Oleh: Gregorius Sahdan
Dalam beberapa tahun terakhir, ruang publik Indonesia dipenuhi kebisingan politik, polarisasi, dan ledakan informasi yang sulit dibedakan antara fakta dan fabrikasi. Di tengah hiruk pikuk itu, muncul sebuah ruang diskursif alternatif yang menawarkan sesuatu yang jarang menghadirkan kejernihan berpikir, ketenangan dan kejujuran yang tidak dibuat-buat.
Ruang itu bernama Akbar Faizal Uncensored (AFU), sebuah kanal dialog kritis yang dipandu langsung oleh Akbar Faizal, seorang mantan politisi, wartawan investigasi, dan sosok yang memadukan ketegasan intelektual dengan kepekaan nurani. Tidak tanggung-tanggung, dalam tempo tidak sampai 5 tahun, AFU sudah di-subcribe oleh 1,71 juta pelanggan.
Tulisan ini menelaah gagasan “Menanam Kebajikan, Menjaga Kewarasan” dalam konteks karya dan pemikiran Akbar Faizal sebagaimana tercermin dalam AFU. Meski tidak selalu dinyatakan secara eksplisit, seluruh rangkaian wawancara, kritik, dan refleksi yang dihadirkan AFU menunjukan pola pikir konsisten: mendorong keberanian moral, membongkar kepura-puraan kekuasaan, dan merawat nalar publik agar tidak tunduk pada manipulasi.
AFU Sebagai Ruang Rehabilitasi Akal Sehat
Akbar Faizal sering menegaskan bahwa masalah terbesar bangsa ini bukan hanya korupsi atau elit yang serakah, tetapi kerusakan cara berpikir—sebuah degradasi kewarasan kolektif. Dalam berbagai episodenya, ia berulang kali mengajak penonton untuk tidak menjadi korban narasi elite, buzzer, maupun propaganda institusional yang sering menyaru sebagai “kebenaran”.
Gagasan menjaga kewarasan bermula dari keyakinannya bahwa masyarakat harus direhabilitasi dari informasi menyesatkan. AFU tidak sekadar mewawancarai tokoh; ia mengajak publik menyaksikan proses berpikir: bagaimana pertanyaan dibangun, bagaimana argumen diuji, dan bagaimana seseorang mempertanggungjawabkan posisinya.
Dalam logika Akbar Faizal, kewarasan bukan hanya persoalan logis, tetapi moral. Orang bisa cerdas, tetapi tidak waras secara etis. Karena itu, AFU menjadi ruang yang mengembalikan kesadaran moral melalui dialog yang lugas, tidak dibuat-buat, dan menolak kepalsuan.
AFU Menjadi Jembatan Elite dan Rakyat
Salah satu pemikiran penting Akbar Faizal adalah bahwa demokrasi hanya berjalan bila masyarakat memahami apa yang dilakukan elite. Namun, selama ini ruang informasi elit sering tertutup, bahkan sengaja dibuat buram. AFU memecahkan keburaman itu. Ia menghadirkan pejabat publik, aktivis, ilmuwan, bahkan aparat hukum untuk membuka dapurnya masing-masing.
Yang menarik, AFU tidak menjadikan mereka sebagai objek promosi, tetapi sebagai subjek yang harus diuji dan dipertanggungjawabkan. Gaya bertanyanya dibangun di atas tiga prinsip: (1) Pengalaman panjang sebagai wartawan investigasi – membuatnya sensitif terhadap rekayasa narasi; (2) Pengalaman sebagai politisi – membuatnya paham betul bagaimana kekuasaan bekerja; (3) Komitmen moral terhadap publik – menjadikan ruang dialognya sebagai sarana kontrol sosial.
Dalam cara berpikir Akbar Faizal, kebajikan tidak bisa ditanam jika publik dibiarkan dalam kegelapan. Transparansi adalah syarat pertama menuju moralitas publik. “Menanam kebajikan” bukan jargon bagi Akbar Faizal. Dalam beberapa kesempatan, ia menyebut bahwa setiap orang yang diberi panggung, akses, dan peluang harus menggunakan fasilitas itu untuk kebaikan yang lebih besar. Bahkan, ketika ia sudah tidak lagi berada dalam jalur politik formal, ia memilih menggunakan modal sosial dan intelektual yang dimiliki untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat.
Konstruksi pemikirannya tentang kebajikan setidaknya dapat dibaca dari tiga sikap: (a). Kejujuran sebagai fondasi. Ia sering mengatakan bahwa yang paling merusak bangsa bukanlah kebohongan individu, melainkan kebohongan yang dilembagakan. Melalui AFU, ia mencoba membangun budaya kejujuran, yakni berbicara apa adanya, tidak berputar-putar, dan tidak berhutang pada sponsor politik; (b). Tanggung jawab terhadap yang lemah. Akbar Faizal membawa perspektif bahwa politik harus berpihak pada mereka yang paling sulit bersuara. Karena itu, AFU sering memberi ruang bagi aktivis agraria, pegiat HAM, dan akademisi yang kritis terhadap ketidakadilan struktural; (c). Keberanian menghadapi tekanan. Karena sifatnya yang “uncensored”, AFU tidak jarang menghadirkan isu sensitif: konflik sumber daya, permainan hukum, oligarki, hingga manipulasi politik. Keberanian ini adalah bagian dari “kebajikan” versi Akbar Faizal—bahwa kebaikan tidak boleh takut pada kekuasaan.
Kewarasan sebagai Proses Mendidik Bangsa
Dalam banyak dialognya, Akbar Faizal menunjukkan satu prinsip: kewarasan harus diajarkan. Publik tidak tiba-tiba cerdas; mereka harus dipandu. AFU mengisi kekosongan itu dengan menghadirkan para pemikir, ahli strategi, ekonom, dan teknolog. Baginya, masyarakat yang cerdas adalah benteng terbaik dari politik busuk. Maka proses “mendidik bangsa” menjadi inti AFU, misalnya; (1) menjelaskan isu hukum dengan bahasa yang mudah; (2) membongkar mekanisme politik tanpa eufemisme; (3) menghadirkan analis yang tidak terikat kepentingan; (4) dan memberi ruang bagi akademisi untuk masuk ke ranah publik.
Dalam pandangan Akbar Faizal, pendidikan politik bukan milik kampus saja; ia harus hadir di mana saja—terutama di ruang hiburan digital yang kini membentuk opini massal. Menarik bahwa AFU dalam membaca Indonesia, menggunakan tiga metode berpikir; kritis, analitis dan reflektif yang dipadukan dengan model komunikasi yang menggugah nurani narasumber. Salah satu kontributor penting AFU terhadap kewarasan publik adalah keberanian membuka tabir kepalsuan. AFU sering menyoroti: (1) logika kebijakan yang tidak sinkron; (2) manipulasi data; (3) keputusan politik yang tidak etis dan; (4) permainan hukum yang menguntungkan kelompok tertentu. Ini selaras dengan pandangannya bahwa kebenaran tidak harus indah, tetapi harus jelas. Justru kejelasan yang sering ditakuti oleh elite. Dengan membongkarnya, AFU membantu publik melihat kenyataan dan bukan sekadar citra.
Melalui AFU, Akbar Faizal juga menciptakan apa yang bisa disebut sebagai ekologi kebajikan: sebuah ekosistem kecil, mandiri, independen, tetapi berdampak luas. Ekologi ini dibangun di atas tiga unsur: (1) Integritas narasumber – hanya mereka yang siap diuji yang hadir; (2) Kebebasan metode – tidak ada skrip, tidak ada sensor, tidak ada patron; (3) Tanggung jawab moral – tidak memanipulasi opini publik dengan kepentingan tertentu. Dalam pemikiran Akbar Faizal, kebajikan akan tumbuh bila ada ruang yang memungkinkan orang jujur tampil tanpa tekanan. AFU menyediakan ruang itu.
Dari Ruang Politik Praktis ke Politik Pengetahuan
Akbar Faizal telah meninggalkan politik praktis, tetapi bukan berarti ia meninggalkan kerja-kerja politik. Ia hanya pindah arena: dari gelanggang perebutan kekuasaan ke gelanggang penguatan nalar publik. Baginya, politik tanpa pengetahuan adalah barbarisme, dan pengetahuan tanpa moralitas adalah bahaya.
AFU adalah perwujudan dari politik pengetahuan ini—politik yang berangkat dari empati, keberanian, intelektualitas, dan keterbukaan. Melalui kanal AFU, ia berusaha menanam kembali kesadaran bahwa bangsa harus dipandu oleh orang-orang yang berani berpikir dan berani jujur. AFU juga sebagaimana dikatakan oleh James Ferguson (1990) mendidik masyarakat melek politik dan memastikan ada arena bagi perjuangan rakyat yang disingkirkan oleh pemerintah melalui kebijakan “anti politik”, suatu kebijakan yang menghadirkan logika elite ketimbang suara rakyat.
AFU Menanam Kebajikan Menjaga Kewarasan
Pada akhirnya, Akbar Faizal melalui AFU menghadirkan sesuatu yang hilang dari ruang publik Indonesia: ketulusan untuk mencerdaskan. Ia tidak sedang mencari panggung, tetapi menciptakan panggung bagi pikiran waras dan keberanian moral.
“Menanam kebajikan” bukan proyek besar yang abstrak, tetapi kerja kecil yang dilakukan konsisten—bertanya dengan jujur, membuka ruang dialog sehat, menghadirkan fakta tanpa tedeng aling-aling, dan memulihkan daya kritis masyarakat.
Di tengah era disinformasi, polarisasi, serta normalisasi ketidakwarasan politik, AFU menjadi pengingat bahwa bangsa ini masih memiliki ruang untuk menata ulang akal sehatnya. Melalui pemikiran dan keberanian Akbar Faizal sendiri, AFU menjelma menjadi gerakan kecil yang mengalirkan kewarasan, satu episode demi satu episode. AFU dengan tegas membuka kedok kekuasaan yang selalu bersembunyi di balik kepentingan sempit, untuk keluar bersenandung bersama rakyat, dipaksa menanam kebajikan dan memelihara kewarasan.***
Penulis adalah Doktor Ilmu Sosial Politik, penulis buku-buku bermutu untuk masalah politik, pemerintahan dan demokrasi. Tulisan ini merupakan bagian dari seri kajian pemikiran untuk Indonesia masa depan. Ketua Prodi Ilmu Pemerintahan STPMD “APMD” Yogyakarta, Dirktur The Indonsian Power for Dmocracy (IPD)







