acak yang terpaku pada titik-titik ruangan. Selain itu, lukisan-lukisan di media kertas, gardus dan kanvas tanpa bingkai yang dibiarkan bergelantungan dengan balon hitam di bawah atap kedai menambah kesan menarik dan epik, tak lupa lampu pelita sebagai simbol logo dari Manyala Alus.

Pameran Lukisan Merayakan Masturbasi memperlihatkan 10 karya lukisan dari beberapa seniman yang dituang dalam media kanvas dan gambar-gambar di berbagai media lainnya. Instalasi dan Pameran Karya berlangsung sejak 24 Februari 2023 hingga tanggal 10 Maret 2023. Ada juga Lelang Karya Lukisan berlangsung selama 2 hari tanggal 9 sampai 10 Maret 2023. Lelang karya dilakukan secara luring melalui akun media sosial @manyalaalus, dan di acara penutupan tanggal 10 Maret 2023 ada Live Painting dan Live Skecth.

Kedai Kopi Virgil Kupang selain sebagai tempat acara yang mendukung pelaksanaan kegiatan-kegiatan kesenian, juga menjadi rekomendasi kedai kopi yang menyediakan berbagai jenis cita rasa kopi berbeda dari NTT maupun luar NTT. Pengunjung bisa menikmati pameran sambil mencicipi suguhan minuman kopi dan non kopi yang enak serta makanan lainnya sembari berdiskusi dengan barista mengenai proses pengolahan kopi. Kedai Kopi Virgil Kupang merupakan cabang dari Virgil Coffee yang sudah banyak berpartisipasi dalam event-event kopi tingkat lokal, nasional maupun internasional serta telah mendapat banyak penghargaan. Kedai Kopi Virgil Kupang beralamat di Jl. Bintang Gang 3, Liliba, Kota Kupang.

Ikuti instagram @manyalaalus, @avidacegallery dan @virgilcoffee.koe untuk dapatkan informasi terbaru.

Oleh: Adriana Ngailu

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.